Posted by: ian on: October 23, 2007
Kenal kan dengan logo di samping? Ya, Toyota adalah salah satu global brand buatan Jepang. Sebuah merek yang merupakan perwujudan dari semangat dan kualitas Jepang. Sebuah merek yang memutar balikkan keadaan dari Jepang yang diporak-porandakan Amerika di Perang Dunia II menjadi Jepang yang membuat perusahaan-perusahaan otomobil Amerika hampir gulung mesin.
Toyota hanyalah satu dari sekian banyak merek made in Japan yang menjulangkan kejayaan di seluruh dunia. Kejayaan yang terwujud dari semangat tak kenal menyerah. Kenyataannya, orang Jepang memang terkenal sebagai pemikir dan pekerja keras dan cerdas. Banyak sudah ide brilian yang dihasilkan dan bertebaran di seluruh dunia. Lihat saja produk-produk inovatif lainnya seperti Honda, Sony, Nintendo, Kao, Pocari Sweat, sampai snack Megumi Minori. Lihat pula ide-ide aneh bin ajaib mereka macam Tamiya, Tamagochi, Dance Dance Revolution, Takeshi Castle, sampai cerita-cerita anime yang bisa dimengerti anak-anak setidak masuk akal apapun itu. Produk-produk Jepang tersebut hanyalah beberapa contoh dari kesuksesan the Japanese Invasion.
Tak heran meski masa lalunya terbilang kelam, di dunia modern bangsa Jepang mampu bersinar cerah secerah matahari terbit. Keberhasilan ini tak lepas dari semangat orang-orang Jepang yang selalu ingin menjadi lebih baik. Seakan-akan tak ada kata terbaik di kamus mereka. Dengan begitu meski telah mencapai suatu tingkat keberhasilan selalu saja ada inovasi yang dilahirkan. Inilah the Japanese Spirit dan sekarang hampir semua perusahaan dan organisasi di dunia yang ingin meraih sukses mengadopsinya. Salah satu semangat Jepang ini termanifestasikan dalam Total Quality Management (TQM) yang dikembangkan oleh Kaoru Ishikawa di Toyota.
Singkatnya, Total Quality Management adalah sebuah pendekatan manajemen yang bertumpu pada total kualitas yang dilakukan secara komprehensive dan menyeluruh. Intinya terletak pada konsistensi dan pengurangan hal-hal yang tidak bermanfaat. Banyak perusahaan Amerika yang dulunya menganggap remeh konsep TQM yang awalnya diperkenalkan oleh Dr. Deming (seorang profesor statistika Amerika) ini kewalahan menghadapi kemajuan Jepang yang begitu cepat. TQM adalah satu dari sekian hal yang telah berhasil merevolusi perindustrian Jepang dan menjadikannya pemimpin. Itulah sebabnya kini semua CEO dari perusahaan manapun wajib menguasai konsep TQM. Kalau begitu, mengapa kita tidak ikut mempelajarinya? Kalau pun kita bukan CEO sebuah perusahaan multinasional, kita adalah CEO untuk diri kita sendiri. TQM yang telah berhasil menjadi sebuah pendorong revolusi industri modern semestinya juga bisa kita jadikan sebagai suatu pendekatan untuk revolusi budaya.
TQM akan bisa diterapkan untuk self-improvement karena para pelaku TQM di perusahaan-perusahaan yang sukses itu manusia juga, bukan? Jadi, sekarang mari kita melihat 4 langkah penting Total Quality Management Jepang berikut untuk meningkatkan kualitas diri kita dan korelasinya dalam revolusi budaya:
1. Kaizen: Proses Perbaikan yang Berkelanjutan. Pabrik-pabrik selalu berusaha meningkatkan efektifitas, efisiensi, dan produktifitas kerja mereka, begitu pula dengan kita. Sebagai manusia kita juga harus senantiasa berusaha meingkatkan kualitas diri kita. Kita harus selalu belajar agar wawasan bertambah, sering berlatih untuk mengembangkan ketrampilan, dan bekerja keras secara maksimal untuk mencapai prestasi yang tinggi. Tidak mudah menyerah dan tidak cepat merasa puas adalah kuncinya. Di saat sulit kita dengan tenang mengidentifikasi masalah untuk mengatasinya. Di saat berhasil kita tetap waspada dan terus berusaha melakukannya lebih baik lagi. Contohnya, ketika mendapat nilai yang mengecewakan dalam ujian, kita akan segera melakukan instropeksi dan memperbaiki cara belajar kita. Lalu, ketika mendapat nilai yang baik, kita tidak cepat puas dan bangga. Sebaliknya, kita mawas diri, melakukan cross-check antara usaha belajar kita dan nilai yang didapat, menganalisa kemungkinan metode belajar yang lebih mengena dan hemat waktu, dan berusaha untuk mencapai yang lebih baik di ujian selanjutnya. Kita melakukan usaha-usaha yang nyata, berulang-ulang, dan dapat diukur hasilnya (untuk mengukur peningkatan kualitas).
2. Atarimae hinshitsu: Nilai fungsi (agar semua berjalan sebagaimana mestinya). Setiap benda yang diciptakan mempunyai fungsi tertentu sehingga memberi kegunaan maksimal. Misalnya, sebuah sepeda motor berfungsi untuk mengantarkan pengendaranya dari satu tempat ke tempat lain. Jika tidak bisa dinyalakan mesinnya, sepeda motor itu dikatan tidak berfungsi. Sebagai manusia kita juga harus berjalan sebagaimana mestinya. Kita harus mampu memfungsikan jasmani dan rohani kita dengan baik. Kita mempunyai otak untuk berpikir, hati untuk merasa, tangan untuk menulis, kaki untuk berjalan, dll. Aplikasi positif yang mudah adalah bangun pagi, giat belajar, berangkat dan sampai di sekolah atau kantor tepat waktu, bekerja dengan semangat, taat beribadah, dll. Ayah menjalankan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga yang baik dan bersama ibu menjadi orang tua yang teladan yang mencurahkan kasih sayang pada keluarga, anak-anak pun bersikap hormat kepada orang tua sehingga terciptalah suatu sistem (keluarga) yang harmonis. Jika jasmani dan rohani kita difungsikan sebagaimana mestinya, kita akan menjadi manusia seutuhnya.
3. Kansei: Pengamatan perilaku konsumen untuk peningkatan kualitas produk. Dalam dunia bisnis, perusahaan-perusahaan mengamati bagaimana perilaku konsumen dalam menggunakan produk atau jasa mereka. Setiap konsumen mempunyai kecenderungan yang berbeda. Namun mereka selalu cenderung untuk terus menggunakan produk atau jasa yang efektif dan efisien dibanding yang tidak. Dalam kehidupan sehari-hari kita hendaknya juga selalu memperhatikan pola perilaku kita dalam menggunakan kemampuan kita di situasi dan kondisi yang berbeda sehingga bisa meningkatkan kualitas diri kita. Misalnya, kita biasa belajar di malam hari hingga larut menjelang ujian namun kurang merasakan hasilnya secara maksimal pada saat ujian. Mungkin kita bisa mencoba untuk belajar di pagi hari (subuh) agar daya pikir dan daya ingat lebih segar. Mungkin juga ternyata kita lebih bisa menyerap materi bila belajar sedikit demi sedikit dalam beberapa hari, bukan dalam semalam. Proses peningkatan kualitas yang berkelanjutan memerlukan evaluasi yang kontinyu pula agar bisa tepat sasaran. Konsep ini mengajarkan kita agar selalu berkaca pada diri sendiri, bukan melihat orang lain, karena masih banyak yang perlu kita benahi dari diri kita.
4. Miryokuteki hinshitsu: Nilai keindahan (di samping nilai fungsi). Mempunyai fungsi saja tidak cukup bagi sebuah produk untuk mempunyai nilai lebih. Jika tidak berfungsi maka produk tersebut tidak ada gunanya atau rusak. Fungsi sudah menjadi sebuah standar. Sepeda motor sebenarnya sudah cukup untuk menjadi sebuah alat transportasi selama ia bisa menggerakkan mesinnya dan mengangkut penumpangnya. Namun demikian, Yamaha selalu memberikan nilai lebih dari sekedar itu. Sebagai contoh adalah Yamaha Mio yang secara khusus ditujukan untuk kaum wanita. Mulai dari nama yang mencerminkan image dan kualitasnya, stiker yang feminin namun elegan, sistem transmisi yang mudah dipakai, dan tempat duduk dan pijakan kaki yang khusus didesain agar nyaman dikendarai para wanita Indonesia adalah nilai-nilai tambah dari sekedar fungsi dasar sebuah sepeda motor. Ini semua akan membuat Yamaha Mio mendapatkan tempat yang lebih spesial di hati kaum wanita ketimbang Honda Tiger misalnya. Demikian juga manusia, kita tak mau hanya menjadi manusia yang datar-datar saja. Kita tak mau hanya menjadi manusia yang bangun-tidur-sampai-tidur-lagi tanpa memberi nilai tambah bagi sekeliling kita. Sebagai makhluk pencipta Yamaha Mio tentunya kita harus bisa memberi nilai tambah yang lebih. Fungsi dasar kita sebagai manusia terjalankan dengan baik dan sekeliling kita merasakan suatu efek yang lebih baik ketika kita berada di tengah-tengah mereka. Contoh mudahnya adalah mengajak tetangga untuk bersama-sama memisah-misahkan jenis sampah yang dibuang. Tak cukup hanya dengan membuang sampah, kita selangkah lagi lebih maju agar dapat memanfaatkan barang-barang yang dianggap sudah tidak bernilai lagi (daur ulang). Ajak saja mereka yang mau mengkoordinasi dan semua untuk berpartisipasi. Tak perlu alat yang mahal, cukup 3 jenis keranjang yang berbeda. Bagi yang kurang mampu bisa dibantu. Di saat yang sama kita berusaha menyelamatkan lingkungan dan juga bersilaturahmi. Indah, kan?
Rasanya 4 konsep dasar Total Quality Management ini tidak terlalu susah untuk kita terapkan. Tak perlu muluk-muluk, mulai saja dengan yang mudah namun pastikan konsisten. Mulailah dari diri kita yang nantinya akan membawa pengaruh positif pada lingkungan sekitar. Dan mulailah dari sekarang.
Inilah yang telah berhasil membawa Toyota menjadi pemuncak di pasar otomobil dunia. Motonya “Moving You Forward” bukan sekedar penghias ruang iklan yang kosong. Toyota tidak hanya menggerakkan penumpangnya ke depan secara fisik, tapi lebih dari itu. Toyota mengajak kita untuk lebih maju dengan teknologi Hybrid-nya yang rendah emisi sehingga ramah lingkungan. Budaya untuk sedikit demi sedikit menghilangkan hal-hal yang tidak berguna untuk meningkatkan kualitas ini tidak hanya berlangsung saat jam kerja di pabril-pabrik Toyota. Budaya ini melekat di hati dan teraplikasikan di kehidupan sehari-hari para pegawainya mulai dari CEO sampai tukang kebunnya. Pengguna Toyota seharusnya juga lebih berkualitas namun tetap ramah lingkungan seperti mobilnya. Bagi yang belum punya Toyota, mari tetap kita jadikan diri kita agar lebih berkualitas dan ramah lingkungan agar suatu saat nanti tidak malu kalau harus mengendarainya.
Total Quality Management untuk Revolusi Budaya? Kenapa tidak?!? Kalau Toyota saja bisa, pasti kita juga bisa!
Wah Iyun, benar benar ulasan yang sangat bagus. saya setuju kalau kita memang harus memperhatikan lagi lebih mendalam hal2 mendasar yang kita butuhkan untuk bisa menerapkan moto “moving you forward” itu juga. salah satunya dalam bagaimana caranya me-manage diri kita supaya kita bisa memfungsikan semua “tools” yang kita punya lebih optimal.
Contoh dari perusahaan Toyota yang dibahas rasanya ngena banget deh buat kita warga Indonesia yang masih jadi terbelakang dan belum bisa berfikir maju kedepan. seperti yang lo bilang, step2 tersebut nggak susah kok buat diterapkan. yang penting kuncinya: start from ourself, start from the heart!!
Hello Ian, kalau dilihat dari sejarahnys, ternyata Jepang juga tidak menemukan TQM dari scratch, kalau tidak salah, mereka mengembangkan dan menyesuaikan apa yang mereka pelajari dari Adwards Deming yang terkenal dengan PDCA-nya (Plan, Do, Check, Act) dan sistem statistiknya yang terkenal setelah perang dunia ke dua.
Selain itu, TQM di Toyota juga banyak belajar dari sistem retail (supermarket di Amerika) dari segi Just in Time-nya. Pada saat ini Toyota, baik quantity dan quality produksi-nya sudah melampaui General Motor (GM) yang disebut sebagai perusahaan mobil terbesar di dunia. Dan bahkan mereka sekarang belajar dari Toyota bagaimana memproduksi mobil Hybrid secara efficient.
Kita, di Indonesia, begitu banyak kedatangan para ahli yang mengajarkan kita semua teori dan praktek di lapangan, tetapi hampir tidak ada satu bidangpun yang bisa kita banggakan di dunia internasional. Selama ini menurut pengamatan aku, hanya Indofood dengan mie instant-nya yang bisa berbicara di dunia internasional. Jumlah produksinya melebihi Nissin dan para produser mie yang lain di dunia. Jelas Indofood, terlepas dari masalah lain, harus dilihat sebagai aset nasional yang harus digandeng oleh pemerintah.
Bukan hanya terbatas pada Indofood saja, tetapi para pengusaha atau perusahaan yang lain harus digandeng pula oleh pemerintah dan dijadikan ujung tombak dalam berhugungan dan negosiasi dengan bangsa lain dalam konteks bisnis global. Pemerintah harus membatasi para politisi yang tidak tahu soal dagang atau entrepreneurship untuk turut campur di bidang ini. Mereka harus ditarik keluar dari KADIN, BAPENAS dan lembaga ekonomi lainnya.
@ian
iya jawaban lisan dan tulisan gak selalu ngebosenin, cuma kalo keseringan jadi males juga ya….tapi emang gak gampang melaksanakannya, bener kata WS Rendra “perjuangan adalah melaksanakan kata-kata”
kata-katanya seabrek, tapi pelaksanaannya pelan-pelan dan satu-satu ya….seenggaknya kita berusaha mengamalkannya ya
semangat masyarakat Jepang untuk membangun kembali negaranya setelah hancur-hancuran di Perang Dunia 2 memang perlu diacungi jempol.
saya jadi ingat kelas komparatif ekonomi yang saya ambil dulu, saat itu kita menghabiskan hampir 2 kelas khusus untuk membahas Toyota’s success story, dan dia juga menjelaskan tentang TQM ini, khususnya mengenai Kaizen.
ngomong2, agak menyimpang dikit, kenapa yah invasi produk dan kultur Jepang gak pernah menyebabkan munculnya terminologi Japanization of the world? padahal ada istilah Americanization atau Westernization.
ngomong2, agak menyimpang dikit, kenapa yah invasi produk dan kultur Jepang gak pernah menyebabkan munculnya terminologi Japanization of the world? padahal ada istilah Americanization atau Westernization.
Good question. Kalau menurut pendapat saya, sebelumnya harus ditanyakan dulu: yang mempopulerkan istilah kata Americanization dan Westernization itu siapa di negara ini? Atas dasar apa? Dan yang berhak memberikan denotasi negatif untuk istilah-itilah tersebut siapa? Kenapa?
Siapapun dan apapun itu, mungkin ngerasa “musuh”-nya bukan Jepang. Atau belum. Kalau dalam politik dan ekonomi, semua bisa jadi musuh. Tapi kalo dalam aspek ..mmm taro lah yang lebih sensitif (pada tau donq apaan?), sudah pasti kebaca yang mana lawan mana.
Saya setuju dengan ian; Toyota aja bisa, kenapa kita engga? Yep. Kekurangan dan keunggulan suatu budaya bisa saja dialami budaya yang lain juga, terlepas dari “bendera” yang dikibarkan. Semua kembali kepada nilai kemanusiaan suatu bangsa. Selanjutnya, bukan ngga mungkin TQM versi Indonesia nantinya lebih dahsyat, ..bisa bikin mobil terbang gitu.
Sebagai Warga Jakarta saya ingin Warga Jakarta semuanya disiplin, hormat pada orang lain seperti orang Jepang dan Toyota adalah salah satu karya bangsa Jepang yang patut kita acungi Jempol.
Mari kita selalu Belajar dan Belajar
Boleh saya menambahkan?
mungkin bangsa kita sudah banyak benchmarking sana-sini. tapi masalahnya kita belum punya tujuan yang jelas dan paten. orang jepang sebelum mulai udah punya tujuan hidup, yaitu : kesempurnaan dan efisien. so, kalo ternyata dalam batas waktu yang sudah ditentukan, mereka ga bisa memenuhinya, berarti mereka menganggap diri mereka ga berguna, so? bunuh diri aja…
Di bangsa kita belum punya itu (bukan nyaranin bunuh diri y.. soalnya itu dilarang), maksudnya tujuan yang jelas. kita terlalu kebawa hal-hal dari luar. misalkan, tujuan kita ke bandung, udah sampai di tol gate, ada yang bilang, mendingan ke purwakarta, belum sampe ke purwakarta, ada yang bilang lebih enak ke bali.
tau bandung juga belum, tapi udah tergiur dengan hal yang lain dan belum tentu itu lebih baik.
kalo penerus-penerus bangsa kita diajarin focus, mungkin kita bisa seperti japanese…
maaf kalau ada yang salah…
October 23, 2007 at 11:06 pm
ya, semoga karakteristik bangsa kita yang beragam suku ini bisa mengadopsi pola-pola ini, ga ada ruginya (selama yang saya baca).
DIRGAHAYU DIPANTARA!!! DIRGAHAYU SANG CAKA!!!!