Posted by: ian on: October 8, 2007
Masih ingat permainan Cublek-Cublek Suweng atau dongeng Ande-Ande Lumut? Dua itu adalah beberapa dari warisan budaya tanah air yang sudah mulai tergerus jaman seiring makin seringnya lapisan bumi kita terguyur banjir. Permainan tradisional dan dongeng-dongeng lain pun semakin tipis tersisa di otak kita yang kini sudah dipenuhi oleh iPod, Paris Hilton, dan produk-produk milenium lainnya. Bagaimana pula dengan sejarah dalam buku PSPB yang kini telah berganti nama itu? Mungkin generasi muda kita juga sudah mulai melupakan cerita-cerita tentang bagaimana berkobarnya semangat para pahlawan berjuang memerdekakan negeri ini. Lebih parahnya, bahkan mungkin tidak hanya ceritanya tapi juga nama-nama para pahlawan negeri ini telah terhapus dari ingatan kita. Apakah ini menandakan kita mulai kehilangan semangat kebangsaan kita?
Tampaknya hal ini bukan hanya terjadi pada generasi muda kita melainkan juga pada generasi sebelum kita. Namun sebelum mencoba mengusik semangat kebangsaan generasi di atas kita, mari kita tengok kembali sebuah cerita seorang pahlawan yang cukup menarik dari Tanah Rencong. Ya, siapa yang tak kenal dengan Teuku Umar? Well, mungkin saja ada, tapi saya yakin hampir semua murid SD tahu siapa dia. Sejarah perang yang pernah dijalani Teuku Umar pastinya sudah banyak yang tahu. Saya tak akan menceritakan hal itu lagi karena memang bukan hal itu yang menggelitik nurani saya saat mendengarkan penjelasan seorang guru sejarah saat saya masih di sekolah dulu.
Seperti biasa, sang guru mendongengkan kisah heroik sang pahlawan sampai pada suatu bagian yang menceritakan bahwa Teuku Umar sebagai prajurit yang tangguh pernah direkrut Kompeni untuk menjadi supervisor sebuah gudang senjata yang dipakai untuk menjajah negeri ini. Karena Teuku Umar adalah seorang pribumi, Kompeni masih harus mengujinya dan melihat loyalitas dan totalitasnya terhadap employer. Suatu saat terjadi bentrokan bersenjata antara gerilyawan Indonesia dan Kompeni. Di saat itu, sebagai bawahan yang setia Teuku Umar ikut menembaki gerilyawan. Tentu saja Teuku Umar melakukan ini dengan sebuah rencana. Pahlawan kita ini bukan semata-mata berniat untuk turut menjajah negerinya sendiri, melainkan untuk meyakinkan Kompeni bahwa ia adalah telah benar-benar berada di pihak Kompeni. Dan benar saja, Teuku Umar semakin dipercaya untuk mengelola gudang senjata Kompeni. Suatu saat, tanpa sepengetahuan Kompeni, Teuku Umar yang bisa mengakses gudang senjata dengan mudah menyelundupkan senjata-senjata itu untuk pasukan gerilya sehingga mereka bisa menyerang balik Kompeni. Dengan ini meski Teuku Umar telah ikut menembaki bangsanya sendiri, ia melakukannya dengan penuh perhitungan demi kepentingan yang lebih besar. Sampai di sini ceritanya berlanjut ke kehidupan modern paska kemerdekaan.
Singkatnya, dimulai di UI, terbentuklah suatu kelompok yang pada perkembangannya telah banyak mempengaruhi arah perjalanan bangsa ini secara makro, yang kemudian dikenal dengan Mafia Berkeley. Sumitro Djojohadikusumo yang, purposely or not, telah membuka jalan bagi Kompeni modern untuk menanamkan pengaruhnya di negeri ini. Melalui Ford Foundation mengalirlah dana untuk menyekolahkan orang-orang berpotensi negeri ini ke University of California Berkeley yang pada gilirannya memegang peranan penting dalam menentukan kebijakan-kebijakan ekonomi Indonesia. Sayangnya, kebijakan-kebijakan tersebut bukan ditujukan untuk kemajuan masyarakat banyak namun untuk mengeksploitasi kekayaan Indonesia. Berikut kutipan sebuah artikel di website KAU (Koalisi Anti Utang), “Dalam masa studinya, sebagaimana ditulis David Ransom (Ramparts, Oktober 1970), kelompok ini dicekoki teori-teori liberal, yang percaya bahwa ekonomi berorientasi pasar adalah jalan terbaik untuk kemajuan Indonesia. Doktrin ini mengajarkan, Indonesia hanya bisa duduk sejajar dengan negara maju lainnya, jika mengintegrasikan diri ke dalam sistem kapitalisme global.”
Dari apa yang terjadi di dua masa yang berbeda ini, kita juga bisa melakukan sedikit compare-and-contrast antara Teuku Umar dan Mafia Berkeley ini. Kesamaan: Teuku Umar dan Mafia Berkeley sama-sama pernah bekerjasama dengan pihak luar. Keduanya mengemban tugas penting dan menerima kepercayaan yang cukup besar di dalamnya. Perbedaan: Teuku Umar menggunakan kesempatan kerjasama ini sebagai sebuah jalan demi kepentingan bangsanya. Sedangkan para Mafia Berkeley malah keasyikan dengan ajaran guru-guru mereka sampai lupa bahwa sekembalinya ke tanah air mereka seharusnya memutar balik keadaan. Yang ada mereka justru keterusan mengeksploitasi bangsa sendiri lebih jauh. Kepatuhan terhadap guru mereka yang seharusnya hanya ada di meja belajar benar-benar teraplikasikan di lapangan. Di saat bangsa ini berjuang untuk menjadi sebuah negara yang benar-benar independent dan berdaulat, rencana akan dibubarkannya CGI dan juga pelepasan Indonesia dari IMF bukanlah hal yang menyenangkan bagi mereka. Hutang negara adalah salah satu jalan yang membuat mereka kaya. Sistem perekonomian di Indonesia telah dirancang sedemikian rupa dan disokong oleh kekuatan-kekuatan kapitalis Barat yang dengan cara apapun yang bertujuan untuk mengeruk kekayaan tidak hanya di Indonesia tapi juga di semua negara dunia ketiga.
Ironis memang, tapi itulah yang kita hadapi: segelintir bangsa sendiri yang diam-diam meracuni kita. Membedakan musuh yang Kompeni adalah mudah karena warna rambut dan seragam mereka berbeda. Membedakan bangsa sendiri yang bekerja sama dengan Kompeni itu yang sulit. Warna rambut, kulit, dan mata mereka sama seperti kita. Kita harus siap untuk menghadapi mereka secara intelektual. Jangan mudah kita mempercayai rayuan dollar. Jangan mudah kita terlena oleh bantuan luar negeri. Bohong kalau ada bantuan luar negeri yang tidak ditumpangi rencana dibalik dollar. Maka, kalau Teuku Umar dulu memakai rencong, senjata kita sekarang adalah ilmu pengetahuan. Yang kita perjuangkan masih sama: integritas bangsa ini. Jangan sampai segelintir mafia itu menguasai negeri ini (lagi). Awas, Kompeni Modern! Kalau sudah begini, Revolusi Budaya adalah jawabannya!
Halo ian salam kenal…
Jujur gw seneng dan bangga banget ngeliat insan muda yang KAYA BEGINI, yang bisa mencurahkan dan punya impian buat membangun bangsa lewat semangat revolusi, andaikan banyak orang muda yang seperti ini mimpi revolusi pasti akan terealisasi dalam waktu yang tidak lama.
Yang menjadi Fundemental problems dari membangun Indonesia adalah menularkan semangat revolusi kepada pemuda lainnya, kalau kita berbicara sejarah bangsa sebelum ataupun sesudah Proklamasi, para Pahlawan kita menjadikan semangat pergerakan di daerah lainnya untuk melakukan gerakan serupa, misalkan wilayah sumatera akan tergerak hatinya ketika wilayah sulawesi melakukan pergerakan begitupun sebaliknya, sedangkan saat ini tak jarang ketika satu pemuda menawarkan sebuah konsep perubahan bangsa yang dibalut dengan solusi tingkat tinggi, yang lain akan berkomentar “Man..udah ga jaman jadi idealis, idealis mah tempatnya cuma di kampus..kalau lu jadi idealis sekarang lu mati man, mau dapet duit darimana???”,
Perubahan bangsa ini menuju ke arah yang lebih baik, seharusnya bukan menjadi visi dan rencana lagi, SEHARUSNYA menjadi sebuah Gerakan yang realistis..Buka Mata Teman-Teman, Kompeni modern telah memisahkan kita dengan berbagai macam cara, MultiPartai, dan banyaknya organisasi2 di negeri ini telah mengobrak-abrik cara pandang kita terhadap arti penjajahan, perang pemikiran diantara kita telah menjadikan kita lemah dalam kontribusi membangun bangsa…semua hanya teori dan ketika satu teori menjatuhkan teori lainnya, kesenjangan jumlah Orang Kaya dan Miskin di negeri ini menjadi semakin terlihat…Ini menjadi bukti betapa lemahnya negeri ini…Jangan berharap pada kaum tua yang sudah lemah idealismenya dan menjadi semakin kapitalis dalam merubah negeri ini…SUDAH SAATNYA kaum muda yang membangun bangsa ini dengan semangat revolusi, dan dengan penuh keyakinan saya Jamin kepada anda bahwa anda adalah PAHLAWAN dari Negeri Ini…MERDEKA!!!
ya, saya juga lebih sepakat dengan gerakan budaya kecil dibanding gerakan masif yang tidak akan berakibat besar.
Mungkin lebih baik kalo ada blueprintnya, jadi gerakan kecil-kecilan tersebut terlihat fokusnya. Ya, tantangannya memang terletak di konsistensi.
klo soal posisi di masy., saya berpendapat, apapun itu posisinya, mau itu mahasiswa, dosen, guru, saudagar, kalo dipergunakan secara optimal u/ kepentingan bersama, efeknya akan positif u/masyarakat
October 8, 2007 at 12:35 pm
yah, tugas kita sebagai mahasiswa. eh, lebih umum, insan akademis yang beruntung berada di perguruan tinggi terasa semakin berat….
….u/ revolusi budaya, langkah taktisnya gmana y bos??
harus bikin pasar seni dulu kek…sekedar sharing pasar seni 2000 disinyalir sebagai event yang bertanggungjawab atas “meledaknya” distro di seantero Indonesia ini….coba dicheck, klo bener, bisa jadi fenomena yg layak buat dibahas