Sumpah Pemuda di Era Globalisasi?
Joko: Ndro, tau gak loe tanggal 28 Oktober tuh diperingati sebagai hari apa?
Hendro: Mene ketehe’. Tergantung harinya lah, minggu ato senen. Emangnya tanggal segitu hari apa?
Joko: Wah parah loe…Tanggal 28 Oktober tuh Hari Sumpah Pemuda. Gitu aja kagak tau loe. You suck, man!
Hendro: Sumpe loe?!?
Joko: It’s not Sumpe Loe, but Sumpah Pemuda!
Terlepas dari benar-benar terjadi atau tidaknya percakapan di atas, tapi itulah gambaran kasar percakapan generasi Milenium kita, meski nama mereka lebih mencerminkan nama-nama generasi X. Pertanyaannya memang bisa jadi, “Apakah Sumpah Pemuda masih relevan di era globalisasi sekarang ini?”. Saat ini bahasa Inggris sudah seperti Bic Mac dkk (hamburger) yang yang dulunya dianggap makanan mewah namun sekarang sudah hampir sekelas bakso urat. Atau malah lebih enak bakso urat ketimbang burger-burger bermacam nama yang bahkan sudah dijual di pinggir jalan itu. Begitu juga bahasa Inggris, meski masih mahal untuk ikut kursusnya, tapi kemampuan berbahasa Inggris bukan lagi hal yang menakjubkan dibanding beberapa dekade ke belakang.
Lihat saja, lagu-lagu Indonesia sudah banyak yang berlirik bahasa Inggris, dialog-dialog di sinetron dan film memakai selipan bahasa Inggris, ngobrol dengan teman memakai bahasa Inggris, bahkan memesan kopi di angkringan Jogja pun sudah bisa memakai bahasa Inggris, “Pak Jo, black coffee, please!“. Memang bukan hal salah dan buruk bila bahasa Inggris merasuki kehidupan sehari-hari kita, justru itu membuatnya semakin berwarna. Tetapi penggunaannya juga harus disesuaikan dengan waktu, tempat, dan tujuan. Di kelas, memang tempatnya. Di kantor, urusan bisnis. Di kelompok belajar, untuk belajar.
Lalu bagaimana dengan para pemuda jaman perjuangan dulu yang mengambil sumpahnya tanpa persetujuan kita yang semakin hari semakin tidak tahu (dan tidak mau memakai) bahasa Indonesia yang baik dan benar? Meski demikian, sumpah itu bukan tanpa tujuan. Mereka tentunya juga telah mengkalkulasi hal yang terjadi di masa ini. Justru karena itulah mereka bersumpah bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan kita. Bahasa yang menjadi identitas bangsa Indonesia. Bahasa yang bisa menunjukkan kebanggaan kita. Karena memang dari bahasa lah sebuah eksistensi sebuah bangsa dapat terlihat. Demikianlah sebuah sumpah tentang nasionalisme.
Di saat kita prihatin dengan bahasa Inggris yang sudah mulai menggeser posisi bahasa Indonesia, ada saja yang ikut memperparah keadaan. Ya, apalagi kalau bukan bahasa gaul? Bahasa yang entah datang dari mana ini menjadi suatu imej baru bagi mereka yang ingin dicap gaul. Sedangkan gaul sendiri entah apa artinya. Kata secara digunakan tidak pada tempatnya dengan sengaja, ’saya’ dirubah menjadi akika atau eike, belum lagi mene ketehe’, bo’, sumpe lo, dan istilah-istilah lain yang entah diciptakan siapa. Tapi memang harus diakui bahwa istilah-istilah gaul ini cukup ampuh sebagai tagline iklan-iklan komersil. Dan sebenarnya saya pun termasuk salah satu yang terjangkit gaulisme ini dengan ikut-ikutan memakai istilah yang hanya dimengerti sejumput orang tertentu, seperti cenger dan ciplokanong. Entah apa artinya.
Sekarang coba bayangkan bila dalam beberapa tahun ke depan semua orang berbicara dalam bahasa Inggris yang dicampur bahasa gaul dan bahasa Indonesia menjadi suatu hal yang langka di kalangan anak muda. Lantas di mana identitas sebagai bangsa Indonesia? Ingin seperti negara Commonwealth, tidak bisa karena tidak semua orang Indonesia bisa berbahasa Inggris. Mengaku sebagai bangsa Indonesia yang bermartabat dan mempunyai rasa nasionalisme tinggi juga bukan, karena semakin sedikit orang yang bangga berbahasa Indonesia. Lalu apakah kita harus menjadi Negara Gaul?
Belajar bahasa Inggris itu baik. Kita tidak mau tertinggal di jaman yang semakin cepat ini kan? Kalau orang lain bercakap-cakap dalam bahasa Inggris dan kita tidak mengerti, hal ini juga berarti kerugian kita tidak bisa menangkap informasi. Bahkan sekarang bukan hanya bahasa Inggris saja yang populer melainkan juga bahasa Perancis, Spanyol, Cina (Mandarin), Jepang, Korea, dan Arab. Sebagai sebuah bangsa yang ingin maju kita harus menyesuaikan diri dengan perkembangan. Namun bukan berarti kita meninggalkan identitas kita. Pelajarilah bahasa apapun. Belajarlah bahasa Inggris, Perancis, Cina dan sebagainya untuk kebaikan bangsa ini. Dengan mengerti bahasa asing diharapkan kita bisa menyerap ilmu-ilmu yang mereka miliki, lalu mengajarkan ilmu itu pada orang lain sehingga menjadi sebuah kebaikan dan kemajuan bagi bangsa Indonesia. Kita belajar bahasa Inggris adalah untuk bisa membaca buku-buku dalam bahasa Inggris, berkomunikasi dengan orang yang berbahasa Inggris, menonton berita berbahasa Inggris, dan dan hal-hal lain yang bertujuan untuk membuat kita mampu menangkap informasi lebih. Kita belajar bahasa Inggris bukan untuk menjadi orang Inggris.




haiyah Ian you can not tahan untuk tidak ngomelin generasi muda haaa?!
gue ketawa ngebayangin “Pak Jo, black coffee, please!” trus dijawab “sik tho mas”
bahasa Inggris emang luar biasa. bahkan orang Belanda aja banyak yang bertutur kata dalam bahasa Inggris dibandingkan yang berbahasa Belanda. sampe temen yang pernah ikut kursus bahasa Belanda di Erasmus Huis brenti karena tau di Belanda sendiri justru bahasa Inggris yang jadi bahasa sehari-hari. Kenyataan tersebut juga diamini ma orang2 Indonesia yang tinggal di sana. buat Inggris sukses banget berkat prinsip “British Rules The Wave” dan ampe Union Jack flagnya menggambarkan delapan arah mata angin pertanda Inggris penguasa dunia. sukses besar
*Hayo loh Ian, dikau ndiri sekarang di WDC….hayo mulih ke mari kalo emang nasionalisme
Berada di mana pun semestinya tidak merubah rasa nasionalisme. Kalau saya belum balik ke Indonesia bukan berarti saya gak punya rasa nasionalisme donk…secara itu kan, halah….secara lagi!
Yah begitulah…
hehehe….tapi Yan…nasionalisme atau rasa cinta kepada Indonesia baru terasa kalo lagi di luar negeri….banyak orang bilang gitu contohnya pas jaman sekolah dulu memberikan hormat kepada merah putih dengan kaki bengkok kanan kiri alias pegel, tapi pas tinggal di Amrik denger Indonesia Raya aja langsung meneteskan air mata. Ibarat peribahasa Jauh Bau Bunga Dekat Bau Tahi.
sementara saya khususnya, gak berasa apa-apa alias biasa-biasa aja. saya emang prefer berbicara bahasa Indonesia tanpa campur bahasa daerah atau asing kecuali jika lawan bicaranya begitu baru saya nimpalin
jadi mau tukeran tempat ama sayah? let me stay at WDC then you come back home to newyorkyakarta hadiningrat. pengen tau rasanya kangen ma Indonesia neh
hehhe. judul blog gue , bahasa inggris (*^_^*)
sek..sek… mas…
blom nyambung,..
bahasa indonesia situ butuh loading di saya…
bukti kalo bahasa gaul lebih komunikatif di saya
Snydez:
Ya boleh aja lah nama blog pakai bahasa inggris ^_^
Leksa:
Hahaha…memang bahasa gaul itu terasa lebih komunikatif. Saya nggak bilang kalau bahasa Inggris ataupun bahasa gaul itu nggak bagus. Di saat-saat tertentu justru bahasa Inggris, gaul, dsb lebih komunikatif. Dan menggunakan bahasa Indonesia sesuai EYD setiap saat juga kan malah terdengar aneh dan dipaksakan seperti di (beberapa) film-film indonesia.
Maksud saya, meskipun kita telah memperkaya diri dengan kemampuan bahasa lain, tapi hendanya tidak meninggalkan identitas kita sebagai bangsa, salah satunya melalui bahasa Indonesia.
Saya kalo ngobrol juga campur kok pakai “Jasa Garis” (Jawa-Indonesia-Gaul-Inggris).
“Secara keadaan sudah semakin complicated, saya jadi mumet”
Untuk bangga menjadi orang Indonesia, apakah orang harus berwarganegara Indonesia juga? Memiliki kepedulian terhadap keadaan negara dan rakyat Indonesia apakah harus di sana? Hanya bisa bergerak disana?
Tujuan Sumpah Pemuda tersebut adalah, setidaknya menurut saya, untuk menyatukan semua pemuda/pemudi Indonesia entah dari daerah Sumatra, Jawa, Tionghia, Ambon demi kemajuan dan ketentraman masa depan Indonesia sebagai negara.
Dan menurut saya masih sangat amat relevan di jaman sekarang ini.
Sumpah Pemuda ini bisa di pake sebagai semangat untuk menyatukan komunitas2 Indo dimanapun mereka berada, untuk memberi kepercayaan kepada para pemuda/pemudi komunitas tersebut untuk maju dan bersuara, untuk memberi dorongan bagi kita untuk terus meneruskan perjuangan mereka. Karena di jaman sekarang, dengan memasuknya beraneka-ragam budaya di keadaan Indonesia yg sedang goyang, sangat butuh peringatan akan pentingnya untuk bersatu supaya kita bisa befungsi di komunitas sebagai komunitas dan individu. Banyak godaan bagi kita, terutama karena kita masih dalam proses mendalami identitas kita, untuk memasuki (embrace) budaya laen secara total (full assimilation) karena budaya itu keliatannya wah, di anggep ‘cool’, lebih kerenlah di banding budaya Indonesia yg di anggep terbelakang, keadaan Indonesia yg sangat susah sekarang, dst.
Tapi jangan anggep, kalo ada dari kita berperilaku seperti ini, ini suatu hal yg ’salah’. Tetapi itu suatu hal yg natural, yg pasti akan terjadi karena keadaan membuka jalan untuk itu.
Apa yg kita harus fokusin bukan kesalahan/keburukan atas jalan yg dipilih seseorang, tetapi bagaimana kita bisa membantu mereka (dan orang2 laen) untuk mengikuti jalan yg lebih positip bagi mereka, supaya fondasi identitas mereka bisa terbentuk dengan baek dan menjadi kuat jadi kalo mereka keluar menghadapi jaman sekarang (jaman informational dan globalisasi), mereka tidak akan gampang goyang.
Jadi buat saya, Sumpah Pemuda masih sangat amat relevan dan sangat amat penting bagi kita semua, terutama yg masih termasuk pemuda/pemudi Indonesia.
btw, situs ini sangat bagus! Saya suka baca, tapi baru pertama ini beri komen. Salut Ian kepada post ini!
Salut juga kepada para anggota situs ini!
Jakarta dan Indonesia butuh sekali orang2 seperti kalian.
Keep the articles coming!
hmmm…negara gaul yak…???
duka ah..abdi mah jelma alit….
ahahahaa……jadi nyunda gini….
Tasaaaa: alert yak kayanya udah ada calon2 kontributor baru nih…tangkapin tuh biar tambah rame blog ini
Ian: mungkin bukti cinta pada Indonesia bisa diekspresikan pada kepedulian pada produksi dalam negeri Indonesia yang banyak banget pastinya dan bisa apa aja. fenomena bridge blogging bisa dianggap sebagai wujud cinta kepada Indonesia, trus kritik dan saran terhadap pemerintahan bisa dibilang wujud cinta kepada Indonesia karena selama masih ada rasa cinta pasti ada rasa peduli. meski masih relatif tapi gak apa.
mengenai bahasa, ini akibat timbal balik media dan anak muda, kalo nonton TV, denger radio, baca majalah remaja, dll pasti kita suka nemu istilah2 baru dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia gaul dsb…darimana mereka tau istilah tsb…dari hasil kumpul bareng teman biasanya ya atau memang nekad mempopulerkannya atas ide sendiri.
*mencintai produksi dalam negeri bisa jugak berarti mencintai gadis2 Indonesia…jangan lupa Ian…semancung2nya bule WDC tetep lebih enak menikmati sambel ulek buatan gadis Indonesia peace
Nadia:
Ya begitulah sebenarnya pesan saya di post ini. Saya pribadi tidak menyalahkan mereka yg “beridentitas” lain, karena bukan kesalahan juga. Hanya saja proporsinya perlu diperhatikan.
Terima kasih atas dukungannya!
Aul:
Saya nggak ngerti blas hehehe…
Yonna:
Mencintai produksi dalam negeri = mencintai gadis2 Indonesia? Gadis2 ya? Wah banyak donk hahaha…
Tapi kalo bulenya udah belajar bikin sambel terasi yg enak bgt gmn donk
maJu TruSsSs PaNtAnG muNdUr…………..
maKiN maJu gEneraSi mUdA mAkIn JaYa InDoNeSiA
sEmAnGaT……….
BeLaJaR truSsS byAr iNdOnesIa mAjU
MoGa suKsEs
Hey, check out this Facebook group:
Kongres Pemuda III
Kita bikin negara baru aja yuk, namanya Negara Kesatuan Republik Neo-Indonesia. JBRB jadi kabinetnya. Gue jadi sie konsumsi, ahakhahakahak.
Seriously, do you people think there’ll be a revolutionary youth movement ahead?
@ Marisa:
Mau aja tuh…saya bagian sie hiburan hahaha…
Kalau soal akan ada atau tidaknya pergerakan pemuda revolusioner, menurut saya ya tergantung bagaimana keadaan kita saat itu.
Kebanyakan revolusi kan terjadinya saat keadaan sudah sangat saturated dan rakyat butuh sesuatu yang baru (yang lebih baik). Sebelum titik jenuh itu pun sebenarnya bisa, tapi kan kita biasanya masih lebih memilih untuk menikmati saja hidup yang sudah susah ini daripada membuatnya tambah susah kan
Kalau bukan kita yang dicopet, kemungkinannya lebih kecil kan untuk kita ngejar pencopet yang nyopet dompet seseorang di seberang jalan sana?
Mumpung lagi membicarakan Sumpah Pemuda, ada yang pernah mampir ke group ini: http://www.facebook.com/group.php?gid=8167022599 ?
Beberapa teman kuliah saya mempunyai concern yang sama, meskipun bukan hanya di masalah bahasa. Ternyata mereka dengan serius mau mengadakan Kongres Pemuda III, dengan tambahan beberapa ayat di Sumpah Pemuda.
Hayuk hayuk, yang berminat silakan bergabuuung…
@ Ndari:
Beneran mau ada Kongres Pemuda III?
Hm-hm, setuju. Bener banget itu. Sekedar kasih input aja.
Lebih baik juga jangan terkesan jadi masokis, keadaan susah itu juga jangan dieksploitasi. Kalo urusan orang susah, realitanya kita ngga bisa ngebikin 70 juta orang yang hidup di bawah garis kemiskinan semua itu jadi tajir mendadak. Ngga usah seakan-akan dikejar perasaan bersalah karena elo disitu, dan mereka disana, dan saya disini.
Kalaupun bicara susah, semua orang saat ini susah mental, bukan hanya susah jasmani. Warga negara kota ini secara keseluruhan bukan sekelompok manusia yang secara spiritual sudah terpenuhi (note: terlihat relijius dan moralis tidak menjamin seseorang itu secara spiritual sudah terpenuhi loh.), dalam keadaan begitu, jangan harap hal-hal seperti revolusi budaya dan sumpah pemuda itu cukup signifikan untuk diperjuangkan. “Udah butek, lo bikin makin butek lagi.”, kasarnya gitu ..seperti yang dibilang ian sebelumnya.
Berusaha itu baik, sekecil apapun, itu baik ..tapi hati-hati, nanti terkesan *jauh* dari generasi kita (hakkkk, kitaaaa!?) sendiri. Generasi kita sendiri kan yang beberapa orang bilang hedonis, apatis, korban westernisasi, dan lain sebagainya?
Semua itu ada alesannya, sistem yang ada ngelatih kita untuk saling mengkotakkan satu sama lain. Sistem memang tidak menekan secara langsung, tapi mengijinkan adanya tekanan. Liat aja media. Kalo versi sinetron, dikau bisa saja sang protagonis dan daku sang antagonis. Ngga bakal nyatu.
Seperti pendapatnya Nadia:
Kita semua sebenarnya udah dalam titik jenuh. Saya pribadi kesian liat orang seumuran saya udah dicekokin segala macem prescription drugs, padahal mereka tuh ngga kenapa-napa. Hanya sekedar jenuh, itu aja. Cerdas tapi ditumpulkan. Keadaan itu lah yang dipakai demi keuntungan pihak-pihak tertentu.
Dan juga oleh mereka yang hanya bisa memanfaatkan situasi hanya demi kecemerlangan reputasinya sendiri. “You hina and sinful, and because I say you hina, then I is so very good.”. Apakah harus selalu seperti itu?
Jujur aja, mo sumpah pemuda kek mo sumpah pocong kek, gue ngga mau nyebut ayat-ayatnya barengan ma orang-orang yang masih membenci bagian dari generasinya sendiri.
Ngga bakal ada kesatuan pemuda, kalau kita ngga belajar saling percaya satu sama lain. Saling percaya kalau dalam subkultur apapun, dalam aktualisasi diri jenis apapun, setiap pemuda/i Jakarta (dan Indonesia) bisa mengkinerjakan segala sesuatu sebaik-baiknya demi kemajuan bersama. On their own free will.
Intinya. Hayo, yang konservatif unjuk jari, yang liberal unjuk jempoool. Yuk mareeehh.. kita berjoged.
@ Marisa:
“Lebih baik juga jangan terkesan jadi masokis, keadaan susah itu juga jangan dieksploitasi. Kalo urusan orang susah, realitanya kita ngga bisa ngebikin 70 juta orang yang hidup di bawah garis kemiskinan semua itu jadi tajir mendadak”
Hehe…saya bukannya mengeksploitasi. Masa hanya karena ngomong keadaan ini sudah susah saya dianggap gitu hehehe…Inti komen saya kmrn tuh bahwa kita bisa memulai revolusi kapan saja, kalau mau, tapi yg jelas yg dibutuhkan berbeda.
Dan benar kata Nadia, kita nggak perlu nunjuk sana-sini siapa yg salah. Jadi, ayo kita rangkul mereka. Saya sejak beberapa saat yang lalu juga sudah memikirkan bagaimana untuk bisa begitu. Sarkasme saja tidak cukup, kan? Makanya itu JBRB meluncurkan program Berburu hehehe…promosi
Jadi mending saya sebagai newbie tanya sama Marisa: Lalu, gimana nih kita agar kita bisa mencoba membuat kondisi masyarakat yang “Udah butek, lo bikin makin butek lagi” sedikit lebih baik dan tetap tidak “jauh dari generasi kita sendiri” dan bisa tetap nyatu?
Saya sepenuhnya sadar bahwa kita harus melakukan sesuatu. Menuliskan opini (seperti saya ini) lewat internet baik juga, tapi perlu tindakan nyata kan? Kalau tidak, nanti saya malah dicap tukang cuap-cuap gak jelas…maka itu JBRB mengadakan program Berburu tahun ini, promosi lagi hehehe…
Wah salam Ian dan Marisa, dan juga ndari. Seneng bisa diskusi dengan kalian! Kalo beneran mau ada Sumpah Pemuda lagi, aku dengan seneng hati pengen partisipasi. Bagi kami pemuda/pemudi di sebrang sana bagaimana kita bisa? Kalo berwarganegara non-Indonesia bagaimana juga? Apa masih bisa gabung?
Marisa, untuk menjawab pertanyaan-mu, “apa akan beneran ada revolutionary youth movement?” Kalo saya bisa jawab, saya akan bilang “yes” dan “harus”. Tetapi revolusi anak muda yg saya bahas disini bukan revolusi instant, dimana perubahan akan langsung terjadi dan keliatan di kenyataan. Ini revolusi yg butuh kesabaran dan keteguhan kita karnea prosesnya lama, mungkin butuh beberapa generasi untuk melihat hasilnya (atau tak ada hasilnya). Kenapa menurut saya penting dan harus ada revolusi seperti ini, yg datang dari anak2 muda?
Karena lewat kitalah dimana akar2 keburukan2 generasi sebelomnya, yg di maksud disini akar2 KKN dst yg sudah mewabah dan merancuni negara kita sampe daging tulang2nya.
Sewaktu saya masih belasan tahun, tinggal di Indonesia, dan melihat proses revolusi instant dimana pemuda/pemudi berhasil menurunkan Soeharto, dan rusuh2 yg terjadi sebelomnya dan sesudahnya, dan mungkin masih terjadi disana, saya mikir bahwa harus ada yg berubah, harus ada revolusi yg terjadi. Negara kita memang sudah menemukan titik jenuh, sampe banyak orang mengangan2kan masa2 sebelom keturunan Soeharto, dimana keadaan lebih baek, lebih adem ayem, lebih gampang. Dan untuk merubah pemikiran itu pasti sangat susah, karena pasti orang tak mau bikin keadaannya tambah susah.
Tetapi, walo susah, apakah sama sekali “tidak bisa”?
Para pendiri Sumpah Pemuda pertama mengerti kesusahan perjuangan mereka untuk mendirikan negara Indonesia yg bisa menyatukan mereka di bawah satu bendera. Supaya anak2 mereka bisa bebas dari “the stifling colonial rule” dan bebas mendapatkan pendidikan, terutama pendidikan yg demokratis, yg adil bisa di dapatkan oleh semua, dst.
Ideal2 mereka masih belom tercapai, tetapi apakah kita harus mundur dan menerima keadaan begitu saja?
Lewat kita membesarkan anak kita dengan demokratis kita sudah melakukan suatu hal yg revolutionary, karena pasti ini akan memberi effekt jangka panjang bagi lingkungan lewat gerak-gerik anak kita di lingkungannya. Dan siklus yg muncul semoga siklus yg positip bagi dirinya, keluarga, dan lingkungan serta negara.
The roots of our forefathers, and even ourselves, are too far entrenched in the ground to break apart, but the roots of our children are just starting to grow, and it is to them that we owe this revolution, a revolution of culture (like JBRB), mind, and spirit.
[...] Sumpah Pemuda di Era Globalisasi, authored by [...]