Robohkan Mall Itu!
Robohkan setiap mall di Jakarta. Hancurkan dan luluhlantahkan. Mall adalah simbol betapa sombongnya kaum kaya terhadap kaum miskin yang tertindas dan terlindas. Mall memenuhi tiap sudut kota ini dengan beton dan semen. Mall adalah salah satu alasan mengapa banjir selalu menghantui Jakarta tiap kali hujan mengguyur. Mall membuat masyarakat Jakarta menjadi sebuah komunitas yang konsumtif dan westernized.
Bangun taman-taman kota yang ramah lingkungan yang bisa mengajarkan anak cucu kita betapa indahnya karunia alam yang Tuhan telah berikan. Bangun taman-taman kota dimana kita bisa menghirup udara bersih dan merasakan sejuknya angin di sore hari.
Robohkan dan hancurkan mall-mall di Jakarta.




Ha ha ha tidak perlu sekeras itu merobohkan mall bung. Kenapa tidak hancurkan saja gedung2 tinggi sekalian yang menggambarkan sosok kapitalisme.
Solusi praktis dan efektif, daripada capek2 merobohkan mall, secara orang Jakarta memiliki kehidupan dengan tingkat stress yang tinggi. Mending tingkatkan budaya untuk meramaikan tempat ibadah. Solusi yang lebih membangun.
Kalau kita tidak bisa menghancurkan kebatilan, maka lawanlah dengan kebaikan. Maka kebatilan itu akan ditinggalkan dengan sendirinya.
Ketika masyarakat telah sadar akan nilai2 dalam ibadah dan kehidupan, maka budaya2 negatif dalam mall itu sendiri akan berangsur perlahan pudar koq.
Mall juga not so bad, daripada kita uring2an sendiri melihat pasar tradisional yang terkesan kumuh, becek, dll. Dikarenakan warganya tidak peduli terhadapa fasilitas umum, tidak ada salahnya ’sekali-kali’ menghela nafas sejenak jalan-jalan di mall.
blog ini membuat aku kembali merindukan kampung halaman ku yang aku tuangkan dalam blogku di SINI
Terima kasih atas komentar Deniar dan co-that.
Judul “Robohkan Mall Itu” bukan berarti mengajak pembaca untuk merobohkan setiap mall di Jakarta. Judul tersebut sengaja ditulis secara provokatif untuk menyadarkan pembaca bahwa jumlah mall di Jakarta sudah lebih dari cukup.
“Robohkan Mall Itu” sebenarnya berarti kurangi jumlah mall di Jakarta dan tutup mall-mall yang menyalahi aturan tata ruang kota Jakarta seperti mall-mall di wilayah Senayan yang seharusnya menjadi wilayah hijau.
Becek dan kumuhnya pasar-pasar tradisional tidak bisa dijadikan alasan bagi kaum kaya untuk terus membuat mall di Jakarta agar bisa menghirup segarnya udara AC. Memang benar kaum miskin tidak perduli dengan fasilitas publik karena mereka tidak perpendidikan dan harus menghadapi kehidupan yang begitu keras tapi itu adalah tugas dari Pemda untuk mendidik mereka agar lebih berbudaya.
Saya setuju dengan ide Anda bahwa kebatilan harus dilawan dengan kebaikan namun meramaikan tempat ibadah saja tidak cukup karena kenyataannya tempat-tempat ibadah sudah cukup ramai. Setiap hari Jumat semua mesjid penuh sesak akan orang-orang yang ingin beribadah namun toh kondisi bangsa ini masih carut marut. Kebanyakan umat terlalu terfokus pada simbol-simbol agama dan justru lupa untuk mempelajari serta mempraktekkan esensi dari ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari yang sebenarnya jauh lebih penting.
Salam.
Tiap jumat ke tempat ibadah karena dorongan hati, apa karena malu diliatin orang kalo gak jumatan? he he he…. Menurut agama yang gw anut (islam), fungsi masjid tidaklah hanya sebagai tempat ibadah. Tetapi bisa dijadikan sebagai pusat aktivitas. Yang gak boleh di masjid kan cuman berdagang. Itu pun berdagan di sekitarnya diperbolehkan. Rasulullah aja menyusun strategi perang dan bermajelis di masjid.
Sekarang temen2 alumni ESQ jawa barat memulai membudayakan masjid sebagai pusat aktivitas, mau kumpul, rapat silakan aja di masjid. Justru jadi lebih adem. Jadi fungsi masjid gak cuman sebagai tempat sholat aja. Masyarakat sudah salah kaprah, nah inilah salah satu penyebab tersekatnya kehidupan rohani dan aktivitas keseharian seperti yang diutarakan bung tahsya.
Masalah konsep pasar bersih dan rapih, coba liat di negara2 seperti Jepang dan Korea, pasar mereka sudah bersih. Di Indonesia sepertinya udah ada koq, waktu itu baca di buku Rhenald Kasali RE-CODE. Aku lupa pasar daerah mana, tapi bisa jadi referensi nih. Semoga bisa memberikan kita inspirasi lebih. Amien….
ironis sekali yah.. di Jakarta banyak sekali mall, gedung dan apartemen mewah yang berdiri, tapi dibelakangnya ada perkampungan kumuh… sudah semestinya Pemda Jakarta peka terhadap masalah seperti ini…
Pertama-tama terima kasih bwat sobat-sobat perjuangan yang telah memberikan komennya,.
Saya sangat setuju sama Tasa klo ternyata banyak sekali tempat ibadah yang belum bisa menciptakan seorang manusia yang baik, tempat ibadah hanya dipandang secara simbolis keagamaan tanpa dipahami tujuan dan hakikatnya, Mengapa? karena patokannya hanya shalat Jum’at andaikan patokannya adalah Shalat Subuh maka kita mengerti mengapa manusia Indonesia bisa begini..coba anda hitung jamaah dalam shalat subuh dan anda perbandingkan dengan jumlah Masjid yang ada, saya yakin anda akan mengerti!
Memang saya bukanlah seorang yang religius , masih terlalu banyak setan dalam darah saya.. Tetapi saya percaya untuk menjadi hamba Tuhan yang baik banyak sekali cobaan dan rintangan yang harus dihadapi..tetapi itu semua bukanlah alasan untuk tidak kembali dan mempertahankan nilai-nilai ilahiah dalam diri..saya sangat percaya dan yakin kalau tidak ada manusia yang luput dari dosa dan kesalahan tetapi bukanlah sebuah perbuatan yang baik jika kita hanya berdiam diri dan tidak bertobat, semoga Allah selalu memberikan rahmat dan ampunanNya kepada kita.
Kemudian mengenai mal-mal yang ada, mengambil kesimpulan dan komen dari teman2… saya berpendapat kehadiran mal seharusnya dapat memberikan “penyegaran” dalam kondisi Jakarta yang seperti ini, bukan mengajarkan manusia untuk hidup konsumtif apalagi mal telah menjadi simbol “gap” antara yang kaya dengan yang miskin..Jadi sudah seharusnya mal-mal itu dihancurkan!
Wah kalo budaya konsumtif salahin orang marketing he he he….. kalo gak iming2 dan segala trik marketing yang berjalan kita gak dituntut untuk lebih konsumtif (secara gw marketing)
hhehehehe bisa aja lu den, dasar orang marketing..heheh
@Udiot
makasi buat commentnya di blog ku di FS
kampungku bukan Bali, Jawa, Atau Sumatra… tapi kampungku adalah Indonesia….
ya selama ini kita terlalu egois… kita hanya mementingkan hubungan vertikal kita… kita hanya takut “neraka”.. padahal bangsa kita sekarang udah kayak “neraka”.. jadi ngapain mesti takut!(bukan ngajak untuk berbuat yang gak bener) tapi walaupun kayak “neraka” tapi tetap rumah gw juga… jadi gw udah betah di “neraka” dan dengan tangan ini gw pengen merubahnya jadi sorga.. buat temen2 gw yang di Jawa, Sumatra, Irian dan pulau2 lain di tanah Ibu Pertiwi
kita lupa dengan budaya kita, dengan alam kita dengan adat kita. kita lupa hubungan horizontal kita…. seperti halnya yang ditulis deniar.. segelas air saja bisa membalas terima kasih kita dengan begitu indahnya.. bayangkan laut,gunung,hutan dan seluruh alam ini!!
kadang gw heran, ada orang kita yang menolak budaya berterima kasih pada alam seperti gunungan di jawa(sorry gak tau tepatnya) yang notabene bisa mendatangkan devisa dari pariwisata, atau 7 bulanan dimana kita di sana meletakkan harapan, dengan alasan gak ada dalam ajaran A atau B, tapi mereka menerima budaya Tahun Baruan,Valentine,Ulang Tahun, secara berlebihan dan hanya hura-hura! (termasuk gw kekekke)… yaa memang budaya2 luar itu ada sisi positivenya juga… tapi tolonglah jangan berlebihan… itu marketing mereka…. ya gak deniar(red: orang marketing). mentok2 kita dijajah lagi huaaaaaaaa sampai kapan???
Manusia Indonesia buta data, nggak percaya?
Coba tebak berapa jumlah Mall di Jakarta ini, pasti semua orang akan mengatakan banyak… banyak banget … padahal kalau kita mau iseng menghitung jumlah mall di Jakarta tidak lebih dari 10
Mari kita hitung:
1. Plaza Senayan
2. Senayan City
3. Plaza Semanggi
4. Pondok Indah Mall
5. Mall Taman Anggrek
6. Mall Ambasador
7. Mall Arta Gading
8. Mall Kelapa Gading
9. Pluit Indah Mall
So, apakah betul pernyataan bahwa setiap sudut Jakarta dipenuhi dengan mall, atau kalimat yang melumat “Jakarta dikepung Mall”
Salam,
Heru Susanto
duh mas heru tampaknya salah ngitung nih…masih banyak loh mas…
1. Blok M. Mall
2. Blok M. Plaza
3. Pasaraya Grande
4. Mall Puri Indah
5. Citraland
6. Plaza Indonesia
7. Ex
8. Kalibata Mall
9. trus kalo ga salah di Kalideres juga ada..
Jadi lumayan banyak loh mas…tapi thx yah atas komennya
Salam hangat
Udiot
Iya bener, mall di Jakarta gak cuma itu aja. Belum lagi ditambah ITC yang jumlahnya gak kalah banyak. Ada di Permata Hijau, Mangga Dua, Cempaka Putih, Tanah Abang, Bekasi, Tangerang, Grogol, Senen (ada beberapa mall), dll. Jadi saya setuju kalau Jakarta dikepung oleh mall atau pusat perbelanjaan.
Mau nambahin…… statistik yang udah ditulis mas Heru ada 9 ditambah yang ditulis mas Udiot jadi 18
ini lanjutannya…
19. Cilandak Town Square (Jak-Sel)
20. Mall Cilandak (JakSel)
21. Pondok Indah Square (Poins)
22. Mall Cijantung (Jak-Tim)
23. Tamini Square (Jak-Tim)
24. Atrium Segitiga Senen
25. Mangga Dua Mall
26. WTC mangga Dua
27. Mall Arion
28. Dusit Mangga Dua
29. Mall Kramat Jati
30. Cibubur Junction
31. Mall Pondok Gede
32. Jati Negara Plaza
. kalo ITC mau ditambahin ada ITC Mangga Dua
. ITC Permata hijau
. ITC Cempaka Mas
. ITC Kuningan
. ITC Fatmawati
. ada lagi PGC (Cililitan)
. Terus berbagai Hypermarket
. Belum yang di daerah kota satelit jakarta, sperti di Bekasi, Tangerang (Serpong), dan Depok.
Jadi kayaknya jalan2 dulu yuk dan lihat apakah betul “Jakarta dikepung Mall”, mmmmmmmm kalo menurut saya, kayaknya gitu deh…
ngga mau munafik…
HEHEHEh…. jadi ketahuan kan sekarang siapa yang tukang jalan…..
Saya juga pastinya sudah pernah menginjakkan kaki dan menikmati fasilitas2 yang ada di dalam mall2 yang disebutkan diatas…
Eits jadi bingung juga nih, apa definisi Mall sebenarnya siyh…??
Kalo yang jadi permasalahan adalah kurNGNY ruang wisata untuk masyarakat dan bukannya malah merujuk masyarakat kepada budaya konsumerisme, bagusnya memang pengadaan Taman kota dan tempat rekreasi umum lainnya.
Sekali lagi tempat2 tersebut (Mall) ada tampaknya merupakan salah satu upaya “jalan pintas” pemerintah untuk merangsang pertumbuhan Ekonomi yang sempat terpuruk beberapa tahun silam.
Tapi saya setuju pengadaan taman kota yang ngga dipagerin (jangan kaya Monas) perlu diperbanyak di seluruh penjuru jakarta ini… Yang sudah ada kan Taman SituLembang, Baru2 ini di daerah menteng yang dulunya Stadion sudah dijadikan taman, tapi tempat itu cuma bisa dinikmati segelintir orang saja.. anak muda misalnya (malah tempat ini biasanya jadi tempat anak sekolahan yang seharusnya berada di sekolah pada jam belajar untuk sekedar tempat persinggahan di sela2 jam “Cabut” mereka)
Menurut saya taman yang ideal itu adalah taman yang bisa jadi tujuan alternatif keluarga yang ingin menghabiskan waktu bersama2 (Quality Time) di akhir minggu,, jadi anak2 juga bisa diajarkan keindahan alam, toleransi dengan orang/pengunjung lain, tanggung jawab menjaga kebersihan taman, sembari rekreasi juga mendidik dan menghilangkan penat bagi para orangtua.
Selain jadi taman kan bisa jadi daerah resapan air juga dan sebagai pencegahan bencana banjir.
Hmmmmm….. mungkin nggak yaa di tengah jakarta yang padat mall dan penuh dengan gedung bertingkat ada tempat kaya Central Park di New York………….???
Pastinya kesiapan masyarakat juga masih harus dipertanyakan….
Best Wish…
Widya
halo tuan rumah, salam kenal….ikut nimbrung ya, thanx
boro-boro deh, makin hari makin banyak aja pusat perbelanjaan di jakarta, mau namanya mall kek, plaza kek, itc kek, square kek.
kalo begini trus, bisa-bisa banjir jakarta tambah gede. bisa nambah rute waterway…halah
amit2.
emm….kita gak bisa mencegah pembangunan mall2 tsb, tapi mgkn qta bisa menghimbau diri sendiri dan keluarga utk gak sering2 ke mall kalo gak ada keperluan penting. alias mengalihkan perhatian ke media yg lebih baik misalnya baca buku, ikut pengajian, kumpul keluarga, dll.
mall2 tsb sangat tergantung pada suntikan modal investor dan dari belanja konsumen. nah kalo gak banyak orang yang beli barang alias belanja, toh lama2 akan roboh dgn sendirinya
yaa kasian juga sih ma karyawan2 di mall, mrk jadi keilangan pekerjaan. dilema ya?! gimanapun juga, mall2 tsb mrpk lapangan pekerjaan.
so….satu topik seperti ini bisa dianalisis dari berbagai sisi….salam
Saya kira tiap kota besar di dunia punya hasil studi urbanologi/planologi. Berapa mall dibutuhkan untuk sekian km2 kawasan berpenduduk sekian ribu jiwa, misalnya. Berapa km2 kawasan hijau dsb
Cuma apakah DPRD dan Pemprov DKI memanfaatkannya dalam menyusun aturan-aturan?
Itu dia masalahnya, Pemda DKI sendiri tidak mematuhi peraturan yang dimiliki karena mungkin godaan uang terlalu memikat. Yang dibutuhkan kota ini bukan mall lebih banyak tetapi ruang-ruang publik yang lebih ramah lingkungan dimana si kaya dan si miskin bisa membaur.
But….
everyone of you still goin’ to the mall, right?!!??
I wonder why?!!?!?
Of course Hadi, we love going to malls. I’m pretty much a fan of malls myself, it’s indeed a great exprience of walking around in such comfortable places. But, I think that to walk outdoor in the afternoon, see the green trees, and breath the fresh air wouldn’t be such a bad idea. Don’t you think so too? Well, we can still go to the malls in the evening though
Salam Buat Widya, Yonna, Bataviase, dan Hadi. Nice to see your comments. I think I’m gonna see you guys more
Kalau dirobohkan sayang investasi yang sudah tertanam, solusi idealnya:
1- Alihkan efektifitas dan efisiensi pemanfaatan pembangunan Mall. Toh tidak salah juga dengan adanya Mall sebagai ’salah satu’ (bukan segalanya) dari milestone pembangunan ekonomi bangsa ini. Tidak perlu dirobohkan, tetapi kalau STOP pembangunan mall yang sudah membudlak ini setuju deh.
2- Penyeimbangan aspek2 yang tidak tercover dari pembangunan mall atau justru yang hilang karena pembangunan mall itu, dengan pembangunan di aspek laen sehingga bisa diseimbangkan.
Wallahu alam, hanya Allah lah yang tahu yang terbaik untuk kita semua. Semoga kita semua dibukakan dan diberi petunjuk untuk kebaikan kita bersama.
Segala puji bagiMu ya Allah yang memberi kami kemampuan untuk mensyukuri nikmatMu.
Mohon kritikan dan masukan bila ada kesalahan
hallo teman-teman
ada kabar baru loch..
sepertinya jakarta mendengarkan suara anak-anak jakarta.. pemerintah baru aja ngebangun taman di jakarta namanya taman menteng..tempat nya asyik banget kayak central parknya mahhatan loch..
Ya nih, mall di Jkt emang bejibun. Mungkin itu juga yang mau ditiru sama Pemkot Sby, berlomba-lomba untuk membangun mall. Yang terbaru nih, ada City of Tomorrow, yang notabene terbesar di kawasan Sby.Gmn nih??
kalau lihat data di web forum jakarta skyscrappers city (itu loh forumnya fotographers pencinta bangunan tinggi di kota-kota dunia), mall di jakarta ada 100-an. lengkap dengan foto2 dari berbagai sudut. sapa tadi ya di atas yg bilang kita buta data….
sayangnya mall 100-an isinya sama semua…generic..
Wah menarik juga informasinya, beneran ada 100 lebih? Berarti tidak berlebihan apabila kita perlu merobohkan beberapa, setuju?
lucu banget bilang mall bisa bikin kita westernized semenatara anda sendiri tidak bisa menggunakan bahasa indonesia untuk istilah itu. nggak perlu sering2 ke mal kayaknya nih untuk jadi “westernized”??
hehe, masukan yang bagus tuch. Thanks loch
Apa donk menurut Anda kata yang tepat untuk itu?
Baru2x ini gw liat berita rumah susun di pluit dirobohkan untuk dibangun apartment dan melihat perlakuan satpol PP yang gw nilai sangat ngk manusiawi. Fenomena baru di negeri kita yang telah masuk ke era modernisasi yang ngk terkontrol.
apa anda yakin dengan menghancurkan mall akan membuat perubahan??apa banjir akan reda jika mall dirobohkan…
masalah ga akan selesai jika kita selalu menyalahkan orang lain…
mengapa tidak dari diri sendiri mengingatkan diri dan orang lain untuk tidak buang sampah sembarangan…
yang berpendapat bahwa mall harus dirobohkan pun belum tentu buang sampah pada tempatnya…ya ga??
lihatlah dan rubahlah diri kita sendiri…punya prinsip dan integritas akan mempengaruhi orang disekitar kita…
itu jauh lebih baik ketimbang menyalahkan hal2 lain…padahal kan masih banyak hal positif yang bisa kita lihat dari mall..
semua kembali kepada kesadaran diri masing2 menurut saya…
Poulus:
semoga orang seperti anda ada banyak di negeri ini. Kami sedang mempersiapkan sebuah pilot project seperti yang anda utarakan (lihatlah dan rubahlah diri kita sendiri…punya prinsip dan integritas akan mempengaruhi orang disekitar kita…).
Setuju dengan anda
Mohon dukungannya ya…!
Salam kenal.
KALAU MENUURUT CERITA PORMO SANG KYAI YAITU KH RUDI (PENTIL) YANG DI GELARI WALI ALLOH ” PADA SUATU HARI ADA ANAK SEORANG GADIS KAWIN DENGAN SEORANG PAK KAKEK-KAKEK . KEBETULAN KAKEK TADI SEORANG JAWARA BETAWI . GADIS TERSEBUT NAMANYA FATIMAH ” KEBETULAN KAKEK TADI PERGI BERANGKAT HAJI , KARENA ISTRINYA MASIH MUDA , MAKA SEBELUM BERANGKAT HAJI ISTRINYA TADI DI KEPANG BULU BAWAHNYA, SESAMPAI PULANG HAJI KAKEK TADI LANGSUNG MELIHAT KEPANGAN BULU ISTRI NYA TADI . DILIHATNYA KEPANGAN TADI TIDAK BERUBA ” MAKA KAKEK TADI LANGSUNG MANDI , DISELA-SELA MANDI KAKE TADI SAMBIL BERNYANYI ” PULANG DARI HAJI KEPANG TAK BERUBA ‘ PULANG DARI HAJI KEPANG TAK BERUBA ” DENGAR ANAK MUDA TETANGGANYA JAWAB NYANYIAN KAKEK TADI KEPANG TAK BERUBA KUSONGKET DARI BAWAH ” AKHIRNYA DI PANGGILLAH ISTRI KAKEK TADI FATIMEH LO DISONGKET DARI BAWAH YE ” MAKSUDNYA APA BE DISONGKET DARI BAWAH TANYA ISTRINYA ” ….?
Pada kalian yang muda-muda, Hidup Indonesia. Memang Jakarta dan Kota-kota besar pada intinya dikepung dan dikuasai oleh buanyak Mall, Plaza dan ITC ….tapi itulah kenyatan hidup bangsa kita yang mau enaknya saja dan tidak mau susah-susah ke pasar. Bila pasar mau bebenah diri, bukankah kita tidak memerlukan banyak Mal….?
Tidak semua mal itu melambangkan perbedaan status ekonomi, malah ada efeknya membangun masyarakat untuk bekerja keras untuk mendapatkan apa yan dia lihat di mal atau membuat duplikatnya apa yang di jual di mal.
Saya bekerja di mal baru 3 tahun, dan akan keluar beberapa waktu akan datang, jadi saya dapat melihat baik dan buruknya sebuah mal, mal saya terdapat masjid dan rajin bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Jadi tidak benar sebuah mal hanya melambangkan kekayaan. Berapa banyak tenaga kerja yang terserap ?
Sekian dan terima kasih,
Bangunlah negara ini dari pemikiran seperti ini, bukan hanya berkoar dan merusak tampa membuat sesuatu. Seperti kata JF Kennedy …..Not what nation can do with U but what can U do to Ur Nation ……
Amien ….