Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Icon

Bukan Sekedar Advokasi, Kami Berkontribusi

Revolusi Budaya adalah Jawabnya!

Bingung, malas, tidak antusias, capek, jalanan macet, banjir, kemiskinan, rumah kumuh, kriminalitas, dan prostitusi. Inilah sebagian kecil dari jawaban warga Jakarta jika berbincang mengenai kota Jakarta. Apakah sedemikian parahnya wajah kota ini? Mengapa ini bisa terjadi? Jakarta oh Jakarta.

Sebuah ironi bukan? Ketika sebuah ibukota negara harus mengalami kondisi morat-marit seperti ini. Apa yang salah?

Kota Jakarta merupakan kota dengan penduduk yang sangat padat dengan berbagai macam kebudayaan yang dibawa oleh warga pendatang. Kondisi ini membuat Jakarta sarat dengan kebudayaan yang bermacam-macam. Akan tetapi secara garis besar terdapat dua macam jenis budaya dalam perilaku warga Jakarta.

Yang pertama adalah budaya kota. Budaya kota sangat kental dengan sifat individualis, materialisme, kekuatan intelektual, dan kecepatan kerja. Sementara yang kedua adalah budaya desa yang sangat menonjolkan tenggang rasa, kebersamaan tanpa mempedulikan kecerdasan intelektual, maupun kecepatan bekerja. Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan kedua budaya tersebut masing-masing mempunyai nilai positif dan negatif.

Akan tetapi yang menjadi masalah adalah ketika orang-orang dengan budaya desa mencoba melakukan aktualisasi diri di kota tanpa dibarengi dengan perubahan budaya. Mereka mencoba hidup di kota dengan mempertahankan budaya desa yang akhirnya menciptakan sebuah ambiguitas dalam kehidupan bermasyarakat. Orang-orang inilah yang biasa kita sebut “kampungan.”

Orang-orang kampungan ini mencoba mengikuti pergerakan kota tanpa dibarengi kecerdasan intelektual ataupun kecepatan kerja dan parahnya sering kali mereka tidak lagi memegang budaya desa yaitu tenggang rasa dan sopan-santun. Mereka seperti kehilangan jati diri dalam membaur ke dalam lingkungan kota yang memang identik dengan kecerdasan, jaringan (network), dan uang.

Golongan ini merusak tatanan kehidupan yang baik. Mereka tidak mau berkompromi terhadap kecerdasan intelektual ataupun kerja keras serta mereka pun tidak mengedepankan tenggang rasa dan sopan santun lagi. Yang ada di pikiran mereka bagaimana mereka bisa memperoleh yang mereka inginkan. Hak-hak orang lain dirampok tanpa ada perasaan bersalah, melanggar aturan dianggap biasa, melakukan kriminalitas bahkan menjadi hal yang lumrah. Budaya seperti begitu mendarah daging dalam masyarakat kota Jakarta: pelajar, mahasiswa, pegawai pemerintahan, aparat keamanan, pengusaha, supir angkutan, PRT, PKL, dll.

Satu-satunya jalan keluar untuk menuju Jakarta yang lebih baik adalah melakukan revolusi budaya. Mengkombinasikan sisi-sisi positif dari budaya kota dan budaya desa dan melapisinya dengan nilai-nilai spriritual. Mencoba mencetak generasi yang mempunyai kecerdasan intelektual, kecepatan kerja, mempuanyai nilai tenggang rasa, sopan-santun, dan memiliki pengetahuan agama yang baik. Karena generasi emas seperti inilah yang akan mampu membuat Jakarta mempunyai keunggulan komparatif dengan kota-kota lainnya.

Dengan semakin terjepitnya Jakarta oleh pengaruh globalisasi, perbedaan antara orang-orang yang berada di kasta “they have” akan semakin melebar dibandingkan dengan orang-orang yang berada di kasta “they don’t have.” Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin jatuh di dalam lubang kemiskinan: sebuah kondisi yang saat ini pun sudah bisa dirasakan.

Jawabannya adalah revolusi budaya. Revolusi budaya bukan suatu jalan untuk menciptakan kemenangan atau kejayaan untuk golongan tertentu akan tetapi revolusi budaya lebih dimaksudkan sebagai upaya untuk menyadarkan warga kota Jakarta untuk hidup lebih baik.

I see skies of blue and red roses too I see them bloom for me and you. And I think to myself what a wonderful world.”

Kebahagian hanya akan tercipta apabila manusia sadar, paham, dan bersyukur atas anugerah yang diberikan oleh Tuhan.

Filed under: Moral dan Budaya, Pemikiran

8 Responses

  1. Riska says:

    Setuju. Jakarta memang butuh revolusi budaya. Kalau tidak Jakarta tidak akan pernah bisa mengejar ketertinggalan dengan kota2 besar dunia seperti Tokyo, Paris, atau bahkan Kuala Lumpur.

  2. Sepakat dengan kebutuhan sebuah revolusi budaya untuk merubah basic structure tatanan masyarakat.

  3. yonna says:

    iya -iya bener….nambahin dikit deh….

    revolusi budaya –according to me– berarti diawali dengan revolusi diri sendiri….lagi-lagi kembali ke diri sendiri, klise ah. iya kan jakarta begitu itu karena warganya, kalo warganya memulai revolusi di diri sendiri dulu trus ada 5 juta orang yang melakukan itu, minimal ada perbaikan sedikit dari budaya jakarta kan?!

    kalo gitu saya kudu merevolusi diri sendiri dong…hehe :mrgreen:

  4. Rusi Hakim says:

    GIMANA MO REVOLUSI BUDAYA WONG RAKYAT NYA SIBUK KORUPSI SANA-SINI!!!

  5. yunan ari says:

    gimana mau benerin jakarta!!! kalo kite sendiriny aja belum bener.
    semua itu kembali kepada diri kite sendiri.. yang pertama si benerin dulu deh warganye biar pade nyadar dfiri gito. kan kalo udah pada sadar,, jadi gampang lagi kan buat menertibkan negara ini.
    kan kalo udah tertib jadi enak tuh… tinggal kita kerjasama aja untuk membangun negara ini menjadi negara maju. oke
    SEMANGAT!!!!!1

  6. guebukanmonyet says:

    Setuju, jadi intinya kembalikan pada diri kita masing-masing yah. Sukses.

  7. yonna says:

    wah lagi-lagi ujung diskusi kembali kepada diri sendiri….well berarti peran dari diri kita penting untuk menentukan suatu perubahan besar….dimanapun perubahan tsb diharapkan terwujud.

    i, you, he, she, they, we sama-sama punya peran penting bagi proses perubahan menuju kebaikan dan kebenaran.

    hidup diri kita masing-masing :mrgreen:

  8. “Sepakat dengan kebutuhan sebuah revolusi budaya untuk merubah basic structure tatanan masyarakat.”

    setuju..

    saya minta izin buat publikasi ulang artikel ini di blog saya…

    jakarta butuh perubahan….

Leave a Reply