<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Berinvestasi Melalui Membaca</title>
	<atom:link href="http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/03/13/berinvestasi-melalui-membaca/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/03/13/berinvestasi-melalui-membaca/</link>
	<description>Bukan Sekedar Advokasi, Kami Berkontribusi</description>
	<lastBuildDate>Sun, 07 Mar 2010 05:02:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Qinimain Zain</title>
		<link>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/03/13/berinvestasi-melalui-membaca/#comment-2090</link>
		<dc:creator>Qinimain Zain</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 10:33:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/?p=242#comment-2090</guid>
		<description>(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)

Strategi Pendidikan Milenium III
(Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
Oleh: Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. JIKA rabun ada kacamata rabunnya, tetapi jika malas bagaimana? (Qinimain Zain)

DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.
Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah? 

Readers,
Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.
Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun - seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?
Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau  menonjolkan studi pustaka  di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras,  kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.
 
Readers,
Lalu, mengapa otak orang lain unggul. Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu,  Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian. Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia  andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata.   Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi,  Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.

Readers,
Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan eksakta, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.
Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati (terpaksa(?)) mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science * dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka). 

Readers,
Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya. 

BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)

BAGAIMANA strategi Anda?

Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com). 

*THANK you very much for Dr Heidi Prozesky – SASA (South African Sociological Association) secretary about Total Qinimain Zain: The New Paradigm Scientific System of Science - The (R)Evolution of  Social Science for the Higher Education and Science Studies sessions of the SASA Conference 2008.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)</p>
<p>Strategi Pendidikan Milenium III<br />
(Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)<br />
Oleh: Qinimain Zain</p>
<p>FEELING IS BELIEVING. JIKA rabun ada kacamata rabunnya, tetapi jika malas bagaimana? (Qinimain Zain)</p>
<p>DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.<br />
Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah? </p>
<p>Readers,<br />
Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.<br />
Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun &#8211; seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?<br />
Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau  menonjolkan studi pustaka  di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras,  kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.</p>
<p>Readers,<br />
Lalu, mengapa otak orang lain unggul. Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu,  Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian. Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia  andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata.   Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi,  Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.</p>
<p>Readers,<br />
Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan eksakta, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.<br />
Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati (terpaksa(?)) mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science * dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka). </p>
<p>Readers,<br />
Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya. </p>
<p>BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)</p>
<p>BAGAIMANA strategi Anda?</p>
<p>Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: <a href="mailto:tqz_strategist@yahoo.co.id">tqz_strategist@yahoo.co.id</a> (www.scientist-strategist.blogspot.com). </p>
<p>*THANK you very much for Dr Heidi Prozesky – SASA (South African Sociological Association) secretary about Total Qinimain Zain: The New Paradigm Scientific System of Science &#8211; The (R)Evolution of  Social Science for the Higher Education and Science Studies sessions of the SASA Conference 2008.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sherwintobing</title>
		<link>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/03/13/berinvestasi-melalui-membaca/#comment-1909</link>
		<dc:creator>sherwintobing</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Mar 2008 12:29:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/?p=242#comment-1909</guid>
		<description>@ingki:
haha, kok penulisnya juga dipromosiin? :D mudah2an artikel ini bisa membantu kawan..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ingki:<br />
haha, kok penulisnya juga dipromosiin? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  mudah2an artikel ini bisa membantu kawan..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ingki</title>
		<link>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/03/13/berinvestasi-melalui-membaca/#comment-1902</link>
		<dc:creator>ingki</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 14:58:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/?p=242#comment-1902</guid>
		<description>@ sherwintobing: terima kasih yuki, pelatihannya baru aja kelar..pada bagian akhir pelatihan itu saya tunjukkan tulisan yuki sekaligus saya promosikan siapa yuki pada sekitar lima puluh peserta di depan saya..harapan saya agar mereka terprovokasi untuk segera mulai menulis..bahwa aktivitas menulis dan membaca layaknya telur dan ayam..bahwa menulis bisa soal apa saja dan dengan media apapun juga..sebuah provokasi bahwa cara termudah untuk mulai menulis adalah dengan membaca sebanyak-banyaknya ini, sedang saya harap-harap cemas akan hasilnya..semoga teman-teman peserta itu benar-benar terprovokasi dan terbakar semangatnya..salam..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ sherwintobing: terima kasih yuki, pelatihannya baru aja kelar..pada bagian akhir pelatihan itu saya tunjukkan tulisan yuki sekaligus saya promosikan siapa yuki pada sekitar lima puluh peserta di depan saya..harapan saya agar mereka terprovokasi untuk segera mulai menulis..bahwa aktivitas menulis dan membaca layaknya telur dan ayam..bahwa menulis bisa soal apa saja dan dengan media apapun juga..sebuah provokasi bahwa cara termudah untuk mulai menulis adalah dengan membaca sebanyak-banyaknya ini, sedang saya harap-harap cemas akan hasilnya..semoga teman-teman peserta itu benar-benar terprovokasi dan terbakar semangatnya..salam..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sherwintobing</title>
		<link>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/03/13/berinvestasi-melalui-membaca/#comment-1901</link>
		<dc:creator>sherwintobing</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 08:45:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/?p=242#comment-1901</guid>
		<description>Silahkan kawan, mudah2an bisa bermanfaat, hehe. Cerita-cerita yah hasil pelatihannya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Silahkan kawan, mudah2an bisa bermanfaat, hehe. Cerita-cerita yah hasil pelatihannya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ingki</title>
		<link>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/03/13/berinvestasi-melalui-membaca/#comment-1900</link>
		<dc:creator>ingki</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 01:36:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/?p=242#comment-1900</guid>
		<description>bung yuki, mohon izin untuk menggunakan artikel &quot;Berinvestasi Melalui Membaca&quot; sebagai salah satu ilustrasi untuk pelatihan di FH Unair pada hari ini..salam...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bung yuki, mohon izin untuk menggunakan artikel &#8220;Berinvestasi Melalui Membaca&#8221; sebagai salah satu ilustrasi untuk pelatihan di FH Unair pada hari ini..salam&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: guebukanmonyet</title>
		<link>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/03/13/berinvestasi-melalui-membaca/#comment-1864</link>
		<dc:creator>guebukanmonyet</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Mar 2008 00:41:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/?p=242#comment-1864</guid>
		<description>Zaki: Setuju juga sih dengan pendapat itu walau pendapat bahwa masyarakat Indonesia kurang suka membaca tidak bisa juga disalahkan. Sama aja seperti pertanyaan, &quot;Lebih dulu mana telur apa ayam?&quot; :) 

Thanks yah buat dukungannya!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Zaki: Setuju juga sih dengan pendapat itu walau pendapat bahwa masyarakat Indonesia kurang suka membaca tidak bisa juga disalahkan. Sama aja seperti pertanyaan, &#8220;Lebih dulu mana telur apa ayam?&#8221; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </p>
<p>Thanks yah buat dukungannya!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: yonna</title>
		<link>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/03/13/berinvestasi-melalui-membaca/#comment-1861</link>
		<dc:creator>yonna</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Mar 2008 05:27:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/?p=242#comment-1861</guid>
		<description>jadi lucu ndiri baca kalimat ini:

&quot;Kita tahan menyelesaikan membaca Harry Potter yang tebalnya lebih dari 500 halaman dalam 1-2 hari, sementara untuk membaca satu bab saja dari buku akademis kita bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu&quot;

Hoeheoeho...saya betah baca tintin berjam2, tapi perlu waktu berminggu2 untuk menghilangkan pusing akibat membaca satu bundel dokumen yang setebel kasur itu :mrgreen:

ya emang gak semua orang indo hobi baca dan emang betul sistem kita yang kurang mendukung budaya membaca. toh kalo baca malah baca komik, tabloid gosip, majalah fashion. ya boleh aja baca gituan tapi diimbangi juga dengan bacaan yang lebih serius dan bermanfaat ya :)

setuju banget, budget yang dikeluarkan adalah untuk urusan penampilan melulu. untuk beli buku, hmmm sayang duitnya kali yach?! padahal membaca itu asyik banget loch, bisa mengantarkan kepada dunia imajinasi (kalo baca komik ato novel) dan memberikan ilmu pengetahuan (kalo baca buku serius). apalagi kalo hobinya menyendiri, wuiihhh asiknya baca buku di kamar atau mojok di ruang keluarga atau di atas pohon sekalian hehe. 

dengan memperbanyak baca, mengurangi kesempatan kita untuk nggosip, tawuran, hal2 gak penting lainnya. mengisi waktu dengan membaca itu asik banget apalagi kalo ada pointers2nya, jadi kalo kita lagi fast read tetep bisa nangkep inti per babnya.

orang itu malas membaca karena gak tau metode membaca yang benar. padahal dengan metode scanning dan skimming bisa menghemat waktu dan kita tetep tau apa isi buku tsb. kalo kita tau cara yang benar, maka membaca gak akan menjadi momok lagi. berlaku bagi bacaan serius. oke lah, ada saatnya kita harus proof read, tapi gak ada ruginya proof read itu loch?! meski mata pedes juga tapi asik lah, kita bisa mengetahui sesuatu jadi lebih detil.

ayo membaca :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>jadi lucu ndiri baca kalimat ini:</p>
<p>&#8220;Kita tahan menyelesaikan membaca Harry Potter yang tebalnya lebih dari 500 halaman dalam 1-2 hari, sementara untuk membaca satu bab saja dari buku akademis kita bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu&#8221;</p>
<p>Hoeheoeho&#8230;saya betah baca tintin berjam2, tapi perlu waktu berminggu2 untuk menghilangkan pusing akibat membaca satu bundel dokumen yang setebel kasur itu <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>ya emang gak semua orang indo hobi baca dan emang betul sistem kita yang kurang mendukung budaya membaca. toh kalo baca malah baca komik, tabloid gosip, majalah fashion. ya boleh aja baca gituan tapi diimbangi juga dengan bacaan yang lebih serius dan bermanfaat ya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>setuju banget, budget yang dikeluarkan adalah untuk urusan penampilan melulu. untuk beli buku, hmmm sayang duitnya kali yach?! padahal membaca itu asyik banget loch, bisa mengantarkan kepada dunia imajinasi (kalo baca komik ato novel) dan memberikan ilmu pengetahuan (kalo baca buku serius). apalagi kalo hobinya menyendiri, wuiihhh asiknya baca buku di kamar atau mojok di ruang keluarga atau di atas pohon sekalian hehe. </p>
<p>dengan memperbanyak baca, mengurangi kesempatan kita untuk nggosip, tawuran, hal2 gak penting lainnya. mengisi waktu dengan membaca itu asik banget apalagi kalo ada pointers2nya, jadi kalo kita lagi fast read tetep bisa nangkep inti per babnya.</p>
<p>orang itu malas membaca karena gak tau metode membaca yang benar. padahal dengan metode scanning dan skimming bisa menghemat waktu dan kita tetep tau apa isi buku tsb. kalo kita tau cara yang benar, maka membaca gak akan menjadi momok lagi. berlaku bagi bacaan serius. oke lah, ada saatnya kita harus proof read, tapi gak ada ruginya proof read itu loch?! meski mata pedes juga tapi asik lah, kita bisa mengetahui sesuatu jadi lebih detil.</p>
<p>ayo membaca <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: zaki</title>
		<link>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/03/13/berinvestasi-melalui-membaca/#comment-1859</link>
		<dc:creator>zaki</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2008 12:11:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/?p=242#comment-1859</guid>
		<description>Saya kurang sepakat kalo dibilang orang Indonesia kurang suka membaca. Orangnya sih banyak yang suka...tapi sistemnya yang tidak mendukung. Sistem pendidikan Indonesia yang tidak diajarkan untuk membaca. Apresiasi terhadap pembaca kurang, perpus kumuh, ato malah buku di perpus ga bermutu. Itu contoh kecil...jadi lagi-lagi manusia menurut saya tidak bisa disalahkan...

salam,

pelanggan setia blog ini</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya kurang sepakat kalo dibilang orang Indonesia kurang suka membaca. Orangnya sih banyak yang suka&#8230;tapi sistemnya yang tidak mendukung. Sistem pendidikan Indonesia yang tidak diajarkan untuk membaca. Apresiasi terhadap pembaca kurang, perpus kumuh, ato malah buku di perpus ga bermutu. Itu contoh kecil&#8230;jadi lagi-lagi manusia menurut saya tidak bisa disalahkan&#8230;</p>
<p>salam,</p>
<p>pelanggan setia blog ini</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ingki</title>
		<link>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/03/13/berinvestasi-melalui-membaca/#comment-1858</link>
		<dc:creator>ingki</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Mar 2008 16:20:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/?p=242#comment-1858</guid>
		<description>jangan lupakan kasus-kasus pembakaran buku dan penarikan buku yang sudah beredar oleh otoritas berwenang. sepertinya, rakyat kita memang diajarkan untuk memusuhi buku.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>jangan lupakan kasus-kasus pembakaran buku dan penarikan buku yang sudah beredar oleh otoritas berwenang. sepertinya, rakyat kita memang diajarkan untuk memusuhi buku.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Goresan Ngawur - Berinvestasi Melalui Membaca</title>
		<link>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/03/13/berinvestasi-melalui-membaca/#comment-1857</link>
		<dc:creator>Goresan Ngawur - Berinvestasi Melalui Membaca</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Mar 2008 00:48:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/?p=242#comment-1857</guid>
		<description>[...] Artikel ini juga bisa dibaca di website Jakarta Butuh Revolusi Budaya. [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Artikel ini juga bisa dibaca di website Jakarta Butuh Revolusi Budaya. [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
