Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Sayangnya, Abang None Cuma Pajangan

Posted in Jakarta Punya Cerita, Pemikiran by udiot on October 9th, 2007

p6260083.jpgSetiap tahun Dinas Pariwisata Propinsi DKI Jakarta menyelenggarakan Pemilihan Abang-None Jakarta, dan setiap tahun itu pula muncul pertanyaan dari masyarakat, “Apa sih tujuan dari acara ini?”

Mencoba mengingatkan, pada tahun 2005 Walikotamadya Jakarta Selatan Drs. Dadang Kafrawi M.Si mengatakan ajang pemilihan Abang None (Abnon) merupakan atraksi wisata yang bertujuan melestarikan budaya Betawi sekaligus sarana pengembangan potensi bakat, kreatifitas, kecerdasan para generasi muda, serta menghilangkan image sebagai pelengkap kegiatan atau pajangan saja.

Ajang pemilihan Abnon harus dapat memberikan citra kebudayaan serta kepariwisataan bukan sekedar pelengkap kegiatan atau pajangan saja. Walikota berharap, melalui ajang ini para finalis dapat memiliki disiplin, dedikasi, dan tanggung jawab yang tinggi untuk membantu Pemerintah Daerah, khususnya Jakarta Selatan, dalam mendorong laju industri pariwisata di Jakarta. Beliau juga berharap, pemilihan Abnon dapat menghasilkan duta wisata yang mampu mempromosikan dunia wisata Jakarta Selatan dan sekaligus membantu Pemda mengajak warga untuk menjaga budaya bersih, indah, dan tertib yang akhirnya menghasilkan masyarakat yang bersih, bermoral, serta bermental baik.

Komentar Bapak Walikota diatas meyakinkan banyak pihak bahwa pemilihan Abnon HARUS dilakukan, karena pemilihan Abnon akan memberikan dampak positif bagi kemajuan DKI Jakarta. Tetapi sebelum benar-benar yakin akan komentar Bapak Walikota di atas, saya akan memberitahukan kepada Anda kriteria calon Abnon yang saya kutip dari Kasudin Pariwisata Jakarta Selatan Dra. Hj. Nenden Dewi Andjasmara, MM. Menurut beliau penyelenggaraan kegiatan merupakan bagian integral dari pembangunan dunia pariwisata serta pelestarian nilai-nilai seni dan budaya nasional pada umumnya dan Betawi khususnya. Kriteria penilaian Abnon senantiasa ditingkatkan kualitasnya dengan menitikberatkan kepada keterpaduan seluruh komponen penilaian secara menyeluruh, menyangkut perpaduan terbaik dari aspek-aspek: Pengetahuan Umum Pemerintah Pusat dan Daerah; Pengetahuan Sejarah dan Kebudayaan Betawi; Pariwisata dan Public speaking; Etika Busana dan Bahasa; Psikologi dan Pengembangan Diri.

Apakah Anda yakin bahwa Pemilihan Abnon bermanfaat? Kalau itu Anda tanyakan kepada saya, jawaban saya adalah NGGA BANGET. Dari pengamatan saya terhadap komentar walikota tentang tujuan dari pemilihan Abnon dan kriteria Abnon menunjukkan kekerdilan dan kebodohan dari acara tersebut. Input tidak sama dengan output, kenapa? “…..komponen penilaian secara menyeluruh, menyangkut perpaduan terbaik dari aspek-aspek: Pengetahuan umum Pemerintah Pusat dan Daerah; Pengetahuan sejarah dan Kebudayaan Betawi; Pariwisata dan Public speaking; Etika Busana dan Bahasa; Psikologi dan pengembangan diri.” Acara ini hanya dinilai dari pengetahuan dan kematangan individu secara personal dan bukan sosial, seharusnya juara dari kegiatan ini adalah orang yang telah berbuat banyak untuk kemajuan DKI Jakarta dan Indonesia. Kata kuncinya adalah telah berbuat dan bukan telah berteori saja atau punya ilmunya.

Akhirnya ketika sang juara hanya dinilai dengan kriteria tersebut, output pemilihan Abnon tidak akan tercapai. Mau bukti? Sudah berapa lama Pemilihan Abnon digelar dan selama itu pula kita tidak bisa melihat pembuktian dari para Abnon. Pada akhirnya kita hanya melihat sebuah kegiatan rutinitas tanpa hasil yang jelas. Yah, beginilah nasib bangsa ini yang selalu menghabiskan uang rakyat tetapi bukan untuk rakyat. Mengkritik persoalan ini jelas tidak akan membawa banyak perubahan, saran saya rubah kriterianya. Pastikan juaranya adalah orang yang mempunyai knowledge, skill, dan attitude yang baik yang diaplikasi ke dalam kehidupan sehari-hari. KAMI BUTUH PERBUATAN DAN BUKAN TEORI! Itu Sudah Jadi Harga Mati.

Revolusi Budaya adalah Jawabnya!

35 Responses to 'Sayangnya, Abang None Cuma Pajangan'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Sayangnya, Abang None Cuma Pajangan'.

  1. Andri Gilang said, on October 9th, 2007 at 6:48 pm

    Syip, setuju bung udiot. agak nya tujuan pemilihan Abang None sendiri sudah menyimpang dari tujuan awalnya, yang memilih duta untuk mewakili kebudayan betawi sendiri, kebanyakan menjadikan ajang ini sebagai popularitas dan tampil belaka, beberapa pengetahuan yg mereka miliki tentang kebudayaan jakarta, yaitu betawi pada khususnya hanyalah informasi seadanya dari bacaan2 yang mereka hafalkan selama proses pemilihan, walaupun tidak sedikit yang mengakui potensi individual dan karakteristik dari pemenang abang dan none tersebut. Namun peranan dan kontribusi mereka sebagai abang none yang notabene “icon” nya jakarta masih jarang kita dengar, sebaik nya kita mulai membuat pemilihan abang dan none revolusi budaya aja bung udiot? yang proses pemilihan nya dimulai dari diri kita masing-masing untuk bisa menjadi orang yg lebih baik agar membuat kota Jakarta tempat yang lebih baik lagi dalam segala aspek, dan juri yang menilai adalah masyarakat sendiri nantinya. Salam Revolusi budaya !!

  2. aul said, on October 9th, 2007 at 7:54 pm

    hehehe ampe sekarang saya belum ngerti manfaatnya abnon, moka (mojang jajaka), terkecuali menjaring siapa yang akan mengisi layar kaca dalam waktu 5 taun ke depan

  3. dejong said, on October 9th, 2007 at 10:13 pm

    ulasan menarik. ajang abnon memang terlihat berbobot dan to some point eksklusif. memang tidak terlalu terlihat peran dan kontribusi para pemenang abnon yang seharusnya menjadi duta untuk kota jakarta. kenapa tuh? apakah karena kurang publikasi, atau memang kontribusi tersebut tidak terlalu signifikan? sejauh mana komite abnon membantu para abnon untuk ‘menjalankan tugas’ mereka sebagai ambassador jakarta?

    saya rasa pasti ada kontestan abnon yang memang supel, pinter, dan punya nilai dan kontribusi sosial yang tinggi. tapi mungkin mereka belum beruntung dalam memenangkan titel abnon.

    yaa walaupun sementara ini tugas para abnon masih samar-samar, semoga kriteria dan outcomenya bisa dirubah supaya abnon jadi sebuah ajang yang benar-benar berguna. in the mean time, kita-kita yang bukan abnon juga harus tetep semangat dong untuk senantiasa menjadi duta ibu kota jakarta dan republik indonesia !

  4. Udiot said, on October 10th, 2007 at 10:03 am

    @Andri
    Welcome home my bro…ini dia yang gw tunggu-tunggu, akhirnya Si Gilang balik lagi ke dunia perjuangan…Salam Revolusi Budaya..
    Gw tertarik buat ngomentarin yang terakhir tentang pemilihan abang none revolusi budaya, usul yang menarik..hehehe..tapi sekali lagi revolusi budaya bukan jadi ajang pembuktian siapa yang paling baik di masyarakat as an individual, revolusi budaya adalah perjuangan menuju Jakarta dan Indonesia yang jauh lebih baik, who care the judges…kita semua harus bersatu dalam perjuangan ini, dimulai dari apa yang lo bilang tadi revolusi terhadap diri sendiri, thats the point!!! selanjutnya apa yang dejong bilang…mau abnon kek, pegawai kek, mahasiswa, sampe tukang sapu di jalan harus bener2 paham dan semangat untuk jadi duta ibukota Jakarta dan Indonesia.
    @Aul
    Whaha kacau lu ul masukannya..emang bener sih…tapi sekali lagi kita harus angkat topi buat ide2 kreatif dari masing2 pemda..hidup pemda…
    @Dejong
    Welcome Selamat Datang Nih buat Dejong kawan jauh dari US…itu sebenarnya tujuan gw nulis artikel ini, gw mau tau seberapa jauh masyarakat menilai peran abnon dalam menjadi duta bagi Jakarta, gw yakin 100% banyak kontestan Abnon-Abnon yang secara personal mempunyai kualitas yang keren tapi entah ga kepilih atau kebuang kaya GBM…yah mungkin aja, tapi gw belum sempet tau klo di Luar Negeri ada ga sih even serupa dan manfaatnya gimana…ada yang bisa kasih data…thx

  5. guebukanmonyet said, on October 10th, 2007 at 10:38 am

    Eh, kampret apa2an lo? Whahaha. Gue bukan terbuang tapi dibuang. Whahaha. Salam Revolusi Budaya!

  6. SuhuAchenk said, on October 10th, 2007 at 2:20 pm

    ane setuju dengan om dejong yang menyatakan terdapat kontestan abnon yang memang supel, pinter, dan punya nilai dan kontribusi sosial yang tinggi. namun nasib aja blom beruntung aje kali yeee..

    dan seperti nya abnon itu cukup berpengaruh membawa kota Jakarta dan negara Indonesia kok..
    karena setau gw, terakhir mereka memperkenalkan Budaya Betawi di Malaysia, dan itu menurut gw salah satu bukti, bahwa mereka emang orang-orang yang terpilih.. ya walaupun memang masih ada sisi ‘miring’ dalam proses pemilihan..
    tapi yang gw lihat sampai saat ini, walaupun itu masih ‘miring’ toh para pemenang masih bisa membuktikan kalau mereka bisa mempertanggung jawabkan apa yang mereka dapatkan..

    klo om-om yang di sini pengen tau lebih ttg abnon, mungkin bisa maen aja ke kantor walikota terdekat..
    mereka cukup ramah kok memberikan informasi mengenai abnon..
    dan mungkin om udiot, andri gilang, & aul bisa mendaftar di sana untuk abnon 2008, dari situ om-om bisa tau gimana proses terpilih nya abnon , dan bisa membuka jalan pikiran kalian om..
    heheheee..

    sorry mendory nih klo ada kata2 yang salah..
    thx..

  7. udiot said, on October 10th, 2007 at 5:04 pm

    Wah tampaknya Suhu Achenk emang Abnon nih…angk. berapa suhu?ohya Andri Gilang itu Abnon juga loh…tapi memang ini harusnya jadi refleksi buat gw pribadi dan kita bahwa Abnon masih bisa diharapkan…Maklum Suhu bagi gw ini yang orang awam dan masyarakat banget bagi gw adalah peran, gw ga peduli Abnon mau diadain bagaimana, bentuknya seperti apa dan kriterianya bagaimana..asalkan outputnya jelas…dan habis baca komen Suhu gw langsung bertanya ke sekitar delapan orang temen kantor dan jawabannya sama, ngapain sih ada Abnon…klo eamng Suhu bisa menyampaikan pesan ini bahwa citra Abnon di masyarakat bawah kaya gw kurang baik kepada Pemda ataupun Sudin Pariwisata bakalan jadi masukan yang baik tuh buat mereka..
    Thx Suhu

  8. -tikabanget- said, on October 10th, 2007 at 6:27 pm

    ah..
    ajang beginian kan memang buwat pemanis..
    dari yang abnon, putri endonesa, putri putrian, putri banci..

  9. Bimbo said, on October 11th, 2007 at 2:40 am

    Setuju gue, Abnon emang cuma jadi pajangan. Memalukan! Gak ada gunanya ada pemilihan Abnon, yang ikut cuma mau numpang beken tapi gak ada niat buat memajukan Jakarta dan Indonesia. Jadi Abnon yang penting harus cantik dan ganteng, katro.

  10. Permias DC said, on October 11th, 2007 at 3:59 am

    Setuju gue, Abnon cuma pajangan! Gak penting banget sich.

  11. dejong said, on October 11th, 2007 at 11:08 am

    Wahaha jadi GBM salah satu yg ngga lolos seleksi nih? Ya udah, better luck next time ya pak.

    Eniwey, setau gue di amerika sini, kebanyakan pemenang kontes serupa Abnon (spt Miss America) biasanya langsung terjun ngerjain social work yang membantu masyarakat. Impactnya both big and small. Dari memberikan support kepada dance team di sebuah universitas kecil, sampe menjadi juru bicara berbagai organisasi sosial besar, apa aja yg bisa dikerjain pasti mereka laksanakan sesuai misi visi komite kontes dan juga pemenang kontesnya. Bagusnya lagi, media juga ikut memberitahu the masyarakat tentang kontribusi dan hasilnya lewat majalah atau berita di tv, jadi kita tau jelas apa saja yang telah dilakukan para pemenang kontes-kontes ini (walaupun ngga sesering itu juga sih di expose-nya, apalagi kalo di compare sama berita selebriti.. buseeet).

    Mungkin selain meliput kontes Abnon, media bisa mulai meliput pekerjaan anak2 remaja yang lebih aktif dalam menyalurkan jerih payah mereka untuk membantu masyarakat. Yaa kalo di bilang boring, bisa aja kan di jadiin reality tv atau travelling show gitu formatnya. Mungkin lebih seru dan inspiring ! Ada yg minat ?

  12. M Fahmi Aulia said, on October 17th, 2007 at 5:54 pm

    ajang2 begini kan:
    1. cara kapitalis promo
    2. cara pemenang (peserta) abnon dapat rejeki/kerjaan/bisnis baru. jangan lupa, lulusan abnon biasanya dapat obyekan tajir di tempat lain
    3. tayangan ga mutu blaaaasss….hihihi..:p

  13. yonna said, on October 23rd, 2007 at 10:45 am

    di Indonesia….kontes abnon, kontes putri indonesia dan beauty pageant lainnya adalah salah satu jalur menuju dunia entertainment….di mana image dunia entertainment adalah mendapat uang banyak dan populer di masyarakat, walhasil akan menaikkan harga jual seseorang di pergaulannya, karena orang akan berlomba-lomba menjadi temannya.

    walau cuma pajangan tapi kalo terkenal, bisa jalan-jalan gratis ke mana aja dan dapet duit banyak lagi…..don’t bother at all ;D

  14. paq-c said, on October 29th, 2007 at 10:05 pm

    hmm…

    yang merasa pernah ikutan abnon seharusnya tertohok setelah baca ulasan ini..

    karena logikanya.. kalo setau gue abnon itu udah start dari tahun 1970-an gitu… mulai dari jakarta cuma terdiri dari 5 wilayah ampe sekarang ada 6… dimana tiap wilayah paling tidak punya beberapa pasang abnon…

    bisa dibayangin khan kalo katakan tahun ini setiap wilayah punya 15 pasang abnon yang jadi finalis pada saat pemilihan di wilayah (semuanya kemudian akan menyandang gelar sebagai abang dan none untuk wilayah masing-masing… karena hanya 3 pasang yang kemudian dikirim ke DKI untuk kemudian akan dipilih sebagai abang dan none Jakarta..)

    berarti ada (30 x 6 = 180) pemuda dan pemudi yang berdomisili di wilayah DKI Jakarta… yang (seharusnya) memiliki potensi, kompetensi, dan pengetahuan (berdasarkan penilaian juri tentunya… katanya… dan menurut mereka.. ;p) yang pada dasarnya “qualified” dan memenuhi kriteria maksimal untuk menjadi duta wisata (ini karena abnon berada dibawah dinas pariwisata)…

    bayangin aja.. pemilihan ini usianya udah hampir lebih dari 30 tahun… so… udah berapa banyak potensi pemuda-pemudi jakarta yang disia-siakan kalo ternyata komentar kebanyakan orang masih sinis seperti ini..??? berarti emang sama sekali blum meninggalkan citra yang baik dong abnon selama ini…

    coba.. sama masyarakatnya sendiri aja blum didukung sepenuhnya…? gimana mau promote ke dunia luar..? emang sich.. butuh cermin yang sangat luas dan juga butuh jiwa yang besar pula untuk dapat melihat sebuah kenyataan seperti ini..

    so… abang-abang dan none-none jakarta tercinta.. dimanapun anda semua berada sekarang.. tunjukkan lah kalau emang kalian punya niat baik dalam memberikan kontribusi untuk jakarta kita tercinta ini.. Mumpung masih seger sumpah pemuda nih…blum terlambat untuk memulai sesuatu yang baik.. sebab kalau tidak dilakukan… cepat atau lambat.. abang dan none jakarta tidak lagi menjadi ikon dari pemuda-pemudi jakarta.. tetapi hanya akan menjadi ikon pemborosan yang dilakukan oleh kota jakarta yang pada akhirnya tidak dapat meninggalkan kesan apa-apa… ilang aja gitu tertelan waktu.. sayang khan…

  15. John Francis McKillop said, on October 29th, 2007 at 10:18 pm

    Mungkin hal ini kembali kepada kenyataan bahwa pemerintah kita masih teramat korup dan mengadakan berbagai even hanya sebagai sarana menguruk keuntungan pribadi, baik itu melalui mark-up maupun acara sogok-menyogok untuk mencapai kemenangan dari pihak perorangan / wilayah tertentu.

    Sama halnya dalam event Abang None ini,, sebagai Anggota dari dinas pariwisata (yang pastinya merasa lebih superior dibanding sekumpulan anak2 sok pinter n kecakepan yang mendapat gelar abang none dengan status — entah Berhak ataukah ehm ada faktor X Y Z didalamnya) tentunya juga merasa bimbang apakah dapat meletakkan tanggungjawab promosi dan pengembangan di tangan mereka.

    Ingat bahwa di Indonesia penuh sikut menyikut, apa jadinya kalau pekerjaan si Anggota DinPar jadi rebutan karena ide brilian seorang Abang / None ? Toh DinPar sebagai wadah harus memberi dukungan support financial,, sedangkan secara teori itu tak mungkin dilakukan karena mereka harus menunggu sampai anggaran tahun berikutnya saat si bersangkutan punya ide udah keluar.

    Sebagai tambahan, fakta bahwa abang/none itu mayoritas berstatus mahasiswa juga mempersulit perkembangan ide / kontribusi mereka karena kesibukan pribadi. Lain halnya apabila mereka dicutikan dan dipekerjakan untuk Dinpar sebagai staff pengembangan dan promosi pariwisata?!

    Jadi untuk mengatakan bahwa Abang / None adalah Pajangan kurang lebih tepat karena Paska event abang-none mereka tidak diberdayakan dengan maksimal dan di RESERVE untuk keperluan DinPar sehingga pada akhirnya hanya nongol pada saat2 acara2 dan bagi2 amplop di kantor.

    Semoga kedepannya ada 2 pilihan bagi Dinas Pariwisata
    1. Mengkontrak otak2 yang udah dimenangkan untuk menghasilkan dan MENJALANKAN ide2 mereka
    2. Membubarkan event yang hanya membuang2 uang tanpa hasil sumbangan yang signifikan, mending buat semacam dolly aja n las vegas di pulo seribu buat narik duit,, beres khan :D

    Adios Amigos

  16. Udiot said, on October 29th, 2007 at 10:24 pm

    Setuju…!!!!

  17. paq-c said, on October 29th, 2007 at 10:26 pm

    setuju sama yang mana..???? las vegas..??? ato dolly..??? hayuk lah…

  18. Udiot said, on October 29th, 2007 at 10:30 pm

    Whahhaha idenya edan….

  19. Udiot said, on October 29th, 2007 at 10:34 pm

    Gue setuju sama bubarin aja Abang-None, klo perlu Dinpar juga dibubarin, Pemda juga deh…sial tiap hari gue kena macet…otak buntu ..duit abis..tau ga sih lu Produktivitas Jakarta tuh 40% mentok gara-gara program Pemda buat Busway tanpa mikirin sebab-akibatnya…sial2

  20. Gilang said, on October 30th, 2007 at 9:19 am

    @ Paq-c
    Mungkin kita harus bisa melihat nya dari dua sisi, sisi yang pertama adalah pihak yang sama sekali tidak mengetahui seluk beluk dari abnon, proses yang terjadi didalamnya, serta kontribusi apa yang telah diberikan, sisi yang kedua adalah sebagai pihak yang setidaknya mengetahui hal yang sebenarnya terjadi.

    Pihak pertama, mereka tidak akan menganggap penting untuk mengetahui bahwa abnon telah mulai dari tahun 70, bahkan tidak ingin tahu bahwa sudah ada 180 orang lebih yang berpartisipasi di seleksi ini. Yang mereka anggap penting adalah apa yang telah abnon berikan selama ini bagi duta jakarta. Terlepas dari kesempatan yang ada bagi abnon sendiri untuk menyampaikan hal yang terjadi.

    Tentunya ini adalah motivasi yang bagus bagi pihak kedua, untuk bisa me-refleksikan diri mereka kenapa anggapan mayoritas terhadap abnon masih fokus atas gemerlap nya sisi negatif, apakah peran yang dilaksanakan sebagai duta pariwisata tidak terlihat? kontribusi dan peran sangat diperlukan, yup sekecil apapun kontribusi itu akan sangat bernilai bagi image abnon sendiri di mata pihak pertama.

    Dari yang gw tahu, gw lihat, dan gw rasakan kualitas dan kreatifitas abnon secara rata-rata bisa dikatakan sangat penuh potensi, hal ini bertolak belakang dengan anggapan dan pikiran gw jauh sebelumnya. Namun balik lagi ke anggapan pihak pertama, apa ini yang mereka lihat? tentu tidak sama sekali.

    @John Francis McKillop
    Terlepas dari faktanya negara kita teramat korup dengan pemerintahnya yang suka sikut-menyikut, tentunya ini bukan lah halangan bagi para abnon sendiri untuk berhenti dan terhalangi akan kreatifitasnya kan? toh yang seperti ini kan terjadi dimana2, saatnya abnon untuk bisa keluar dari ketergantungan pihak Dinpar. Peran sebagai abnon tidak berhenti hanya setelah pasca event selesai, justru hal ini baru awal dan dimulainya abnon sendiri untuk menghapus image bahwa abnon cuma pajangan. Sebagai individu tentunya abnon bisa mewakili apa yang telah dicapainya untuk mempromosikan pariwisata Jakarta.

    @paq-c & John F.M
    Apa kabar pak?

    @Udiot
    Gw gak setuju tuh, Otak buntu..duit abis.. itu mah emang salah lo sendiri makanya jangan suka main judi…. peace

  21. UjaNG said, on October 30th, 2007 at 11:56 am

    Gak setuju kLo di’ilangin mah,, mendingan diperbaiki citranya.. Pada sabar yah, kasi gw waktu 5 taon buat ngembali’in ABNON yg sebenarnya. insya ALLAH..

  22. Udiot said, on October 30th, 2007 at 12:57 pm

    Amiin..Sukses..Kita tunggu perbaikannya yah…

  23. cK said, on November 2nd, 2007 at 1:08 pm

    kebetulan saya punya teman abang jakarta. saya lihat tugasnya sebagai abang sudah cukup banyak, karena kebanyakan dia berkeliling untuk mempromosikan jakarta, mulai dari luar kota hingga luar negeri. jadi gunanya abnon ikut membantu mempromosikan budaya jakarta dan indonesia (kalau ke luar negeri). jadi rasanya nggak ada salahnya dengan pemilihan ini, hanya yang perlu diperbaiki adalah tata cara pemilihan hingga kegiatan sehabis terpiilihnya abnon. IMO sih…

    dan justru teman saya itu memberikan statement, “tidak semua abnon bertujuan untuk menjadi artis,” karena dia sendiri bekerja sebagai dosen, bukan di dunia entertainment.

  24. zahra said, on November 9th, 2007 at 1:26 am

    kebetulan banget nih..none yang sekarang temen kuliah sejurusan, seangkatan, sekelas pula. Emang sih yang dulu-dulu gw ngga liat kegiatannya abnon dan hasilnya, cuma…emang ga ada publikasinya kan? jadi siapa tau mereka menghasilkan sesuatu, tapi ga ada yang liat aja.

    Kalo abnon yang sekarang, temen gw ini beneran jadi duta pariwisata jakarta. beneran kerja…kuliah cuma tiga hari aja. yang gw tau sih sekarang abnon lagi nyoba buat menghidupkan lagi museum-museum di jakarta barat. Mulai dari acara keliling museum, perbaikan fisik bangunan, sampe mau ngapain supaya orang-orang mau care sama museum-museum kita…mungkin publikasinya kali kurang. Ya gw kalo bukan dia yang cerita juga ngga tau…

  25. SuhuAchenk said, on November 12th, 2007 at 7:56 am

    Semoga semua nya ke arah yang lebih baik lagi..
    Amien..

  26. Hanny Wishnuardi said, on April 14th, 2008 at 8:19 pm

    Saya maklum kalo semua yang memberi komentar tentang abnon pada sinis dan miring, karena hampir tidak ada berita mengenai kegiatan yang dilakukan oleh abang none jakarta dari dulu sampai sekarang.
    BUkan karena saya juga pernah jadi NONE makanya saya berkomentar, tapi ada beberapa hal yang masyarakat perlu tahu bahwa tidak gampang untuk lolos menjadi finalis, karena pesaingnya kelas berat, di jakarta pusat saja hampir semuanya lulusan universitas negeri dari jurusan kedokteran, komputer, teknik, ekonomi, yang pastinya UNTUK MASUK KE UNIVERSITAS TERSEBUT, MEREKA TIDAK BISA BERMODAL TAMPANG BELAKA, dan merupakan suatu kebanggan untuk suatu wilayah kalo wakilnya menang di DKI, jadi selama ini belum ada bukti bahwa pemenang yang lolos ke dki mengandalkan backing-an or whatsoever selain potensi dirinya.
    Jadi bukan salah peserta abang nonenya kalo image selama ini buruk, karena kami selama ini BERUSAHA SENDIRI UNTUK MENGUBAH CITRA. memang usahanya masih per wilayah, karena seperti komentar yang ada sebelumnya, ada lebih dari ratusan mantan abnon di jakarta sejak 30 tahun yang lalu, tentunya paham kalo tidak mudah mengkordinir banyak orang.
    tapi sejak tahun 2000 hingga saat ini perkumpulan abnon DKI makin giat usahanya untuk mengembangkan pariwisata.
    jadi yang kami butuhkan adalah bantuan nyata dari media massa dan pemerintah, karena tidak banyak yang tahu kan kalo kami melakukan bakti sosial rutin setiap tahun, jadi kalaupun ada mantan abnon yang jadi artis, itu usaha mereka sendiri. karena kalo menang di dki, justru pemenangnya DILARANG MUNCUL KOMERSIL SELAMA MASA BAKTI.
    kritik ok, tapi saya lebih setuju kalo kritik itu ditujukan pada sudin pariwisata untuk mengorganisir kegiatan abnon menjadi lebih positif, berkembang dan mampu memberi kontribusi nyata bagi dunia pariwisata.
    kalaupun ada yang bilang abnon cuma pintu untuk muncul di layar kaca, paling tidak itu lebih baik dari pada tawuran dan narkoba di jalanan. salah satu tujuan pemilihan abnon adalah menjadi ajang kegiatan apresiasi positif bagi anak muda. JADI ARTIS KALO SUKSES PUN BERARTI MEMBANTU MENGURANGI BEBAN ORANG TUA DALAM LINGKUP KECIL DAN MENGURANGI KEMISKINAN DALAM LINGKUP YANG LEBIH LUAS.
    KALAUPUN KEGIATAN INI DIJADIKAN “SUMBER DUIT” BAGI OKNUM TERTENTU, HARUSNYA OKNUM TERSEBUT DONG YANG DIUSUT, KENAPA MESTI KEGIATAN YANG POSITIF JADI GETAHNYA?
    ABNON DKI, JUGA MERUPAKAN SUATU BENTUK APRESIASI TERHADAP SENI DAN BUDAYA BETAWI. Dengan adanya abnon, pengetahuan budaya ini secara otomotis dilestarikan, karena semua peserta wajib mengetahui seluk beluknya,

    Cheers

  27. guebukanmonyet said, on April 14th, 2008 at 11:30 pm

    Setuju dengan pendapat Hanny.

  28. none said, on May 11th, 2008 at 8:37 pm

    calon none niyyyy.
    gw ikutan dftr abnon taun ini..
    pwakilan jakpuz n kep’srbu.
    mnrt gw,,,saat gw lyt mlm grnd final taun lalu,,,mreka smua bkualitas..
    dlihat dr 3B atw apapun namanya,,,g skedar cm hapalan aj kow…
    tp bener^bisa di test..
    g pcaya???
    cek sndri dey.

    ky na hanya org^ g bpendidikan dey yg pny ide gtu aj bubarin ajang spt ini,,soalny,,klw qt jd pmerintah,,g sgampang itu BUNG…!!
    Sama halnya spt IPDN,,,bnyk yg mencekal,,tp bnyk pula yg berlomba^ masuk kdalamnya!!
    MUNGKIN ANDA SALAH SATUNYA..

  29. hmm said, on May 11th, 2008 at 11:37 pm

    wah..wah..Kok, masih saja ya berpola pikir menjudge dulu..Sepanjang saya mengikuti web/blog ini, wacaca yg diberikan isinya mayoritas jadinya seperti keluhan, makian, dan lain2nya saja..
    Tidak mengalami kemajuan..(maaf ni)..
    Bhakan dari awal, hamoir semua judul wacana blognya mayoritas sudah menjudge..
    Lalu apa bedanya?
    Tidak sesuai dengan mottonya.. Lebih baik bertindak dan bukan berteori..
    Untuk kasus contoh wacana ini:
    1. Bukankah lebih baik diperbaiki sistemnya dari pada ditiadakan ya?
    2. Setau saya abnon itu banyak kegiatannya untuk Jakarta ini..Hanya kurang dipromosikan saja atau dimediakan..
    Lalu mana yang lebih baik? Punya banyak kontribusi tapi tanpa kurangnya promosi atau hanya satu kontribusi tapi udah membuat promosi dmn2? Hehe..
    abnon itu siapapun yang menang adalah mausia2 yang sudah berkualified dibanding kita semua yang tidask menjadi abnon..Dan itu sudah merupakan gambaran dari diri kita ( saya, kamu, kalian, dan semua!!)
    Klo katanya mer3eka kurang dipromosikan kegiatannya, bukankah akan lebih baik jika JBRB ini yang mempromosikan kegiatannya..
    jadi bisa disinergikan..Karena klo saya liat kontribusi abnon ( yg notabene kebanyakan masi kuliah ) jauh lebih besar daripada kontribusi JBRB ini.. Abnon lebih banyak bertindaknya dibanding promosinya ( hehe ). Maaf..

    3. Ada yang aneh, kok seperti ingin membuat negara sendiri..hehe.. Bukannya membantu memerbaiki pemilihan dan sistem kerja abnon sekarang, malah ingin membuat abnon sendiri..
    karena kualitas abnon itu sudah diseleksi benar..

    4. Bukankah itu seperti menjilat ludah sendiri..Berbicara mengenai sampah, sistem tata kota, kemacetan, abang nona, dll.. Tapi malah membuat bimbel gratis..Toh, kalian juga ujungnya terbentur dengan masalah waktu, biaya, sistem,SDM dll..Sama seperti abnon/pemda/sipaapun yang kalian jelekkan itu..

    5. Dan kenapa media( koran, dll tidak menulis berita2 abnon ini, karena saya rasa jawabannya tinggal melihat di web JBRB ini..
    Knp kalian tidak membuat hal2 yang baik mengenai abnon, mengubah,//Dan bukan saja mengenai abnon saja, yang lain pun seperti itu..

    Yang kalian lakukan hanya seperti prinsip koran saja : Biar laku beritain yang negatif! Seperti pembunuhan, pencurian, tabrakan, bom, sampah, dll..

    Ini tidak sesuai dengan semboyan kalian sebagai anak muda..Kok jadi hanya sennag menulis..Mana perbuatan kalian?!!!
    Maaf, maksud menulis ini agar kalian tidak hanya sibuk menulis, mengecam, dan mepromosikan diri..
    Sebagai contoh adalah komunitas sahabat museum.. Vivisnya jelas..Memajukan sejarah Indonesia.. Yang dilakuakn adalah mempromosikan Museum2 dan tempat2 bersejarah di iNdonesia..Caranya dengan meperkenalkan dan mepromosikan sisi positif dari tempat2 tersebut..Tanpa hal2 negatifnya ( bangunan kotor, tak dirawat, pekerjanya ga ada yg sopan, parkir susah)
    Dampaknya besar : klo kita sudah yakin dan bangga dengan tempat2 sejarah tersebut, kita akan dengan seida berbicara ke semua orang ( temen2 kita, orang di luar jakareta, orang bule, dll). Dengan demikian merka akan tertarik untuk datang, dengan demikian tempat tersebut akan mendatangkan uang. Nah lalu disini lah parapengusaha or siapapun akan bergerak, merkea akan mereneovasi tempat, pegawai, memperhatikan kebersihan..So, Revolusi Budaya pun akan berjalan..Semuanya dimulai dengan rasa bangga dulu dan itu ditunjukkan..
    Bukan hanya kata-kata : ” Saya bangga jadi orang Jakarta, TAPI…. ”
    kata TAPI itu loh yang sering digunakan orang..

    Bertindaklah yang besar..Namamu akan besar dengan sendirinya..

  30. ahmad said, on May 12th, 2008 at 3:27 am

    salam revolusi.
    saya pikir, tulisan diatas merupakan kegelisahan dan juga rebellion terhadap situasi yang stagnan. saya pikir, tulisan semacam itu perlu diangkat kepermukaan agar bisa mengejutkan publik akan kesadaran sosialnya. saya sendiri merasa berterima kasih atas munculnya tulisan-tulisan semacam itu karena saya menjadi tahu peta permasalahan yang ada.
    tulisan diatas saya menilainya dari semangat revolusi dan perubahan.
    betul ‘kata-kata” bukanlah apa-apa tanpa aksi, tapi sesunggunya kata-kata ini harus ditagih sehingga benar-benar menjadi realitas. saya pikir, komunitas jbrb menunjukkan kebersediannya untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam menerjemahkan ide-ide majunya. jadi, tulisan-tulisan di blog ini saya kira harus dilihat dari semangat perubahannya, termasuk revolusi berfikir dari yang berfikir conservative dan kolot ke cara berfikir yang mencerahkan. sekali lagi, teruskan revolusinya.
    ahmad

  31. guebukanmonyet said, on May 13th, 2008 at 2:53 am

    Hmm: Terima kasih masukannya. Sangat dihargai.

    JBRB adalah sebuah organisasi baru yang masih banyak belajar, dan saya yakin masukan seperti Anda dapat mendewasakan kami dalam berjuang dan berusaha.

    Menjawab pertanyaan Anda, kami juga melakukan kegiatan di dunia nyata dan tidak hanya menulis di blog. Sepertinya Anda harus membaca tulisan-tulisan di blog ini lebih dalam.

    Salah satu kegiatan utama kami adalah program yang dinamakan Berbudaya Itu Seru (Berburu). Berburu adalah sebuah pelatihan singkat tentang nilai-nilai budaya positif dan maju yang diberikan kepada murid-murid SD. Program ini sudah dijalankan di SDN Selong 01 Kebayoran Baru. Kedepannya, kami berusaha untuk menjalankan Berburu di banyak sekolah.

    Terima kasih dan salam Revolusi Budaya!

    Ahmad: Terima kasih atas dukungannya! Menciptakan sebuah perubahan besar memang tidak mudah, banyak cacian dan makian. Tapi semua itu memang harus dimaknai sebagai sebuah tantangan untuk mencapai sebuah kondisi yang diimpikan. Kita pun harus sadar bahwa pada akhirnya kita hanya manusia biasa yang penuh dengan kekurangan.

    Terima kasih atas segala bentuk dukungan Bung Ahmad dari Saudi. Mari bergabung di Forum JBRB di http://jbrb.proboards80.com

  32. Denny or Adolfs said, on May 28th, 2008 at 9:28 am

    Setuju banget dengan pendapat Mpo’ Hanny Wishnuardi…!!!

    Tahun lalu (2007), saya daftar jadi calon Abang Jakarta di 2 wilayah (Jakarta Selatan dan Jakarta Utara), dan dari awal udah kelihatan banget persaingannya…!!! 3-B itu deh…!!! Akhirnya, nasib membawa saya ke dalam “kegagalan” (cian deh…!!!). Di Jakarta Selatan “GAGAL TOTAL” di Jakarta Utara “Mampet di Semi Final”…!!! Tapi saya salut sama pemenang2nya karena memang OK banget dalam segala hal…!!!

    Bravo Abnon…!!!

  33. adfa said, on May 28th, 2008 at 7:53 pm

    Asslm..

    Hanya mw sedikit mengomentari saja,kalau menurut saya kegiatan abang none saat ini memang hanya seperti memajang para pemenangnya saja yang notabene memang mempunyai tampang lebih.Tetapi perlu kita garis bawahi bahwa segala sesuatu itu bisa diluruskan kembali sesuai dengan tujuan awal dari apa yang selalu di lontarkan oleh setiap kepala daerah dijakarta,untuk itu bukan lebih baik kita mencoba meluruskan yang ada dengan mengadakan pendekatan secara intens kepada masing dinas pariwaisata di setiap wilayah dijakarta.Dibandingkan kita harus membuat sesuatu hal yang baru ,tetapi membutuhkan proses promosi dan edukasi yang akan memakan waktu.Karena perlu diketahui setiap aspirasi yang kita lontarkan pasti akan ditanggapi oleh pemerintah daerah,karena pemerintah daerah khususnya jakarta cukup tw bahwa penduduk mereka mempunya tingkat intelegensia yang sangat baik dalam merespon dan mengkritisisasi segala sesuatunya saat ini.

    terima kasih

  34. Fabulous Azzar said, on June 12th, 2008 at 7:34 pm

    Gile, banyak amat yang komenter disini. Gue sebagai mantan finalis Abang juga mau ikutan ah…

    Gini lo bro, FYI, masuk Ab Non itu susah banget, and gue bersyukur jadi one of them. Meskipun terkadang memang gue nggak menutup mata bahwa banyak juga finalis-finalisnya yang bermuka palsu. Hehehehee…

    Intinya, bener tuh, kalo kita ini kurang diberdayakan. Memang udah jadi budaya di Negeri Indonesia tercinta ini, kalo kita itu sukanya membuat dan menebar “Janji-Janji”. Tapi kontribusi nyata? Jauuuh.. Memajukan Pariwisata dll? Hmmm… udah beneran maju nggak yah? Kayaknya emang jalan ditempat deh Pariwisata kita.

    Dulu, pas jadi finalis, gue pengen banget memajukan dunia Pariwisata di Jakarta. Ini nggak fake lo. Tapi apa daya, SuDin Pariwisata gue isinya orang-orang “Orde Lama” yang meleknya sama duit aja. Sampe-sampe honor Jaga Abang gue suka dipotong tanpa tedeng aling-aling..

    Bangsa ini memang butuh reformasi holistik besar-besaran…

    Udah ah, gue capeee…

  35. Gina said, on July 4th, 2008 at 1:21 pm

    yap, gue setuju Abnon lagian cuma jadi ladang bisnis kok, apakah benar kalau abnon itu mewakili daerahnnya seperti Jak-Ut. Karena banyak remaja Jak Sel yang masuk dalam nominasi Jak-Ut untuk mendaftar di Jak-Ut dengan alasan, Jak-Ut masuknya lebih gampang….
    banyak lagi kecurangan-kecurangan seperti itu

Leave a Reply