Jakarta MEMANG Butuh Revolusi Budaya
Jakarta MEMANG butuh revolusi budaya. Saya tertarik bergabung ajakan Kang Tasa dan anak-anak muda di Washington DC ini karena misi dan visi organisasi yang 110% kebetulan klop dengan cita-cita yang selama ini saya dambakan, meski umur sudah tidak 19-25 tahun lagi. Satu dekade lalu, ketika krisis ekonomi menghantam negeri kita, yang kelimpungan ternyata bukan hanya ekonomi, tetapi juga politik, sosial, budaya dan seluruh aspek kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Kita tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah, mana yang tepat mana yang tidak tepat. Bangsa Indonesia seperti abis kena diare berkepanjangan, lalu dehidrasi dan pikirannya banyak yang terganggu. Tidak kurang kita saksikan berbagai konflik terjadi karena hal yang sangat sepele. Sisi positifnya ada juga, masyarakat menikmati banyak sekali acara dagelan yang ditampilkan oleh para politikus, pengamat, pejabat pemerintah, dan public figure lainnya, di berbagai media massa.
Ketika itu, saya membantu WANGO (World Association of NGO) menyelenggarakan workshop nasional mengenai “universal values” yaitu nilai-nilai luhur yang dianut oleh berbagai kelompok masyarakat di dunia dengan latar belakang ras, agama, nasionalisme, atau bahasa yang berbeda. Contohnya, nilai luhur semangat kepahlawanan — seluruh lapisan masyarakat dunia menjunjung tinggi nilai itu. Workshop dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat Indonesia yang mewakili organisasi keagamaan, masyarakat, budaya, politik, dan komunitas pendidik. Melalui diskusi dan presentasi, para toma dan toga menyatakan kekhawatirannya akan keadaan yang sedang terjadi yang akan menggerus nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.
Apa itu nilai-nilai luhur bangsa Indonesia? Jawabannya ada di kepala setiap orang. Baca Terus!
Kemiskinan dan Permukiman Kumuh di Perkotaan
Kita semua menyadari bahwa kemiskinan merupakan salah satu masalah sosial di Indonesia yang tidak mudah untuk diatasi. Beragam upaya dan program dilakukan untuk mengatasinya tetapi masih banyak kita temui permukiman masyarakat miskin hampir setiap sudut kota. Keluhan yang paling sering disampaikan mengenai permukiman masyarakat miskin tersebut adalah rendahnya kualitas lingkungan yang dianggap sebagai bagian kota yang mesti disingkirkan.
Tulisan ini mencoba untuk memberikan penjelasan tentang upaya untuk mengatasi kemiskinan di perkotaan sekaligus pula untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman masyarakat miskin.
Peremajaan Kota
Pendekatan konvensional yang paling populer adalah menggusur permukiman kumuh dan kemudian diganti oleh kegiatan perkotaan lainnya yang dianggap lebih bermartabat. Cara seperti ini yang sering disebut pula sebagai peremajaan kota bukanlah cara yang berkelanjutan untuk menghilangkan kemiskinan dari perkotaan.
Kemiskinan dan kualitas lingkungan yang rendah adalah hal yang mesti dihilangkan tetapi tidak dengan menggusur masyarakat telah bermukim lama di lokasi tersebut. Menggusur adalah hanya sekedar memindahkan kemiskinan dari lokasi lama ke lokasi baru dan kemiskinan tidak berkurang. Bagi orang yang tergusur malahan penggusuran ini akan semakin menyulitkan kehidupan mereka karena mereka mesti beradaptasi dengan lokasi permukimannya yang baru. Baca Terus!
Pengembangan Perbukuan
Krisis perbukuan seperti yang terjadi di tanah air hampir tidak pernah terdengar di persekolahan Amerika. Siswa-siswa sangat dimanjakan oleh sistem perbukuan Amerika. Buku-buku teks, buku pendukung, buku pengayaan, dan referensi, semuanya tersedia di perpustakaan sekolah. Setiap siswa mendapat pinjaman buku teks untuk setiap mata pelajaran. Siswa juga dapat meminjam buku apa saja sesuai dengan minatnya, melalui perpustakaan sekolah, perpustakaan masyarakat, atau fasilitas peminjaman antar perpustakaan. Setiap siswa diharapkan memelihara buku teks dengan baik. Setelah naik kelas, buku teks dikembalikan ke sekolah untuk digunakan kembali oleh adik kelasnya. Begitulah seterusnya. Sekolah, distrik, atau negara bagian baru akan memperbaharui dan mengganti buku teks di sekolah setiap enam tahun sekali.
Musim pengadaan buku teks dimulai pada bulan April. Ada dua proses pengadaan buku teks di AS; adopsi formal buku teks dan pasar bebas. Yang diincar oleh penerbit adalah proses adopsi formal buku teks yang berlaku di 22 negara bagian, terutama Texas, California, dan Florida. Di kelompok negara bagian ini, buku teks yang akan digunakan oleh sekolah terlebih dahulu diuji kualitasnya oleh tim evaluasi yang dibentuk oleh pemerintah negara bagian. Hanya buku-buku yang telah lulus evaluasi yang akhirnya akan dibeli oleh pemerintah negara bagian. ”The Big Three” negara bagian Texas, California, dan Florida senantiasa selalu menjadi perhatian utama para penerbit. Ke tiga negara bagian ini mempunyai populasi siswa SD-SMA sekitar 13 juta, sedang 19 negara bagian lainnya hanya 12,7 juta siswa. Meskipun jumlah siswa di ketiga negara bagian ini berbeda-beda; California lebih dari 6 juta siswa, Texas lebih 4 juta siswa, dan Florida sekitar 3 juta siswa, tetapi anggaran pengadaan buku teks mereka hampir sama. Pada tahun anggaran 2003/04, sebagai contoh, ke tiga negara bagian ini membelanjakan $900 juta untuk bahan instruksional termasuk buku teks. Meski unit cost berbeda untuk pembelian barang yang hampir sama, masyarakat tidak ribut karena lelang dilaksanakan secara fair, kompetitif, dan terbuka, dan dilaksanakan oleh sebuah unit khusus pengadaan yang sangat profesional. Baca Terus!
Education for Everyone
For many of us, June and July were the most favorite months during our childhood. It was when we had a long holiday. Some of you went to your grandparents’ house, went abroad or out of town, joined a short course, or just stayed at home and enjoyed the holiday. We had so much pleasure buying new books, uniforms, shoes, bags, and other school needs to start another new education year.
That is a sweet memory we never forget. At that time, we did not know and never thought how much money that our parents spent for our school fees and other things we needed for school. As time goes by, we can now see the reality of life which is not always as easy as our childhood.
A period of education year has ended and the new education year will start soon. Ideally, this is the chance for all people to improve their knowledge. However, das sein and das sollen not identical for all times. In fact, many people could not have the benefit of this. Until now, a big number of Indonesian citizens are uneducated not only in remote areas but also in big cities like Jakarta and Bandung.
In 2003, 6.025.940 people in Central Java, more than 20 percent of total population, did not finish their primary school. In Banjar, Ciamis, West Java, in the year 2004, more than 50 percent only finished their primary school. This is the truth that we can’t deny and should be our concern.
There are a lot of reasons behind this problem. High cost of education becomes the main reason. Nowadays, there are programs of free school in some areas in Indonesia. In West Jakarta, a primary school already has this program. Some schools in Surabaya and other areas in Indonesia also have this program. Unfortunately, that’s not enough to fulfill the needs of education for all Indonesian citizens. Read the Full Article!
It’s Time To Be Green
Thanks to Al Gore and other environmentalists the concern of global warming is rapidly growing throughout the world, mostly in the West. In America, for example, people talk this issue every day. At bookstores people are reading books and magazines giving them instructions how to be green and be part of a global movement to save the earth.
As a response to public awareness, industries are helping their customers to become greener and greener. Supermarkets are stocking their shelves with organic and eco-friendly products. Whole Foods Market, the world’s leading retailer of natural and organic food, is growing fast by giving its customers a promise that the food they buy will help saving the earth.
Despite the fact that U.S. government is still unwilling to sign the Kyoto Protocol, every day new organic products are filling supermarkets’ stock lists in America. Now they have organic apple, organic bread, organic burgers, organic lipstick, and a bunch of other organic products.
Someone once told me that organic chicken tastes better than the regular chicken. I got confused and complained, “How could that be?” She explained that an organic chicken is fed only with organic grains, never given any antibiotics and hormones, and raised in a stress-free environment. Now I know that a happy chicken tastes better. I later added, “We have that kind of chicken in our country too, it’s called ayam kampung.” Keep Reading and Let’s Save the Earth!
Standardisasi dan Sertifikasi Guru
“A Nation Prepared: Teachers for the 21st Century”
Setelah Laporan the President’s Commission on Excellence in Education, “A Nation At Risk: The Imperative for Education Reform” pada tahun 1983, gelombang reformasi pendidikan di AS terus bergulir. The Carnegie Task Force on Teaching as a Profession menerbitkan laporan “A Nation Prepared: Teachers for the 21st Century” pada 6 Mei, 1986. Intinya, laporan itu menekankan bahwa menghadapi abad mendatang perlu dikembangkan sebuah profesi yang bertanggungjawab merancang ulang sekolah dan mempersiapkan anak-anak untuk kehidupan yang akan datang. Task Force mengusulkan segera dikembangkan standardisasi dan sertifikasi profesi guru dan dibentuknya National Board for Professional Teaching Standards (NBPTS). Dengan dukungan penuh dari semua pihak, NBPTS akhirnya terbentuk pada tahun 1987.
NBPTS bukan organisasi pemerintah, bersifat non-profit, independen, nonpartisan, dan dikelola oleh dewan direktur yang berasal dari praktisi. Mayoritas yang duduk dalam dewan direktur adalah guru kelas. Misi NBPTS antara lain memelihara standar tinggi dan rigor tentang apa yang harus diketahui dan apa yang dapat dilakukan oleh guru, menawarkan sistem sertifikasi secara sukarela kepada guru yang memenuhi standar profesi, dan mengadvokasi reformasi pendidikan dengan mengintegrasikan National Board Certificate (NBC) dalam sistem pendidikan Amerika, serta mengoptimalkan peran guru yang telah mendapat sertifikat profesi.
Implementasi sertifikasi baru dimulai pada tahun 1992. Untuk pertama kali NBPTS menawarkan jasa sertifikasi hanya untuk dua bidang keahlian. Sejak saat itu, sistem sertifikasi NBC terus berkembang, melayani sekitar 2,5 juta orang guru, 14.000 school districts, ribuan sekolah swasta, 50 negara bagian dan 1.200 fakultas pendidikan. NBC dikembangkan oleh guru, dari guru, dan untuk guru sebagai simbol profesionalisme mengajar. Ditawarkan secara sukarela, dan berlaku selama 10 tahun. NBC merupakan komplemen, bukan menggantikan, lisensi mengajar yang dikeluarkan oleh negara bagian. NBC merupakan lanjutan dari lisensi dan sertifikasi negara bagian. Lisensi negara bagian, kabupaten (school district), atau yang dikembangkan pada tingkat sekolah pada intinya merupakan persyaratan minimal menjadi seorang guru.
Dalam lima tahun pertama, NBPTS konsentrasi pada riset untuk meletakkan dasar-dasar pengembangan standar profesi guru. Dasar pengembangan standar profesi guru adalah; ”Apa yang harus diketahui dan harus dapat dilakukan oleh guru?” Dari pertanyaan dasar itu dirumuskan lima proposisi. Dari lima proposisi di bawah ini lalu dikembangkan berbagai standar profesi guru untuk berbagai kelompok umur siswa dan berbagai disiplin ilmu. Baca Terus
Pedagang Kakilima Dan Informalitas Perkotaan
Seringkali kita jumpai masalah-masalah yang terkait dengan pedagang kakilima (PKL) di perkotaan Indonesia. Mereka berjualan di trotoar jalan, di taman-taman kota, di jembatan penyebrangan, bahkan di badan jalan. Pemerintah kota berulangkali menertibkan mereka yang ditengarai menjadi penyebab kemacetan lalu lintas ataupun merusak keindahan kota. Upaya penertiban ini kadangkala melalui bentrokan dan perlawanan fisik dari PKL. Bersama dengan komponen masyarakat lainnya, tidak jarang para PKL pun melakukan unjuk rasa. Pemerintah pun dihujatnya dan masalah PKL ini disebutkan sebagai bentuk kegagalan pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja untuk kaum miskin.
Benarkah fenomena PKL ini sebagai wujud kurangnya lapangan kerja bagi penduduk miskin? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya akan kemukakan konsep informalitas perkotaan (urban informality) sebagai kerangka pikir untuk memahami fenomena PKL yang terjadi di kawasan perkotaan.
Informalitas Perkotaan
Konsep informalitas perkotaan ini tidak terlepas dari dikotomi sektor formal dan sektor informal yang mulai dibicarakan pada awal tahun 1970-an. Fenomena sektor informal merupakan fenomena yang sangat umum terjadi di negara-negara berkembang. Persentase sektor informal di negara-negara Dunia Ketiga seperti di Amerika Latin, Sub-sahara Afrika, Timur Tengah dan Afrika Utara dan Asia Selatan berkisar antara 30-70 persen dari total tenaga kerja. Di Indonesia, menurut data Indikator Ketenagakerjaan dari Badan Pusat Statistik (BPS), November 2003, 64,4 persen penduduk bekerja di sektor informal. Di pedesaan, sektor informal didominasi oleh sektor pertanian (80,6 persen), sementara di perkotaan didominasi oleh sektor perdagangan (41,4 persen). Baca Terus
Mengacu Pada Washington
Artikel ini dimuat oleh Koran Tempo pada Sabtu, 22 Maret, 2008 dan ditulis oleh Muhammad Nur Rochmi.
Mengadopsi dari luar negeri. Itulah yang dilakukan Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) dalam kegiatannya. Program Berburu (Berbudaya Itu Seru), misalnya, digarap dengan merujuk pada budaya masyarakat Washington, DC, Amerika Serikat. “Yang baik saja yang kami ambil,” kata Rusdi Indradewa, Ketua JBRB.
Dalam program Berburu, anak-anak bimbingan komunitas diajak antre dan membuang sampah pada tempatnya. Gerakan seperti ini juga dilakukan sebagian warga Washington, DC.
Di ibu kota Amerika Serikat itu, kata Tasa Nugraza Barley, salah seorang penggagas JBRB, setiap taman tampak begitu bersih. “Padahal petugas kebersihan sangat minim,” tulisnya dalam surat elektronik kepada Tempo. Warga di sana, dia menambahkan, tidak akan membuang sampah seenaknya. Jika tidak menemukan tempat sampah, mereka akan membuangnya di rumah.
Warga di Washington, kata Tasa, juga tertib dan rela antre. Suatu saat, pada 2006, Tasa menumpang bus ke luar kota. Sesampai di kota tujuan, rupanya tidak tersedia halte khusus bus. Bus hanya akan berhenti di pinggir trotoar. Hebatnya, calon-calon penumpang otomatis membentuk baris antrean. Padahal tidak ada petugas bus yang memberikan instruksi.
Coba bandingkan dengan kondisi di Jakarta. “Alamak,” kata Tasa, “Bikin antrean tanpa bantuan petugas jelas sangat sulit terjadi.”
Ayo, Jakarta Butuh Revolusi Budaya
Artikel ini dimuat oleh Koran Tempo pada Sabtu, 22 Maret, 2008 dan ditulis oleh Muhammad Nur Rochmi.
Sudah enam bulan terakhir Arief Prasetyo menekuni bahasa Inggris. Dia, yang sebelumnya cuma paham thank you dan hello, kini telah menguasai sejumlah kata dalam bahasa asing itu. Si buyung 7 tahun itu sekarang fasih melantunkan lagu Brother John. “Saya suka belajar bahasa Inggris,” ujar siswa kelas II Sekolah Dasar Negeri Selong 01, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu.
Bersama puluhan teman sekolahnya, Arief menggeluti bahasa Inggris setiap akhir pekan. Mereka dibimbing sekelompok anak muda dari komunitas Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB), sebuah perkumpulan yang lahir karena keprihatinan atas kondisi Jakarta yang centang-perenang.
Komunitas ini bermula dari More Power Indonesia. Ini kelompok anak kampus dari berbagai daerah yang bertujuan saling menganjurkan kebiasaan positif, seperti tertib lalu lintas dan membuang sampah pada tempatnya. Namun, perkumpulan yang didirikan pada 2005 itu kurang berkembang. Hingga dua tahun setelah kelahirannya, kebiasaan positif yang mereka dengungkan tak bisa memberi pengaruh terhadap lingkungan sekitar. “Kami membaik, tapi lingkungan sekitar tak berubah,” kata Rusdi Indradewa, Ketua JBRB.
Pada 30 Juni 2007 mereka memutuskan mengubah More Power Indonesia menjadi Jakarta Butuh Revolusi Budaya. Tujuannya, memberikan kontribusi positif kepada lingkungan sekitar. “Prinsipnya, mulai dari kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang,” kata Rusdi. Baca Terus!
Berburu Menuju 100 Sekolah

Pada tanggal 30 Juni 2008 nanti usia Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) akan genap setahun. Sebagai sebuah organisasi JBRB masih balita. Kalau untuk ukuran manusia, usia satu tahun belum ada apa-apanya. Ia masih merangkak dan selalu menangis. Begitu pula JBRB, masih muda dan belum banyak pengalaman. Tapi bukan berarti JBRB tidak boleh dan tidak bisa bermimpi.
Mimpi itu milik siapa saja.
Bagi sebagian orang mimpi itu lebih dari sekedar sebuah kata. Mimpi bagi mereka bukan saja sebuah nasehat dari orang tua tentang kehidupan. Mimpi bagi mereka adalah sebuah way of life atau jalan hidup. Bagi mereka mimpi itu bagaikan darah yang mengalir di sekujur tubuh dan membasahi setiap urat nadi. Mimpi adalah apa yang mereka pikirkan setiap detik dan setiap menit. Mimpi adalah nyawa.
Setelah berhasil menancapkan eksistensinya, JBRB akan mengejar mimpi-mimpi yang lebih besar di masa depan. Apabila di tahun pertama JBRB bermimpi untuk dapat diterima dengan baik oleh publik di Jakarta maka di tahun kedua nanti JBRB bermimpi untuk menggebrak publik Jakarta dengan dua kata: REVOLUSI BUDAYA!
Mimpi terjadinya sebuah Revolusi Budaya akan direalisasikan melalui program Berbudaya Itu Seru (Berburu) di 100 sekolah dasar di Jakarta dalam tiga tahun ke depan. Bukan satu, bukan dua, dan bukan juga tiga. Tapi 100 (SERATUS) sekolah.
Apabila generasi tua sudah lambat dan mulai keropos maka sudah saatnya generasi muda mengambil alih. Sudah saatnya yang muda dan yang bersemangat mengambil alih dan membentangkan layar selebar-lebarnya. Sudah saatnya kita berdiri tegak dan menatap ke depan! Mari kita melakukannya bukan melalui darah dan pemberontakan tapi melalui REVOLUSI BUDAYA.
JBRB akan menghitung mundur mulai hari ini hingga 30 Juni 2008: Mimpi menjalankan Berburu di 100 sekolah secara resmi berlaku. Sudah saatnya kita berhenti memaki dan mulai bermimpi!
Salam REVOLUSI BUDAYA,
Jakarta Butuh Revolusi Budaya
Team Washington, D.C.-Team Jakarta-Team Sydney
revolusibudaya@gmail.com
www.JakartaButuhRevolusiBudaya.com



