<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Pengembangan Perbukuan</title>
	<atom:link href="http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/04/13/pengembangan-perbukuan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/04/13/pengembangan-perbukuan/</link>
	<description>Bukan Sekedar Advokasi, Kami Berkontribusi</description>
	<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 19:46:11 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
		<item>
		<title>By: asti</title>
		<link>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/04/13/pengembangan-perbukuan/#comment-2098</link>
		<dc:creator>asti</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 05:25:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://revolusibudaya.wordpress.com/?p=276#comment-2098</guid>
		<description>Hi,

Setuju banget kalau buku, dan budaya membaca, itu penting untuk kemajuan each individual and the nation karena dia complementary with education. Tapi memang sayang melihat textbooks jadi ajang business and commercial, yang menguntungkan the few at the top at the cost of many at the bottom. Masih inget dulu SD, tiap tahun pasti beli buku baru.. dan buku lama pun dibuang karena tidak bisa lagi di pake my younger sister. Completely different from my next school where everyone's book is provided by the school and is handed down throughout the years.

Sama dengan Ratna, my friends and I here ada initiative Buku Untuk Anak Bangsa buat kirim buku ke sekolah-sekolah di Indonesia. Kita kirim buku-buku berbahasa Inggris, yang kita get from second-hand books or donations from local community. Activities-nya bisa dilihat di website (http://bukuuntukanakbangsa.blogspot.com)

asti</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hi,</p>
<p>Setuju banget kalau buku, dan budaya membaca, itu penting untuk kemajuan each individual and the nation karena dia complementary with education. Tapi memang sayang melihat textbooks jadi ajang business and commercial, yang menguntungkan the few at the top at the cost of many at the bottom. Masih inget dulu SD, tiap tahun pasti beli buku baru.. dan buku lama pun dibuang karena tidak bisa lagi di pake my younger sister. Completely different from my next school where everyone&#8217;s book is provided by the school and is handed down throughout the years.</p>
<p>Sama dengan Ratna, my friends and I here ada initiative Buku Untuk Anak Bangsa buat kirim buku ke sekolah-sekolah di Indonesia. Kita kirim buku-buku berbahasa Inggris, yang kita get from second-hand books or donations from local community. Activities-nya bisa dilihat di website (http://bukuuntukanakbangsa.blogspot.com)</p>
<p>asti</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: iskandar2358</title>
		<link>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/04/13/pengembangan-perbukuan/#comment-1986</link>
		<dc:creator>iskandar2358</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 21:11:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://revolusibudaya.wordpress.com/?p=276#comment-1986</guid>
		<description>spektrum indonesia sebagaimana negara-negara berpenduduk besar lainnya memang sangat lebar, dari mulai penduduk yang masih telanjang sampai dengan para tycoon muda yang sangat fasih dengan digital gadget. strategi pembangunannya dengan demikian harus  beragam untuk dapat menggapai seluruh lapisan. untuk yang masih tidur, mari kita bangunkan. untuk yang sudah bangun, mari kita ajak jalan. untuk yang baru bisa berjalan, mari kita ajak jogging ringan. untuk yang sudah lari, mari kita ajak sprint. kebijakan pemerataan memang sangat intristik dan romantik, akan tetapi apakah kita akan menunggu semuanya hidup pada frekwensi yang sama, baru melangkah maju lagi? inisiatif e-book tidak untuk semua, hanya bagi mereka yang punya akses internet. di daerah-daerah yang masih belum terjangkau internet, depdiknas mendorong dan mempersilahkan kepada calon enterpreneur untuk mencetak dan menggandakan tanpa perlu pusing ada tuntutan hak cipta, karena depdiknas sudah membeli hak ciptanya. lalu dipersilahkan menjual, bahkan membuka toko buku teks, dengan ketentuan margin profit yang tidak lebih 15%. saat ini buku teks sudah "over-rated." harga jual jauh melebihi ongkos produksi. buku yang seharusnya tersedia murah menjadi sangat mahal. inisiatif e-book ini sebenarnya ingin menghapus "monopoli" perbukuan yang dilakukan oleh segelintir korporat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>spektrum indonesia sebagaimana negara-negara berpenduduk besar lainnya memang sangat lebar, dari mulai penduduk yang masih telanjang sampai dengan para tycoon muda yang sangat fasih dengan digital gadget. strategi pembangunannya dengan demikian harus  beragam untuk dapat menggapai seluruh lapisan. untuk yang masih tidur, mari kita bangunkan. untuk yang sudah bangun, mari kita ajak jalan. untuk yang baru bisa berjalan, mari kita ajak jogging ringan. untuk yang sudah lari, mari kita ajak sprint. kebijakan pemerataan memang sangat intristik dan romantik, akan tetapi apakah kita akan menunggu semuanya hidup pada frekwensi yang sama, baru melangkah maju lagi? inisiatif e-book tidak untuk semua, hanya bagi mereka yang punya akses internet. di daerah-daerah yang masih belum terjangkau internet, depdiknas mendorong dan mempersilahkan kepada calon enterpreneur untuk mencetak dan menggandakan tanpa perlu pusing ada tuntutan hak cipta, karena depdiknas sudah membeli hak ciptanya. lalu dipersilahkan menjual, bahkan membuka toko buku teks, dengan ketentuan margin profit yang tidak lebih 15%. saat ini buku teks sudah &#8220;over-rated.&#8221; harga jual jauh melebihi ongkos produksi. buku yang seharusnya tersedia murah menjadi sangat mahal. inisiatif e-book ini sebenarnya ingin menghapus &#8220;monopoli&#8221; perbukuan yang dilakukan oleh segelintir korporat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ratna</title>
		<link>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/04/13/pengembangan-perbukuan/#comment-1985</link>
		<dc:creator>ratna</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 12:18:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://revolusibudaya.wordpress.com/?p=276#comment-1985</guid>
		<description>Ikutan nimbrung ah. Buat rekans, gimana kalau kita bantu agar mimpi pemerintah itu tercapai? Tidak mengapa e-book buat yang mampu. Buat yang belum mampu, mari kita galakan buku yang bukan e-book.
Daripada komentarin orang lain, mendingan yuk bantu sumbang buku ke ratna. kebetulan ratna juga lagi punya program menggalakan minat baca di sekolah pinggiran, yaitu di SMPN 2 Klari. Kasian loh adik-adik disana banyak yang belum bisa melanjutkan sekolah ke SMA karena lokasi sekolah yang jauh dan berat biaya transport nya padahal orangtua mereka kebanyakan petani yang kurang mampu menyekolahkan anaknya hingga tinggi.
Sebulan sekali ratna sumbang buku dan sebulan sekali pula ratna berdiskusi buku dengan pelajar disana. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa bermanfaat buat anak-anak ini. Ternyata mereka itu benar-benar haus membaca buku loh. Mereka senang mendapatkan buku-buku bacaan yang menarik. Pesertanya makin bulan makin banyak. Mudah-mudahan dengan cara ini ratna bisa membantu anak daerah lebih maju lagi. Seandainya ratna juga bisa menyentuh anak-anak di daerah pinggiran lainnya ....
Ratna juga kerap memberikan buku bacaan kepada anak jalanan. Entah nantinya mereka buang atau jual, tapi ratna yakin satu atau dua anak akan ada yang terpengaruh positif oleh buku yang dibacanya itu. Semoga.
Yuukk kita mulai memberi buku bacaan kepada anak jalanan. Daripada memberi mereka uang (yang juga sudah ada peraturan yang melarangnya namun tidak berfungsi), lebih baik kita memberi buku bacaan kepada mereka khan?? Syukur-syukur kita bisa berdiskusi dengan mereka.

Salam,
Ratna
student.women_motivation@yahoo.com</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ikutan nimbrung ah. Buat rekans, gimana kalau kita bantu agar mimpi pemerintah itu tercapai? Tidak mengapa e-book buat yang mampu. Buat yang belum mampu, mari kita galakan buku yang bukan e-book.<br />
Daripada komentarin orang lain, mendingan yuk bantu sumbang buku ke ratna. kebetulan ratna juga lagi punya program menggalakan minat baca di sekolah pinggiran, yaitu di SMPN 2 Klari. Kasian loh adik-adik disana banyak yang belum bisa melanjutkan sekolah ke SMA karena lokasi sekolah yang jauh dan berat biaya transport nya padahal orangtua mereka kebanyakan petani yang kurang mampu menyekolahkan anaknya hingga tinggi.<br />
Sebulan sekali ratna sumbang buku dan sebulan sekali pula ratna berdiskusi buku dengan pelajar disana. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa bermanfaat buat anak-anak ini. Ternyata mereka itu benar-benar haus membaca buku loh. Mereka senang mendapatkan buku-buku bacaan yang menarik. Pesertanya makin bulan makin banyak. Mudah-mudahan dengan cara ini ratna bisa membantu anak daerah lebih maju lagi. Seandainya ratna juga bisa menyentuh anak-anak di daerah pinggiran lainnya &#8230;.<br />
Ratna juga kerap memberikan buku bacaan kepada anak jalanan. Entah nantinya mereka buang atau jual, tapi ratna yakin satu atau dua anak akan ada yang terpengaruh positif oleh buku yang dibacanya itu. Semoga.<br />
Yuukk kita mulai memberi buku bacaan kepada anak jalanan. Daripada memberi mereka uang (yang juga sudah ada peraturan yang melarangnya namun tidak berfungsi), lebih baik kita memberi buku bacaan kepada mereka khan?? Syukur-syukur kita bisa berdiskusi dengan mereka.</p>
<p>Salam,<br />
Ratna<br />
<a href="mailto:student.women_motivation@yahoo.com">student.women_motivation@yahoo.com</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: UdioT</title>
		<link>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/04/13/pengembangan-perbukuan/#comment-1983</link>
		<dc:creator>UdioT</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 08:28:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://revolusibudaya.wordpress.com/?p=276#comment-1983</guid>
		<description>Hahaha oleh karena itu Bung GBM sebenarnya saya mendukung banget ide e-book di Indonesia, cuma bukankah lebih baik apabila program2 yang terdahulu diselesaikan dahulu, soalnya bukan rahasia umum klo anggaran pendidikan kita yah segitu-segitu aja, ya ga sih..hehehe mendingan persiapkan dulu fasilitas-fasilitas yang memudahkan akses terhadapa e-book karena klo tidak seperti yang anda bilang bung GBM di kampus kite yang mahal bayarannya aja masih kaya begitu aksesnya lemot-lemot ga cihuy, pas download udah keburu malay duluan hehehe</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hahaha oleh karena itu Bung GBM sebenarnya saya mendukung banget ide e-book di Indonesia, cuma bukankah lebih baik apabila program2 yang terdahulu diselesaikan dahulu, soalnya bukan rahasia umum klo anggaran pendidikan kita yah segitu-segitu aja, ya ga sih..hehehe mendingan persiapkan dulu fasilitas-fasilitas yang memudahkan akses terhadapa e-book karena klo tidak seperti yang anda bilang bung GBM di kampus kite yang mahal bayarannya aja masih kaya begitu aksesnya lemot-lemot ga cihuy, pas download udah keburu malay duluan hehehe</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: guebukanmonyet</title>
		<link>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/04/13/pengembangan-perbukuan/#comment-1981</link>
		<dc:creator>guebukanmonyet</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 00:16:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://revolusibudaya.wordpress.com/?p=276#comment-1981</guid>
		<description>Kenapa Anda bisa menolak program tersebut Bung Udiot? Bukankah itu berarti Depdiknas dan pemerintah berpikiran maju ke depan? Bukankah di jaman sekarang internet tidak lagi menjadi barang mewah dan bukankah sudah saatnya kondisi itu juga terjadi di dunia pendidikan Indonesia? 

Kabar terakhir yang saya baca sih Depdiknas berniat meningkatkan penetrasi internet di seluruh sekolah di Indonesia. Saya kurang tahu detailnya, tapi kalau itu benar terjadi saya kira strategi e-book layak dicoba. Mungkin bisa jadi sebuah solusi untuk melawan "mafia" buku selama ini. 

Strategi e-book memang terdengar sedikit menggelikan apabila kita melihat fasilitas sekolah-sekolah di Indonesia yang sebenarnya, tapi kalau Depdiknas tidak memiliki Visi yang luar biasa selamanya pendidikan kita tertinggal jauh dari negara lain. 

Tapi bukan sebuah strategi yang mudah memang, Anda tentu tahu bahwa bahkan di kampus kita tercinta saja internet masih jadi barang mewah, hehe.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kenapa Anda bisa menolak program tersebut Bung Udiot? Bukankah itu berarti Depdiknas dan pemerintah berpikiran maju ke depan? Bukankah di jaman sekarang internet tidak lagi menjadi barang mewah dan bukankah sudah saatnya kondisi itu juga terjadi di dunia pendidikan Indonesia? </p>
<p>Kabar terakhir yang saya baca sih Depdiknas berniat meningkatkan penetrasi internet di seluruh sekolah di Indonesia. Saya kurang tahu detailnya, tapi kalau itu benar terjadi saya kira strategi e-book layak dicoba. Mungkin bisa jadi sebuah solusi untuk melawan &#8220;mafia&#8221; buku selama ini. </p>
<p>Strategi e-book memang terdengar sedikit menggelikan apabila kita melihat fasilitas sekolah-sekolah di Indonesia yang sebenarnya, tapi kalau Depdiknas tidak memiliki Visi yang luar biasa selamanya pendidikan kita tertinggal jauh dari negara lain. </p>
<p>Tapi bukan sebuah strategi yang mudah memang, Anda tentu tahu bahwa bahkan di kampus kita tercinta saja internet masih jadi barang mewah, hehe.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: UdioT</title>
		<link>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/04/13/pengembangan-perbukuan/#comment-1976</link>
		<dc:creator>UdioT</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 13 Apr 2008 10:27:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://revolusibudaya.wordpress.com/?p=276#comment-1976</guid>
		<description>Tambahan, isi artikel sangat inspiratif dan layak diajukan sebagai acuan bagi penertiban peredaran buku di Indonesia. Terlebih saya setuju dengan saran penulis bahwa diperlukan penyederhanaan mata pelajaran. Terima Kasih Pak Iskandar untuk informasi-informasi dalam artikel ini.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tambahan, isi artikel sangat inspiratif dan layak diajukan sebagai acuan bagi penertiban peredaran buku di Indonesia. Terlebih saya setuju dengan saran penulis bahwa diperlukan penyederhanaan mata pelajaran. Terima Kasih Pak Iskandar untuk informasi-informasi dalam artikel ini.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: UdioT</title>
		<link>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/04/13/pengembangan-perbukuan/#comment-1975</link>
		<dc:creator>UdioT</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 13 Apr 2008 10:18:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://revolusibudaya.wordpress.com/?p=276#comment-1975</guid>
		<description>Hahaha lagi-lagi Depdiknas melakukan program tanpa perhitungan, ini dia kesalahan kita selalu mempunyai improvisasi-improvisasi berlebihan dalam pengembangan program untuk negara berkembang, saya MENOLAK dengan tegas program e-book saat ini. Bukan tanpa maksud, tetapi Depdiknas harus sadar berapa banyak jumlah sekolah yang isinya anak-anak yang jangankan mengenal internet, komputer saja barang langka bagi mereka. Dengan adanya program e-book ini depdiknas hanya memanjakan orang-orang pada level menegah ke atas dan ini sangat-sangat tidak adil. Sebagai pertimbangan, coba data jumlah pengguna internet pada murid atau mahasiswa, kebanyakan adalah kaum menengah keatas. Kalaupun kaum menengah ke bawah menggunakan internet itupun mereka menggunakan jasa warnet yang sekarang mahalnya ga ketulungan, tarif rata2 2000-5000 per jam. Padahal saat ini saja sudah berapa banyak anak-anak yang mengamen di jalan dengan alasan untuk biaya buku paket, blom lagi paksaan "pihak sekolah" terhadap biaya sana-sini. 
Pengembangan ebook memang baik tapi alangkah baiknya jika pemerintah berusaha membetulkan jalan program2 yang sudah dibuat tanpa harus memajukan program2 baru. Selesaikan wajib belajar 9 tahun, salurkan BOS dengan baik, lakukan sertifikasi guru, hargai guru honorer dll. 
Negara ini tidak pernah paham...selalu mencontoh...contoh dan contoh....coba "hidup" dalam masyarakat dan pahami kemuan dan apa yang mereka butuhkan. Indonesia bukan hanya milik kaum elite, kaum madani, tetapi Indonesia juga milik kaum miskin. Pahami kebutuhan tiap elemen masyarakat, karena hanya ini solusinya!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hahaha lagi-lagi Depdiknas melakukan program tanpa perhitungan, ini dia kesalahan kita selalu mempunyai improvisasi-improvisasi berlebihan dalam pengembangan program untuk negara berkembang, saya MENOLAK dengan tegas program e-book saat ini. Bukan tanpa maksud, tetapi Depdiknas harus sadar berapa banyak jumlah sekolah yang isinya anak-anak yang jangankan mengenal internet, komputer saja barang langka bagi mereka. Dengan adanya program e-book ini depdiknas hanya memanjakan orang-orang pada level menegah ke atas dan ini sangat-sangat tidak adil. Sebagai pertimbangan, coba data jumlah pengguna internet pada murid atau mahasiswa, kebanyakan adalah kaum menengah keatas. Kalaupun kaum menengah ke bawah menggunakan internet itupun mereka menggunakan jasa warnet yang sekarang mahalnya ga ketulungan, tarif rata2 2000-5000 per jam. Padahal saat ini saja sudah berapa banyak anak-anak yang mengamen di jalan dengan alasan untuk biaya buku paket, blom lagi paksaan &#8220;pihak sekolah&#8221; terhadap biaya sana-sini.<br />
Pengembangan ebook memang baik tapi alangkah baiknya jika pemerintah berusaha membetulkan jalan program2 yang sudah dibuat tanpa harus memajukan program2 baru. Selesaikan wajib belajar 9 tahun, salurkan BOS dengan baik, lakukan sertifikasi guru, hargai guru honorer dll.<br />
Negara ini tidak pernah paham&#8230;selalu mencontoh&#8230;contoh dan contoh&#8230;.coba &#8220;hidup&#8221; dalam masyarakat dan pahami kemuan dan apa yang mereka butuhkan. Indonesia bukan hanya milik kaum elite, kaum madani, tetapi Indonesia juga milik kaum miskin. Pahami kebutuhan tiap elemen masyarakat, karena hanya ini solusinya!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
