Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Kemiskinan dan Permukiman Kumuh di Perkotaan

Posted in Pemikiran, Pendidikan, Surat dari Amerika by Deden Rukmana on April 14th, 2008

slumKita semua menyadari bahwa kemiskinan merupakan salah satu masalah sosial di Indonesia yang tidak mudah untuk diatasi. Beragam upaya dan program dilakukan untuk mengatasinya tetapi masih banyak kita temui permukiman masyarakat miskin hampir setiap sudut kota. Keluhan yang paling sering disampaikan mengenai permukiman masyarakat miskin tersebut adalah rendahnya kualitas lingkungan yang dianggap sebagai bagian kota yang mesti disingkirkan.

Tulisan ini mencoba untuk memberikan penjelasan tentang upaya untuk mengatasi kemiskinan di perkotaan sekaligus pula untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman masyarakat miskin.

Peremajaan Kota

Pendekatan konvensional yang paling populer adalah menggusur permukiman kumuh dan kemudian diganti oleh kegiatan perkotaan lainnya yang dianggap lebih bermartabat. Cara seperti ini yang sering disebut pula sebagai peremajaan kota bukanlah cara yang berkelanjutan untuk menghilangkan kemiskinan dari perkotaan.

Kemiskinan dan kualitas lingkungan yang rendah adalah hal yang mesti dihilangkan tetapi tidak dengan menggusur masyarakat telah bermukim lama di lokasi tersebut. Menggusur adalah hanya sekedar memindahkan kemiskinan dari lokasi lama ke lokasi baru dan kemiskinan tidak berkurang. Bagi orang yang tergusur malahan penggusuran ini akan semakin menyulitkan kehidupan mereka karena mereka mesti beradaptasi dengan lokasi permukimannya yang baru.

Di Amerika Serikat, pendekatan peremajaan kota sering digunakan pada tahun 1950 dan 1960-an. Pada saat itu permukiman-permukiman masyarakat miskin di pusat kota digusur dan diganti dengan kegiatan perkotaan lainnya yang dianggap lebih baik. Peremajaan kota ini menciptakan kondisi fisik perkotaan yang lebih baik tetapi sarat dengan masalah sosial. Kemiskinan hanya berpindah saja dan masyarakat miskin yang tergusur semakin sulit untuk keluar dari kemiskinan karena akses mereka terhadap pekerjaan semakin sulit.

Peremajaan kota yang dilakukan pada saat itu sering disesali oleh para ahli perkotaan saat ini karena menyebabkan timbulnya masalah sosial seperti kemiskinan perkotaan yang semakin akut, gelandangan dan kriminalitas. Menyadari kesalahan yang dilakukan masa lalu, pada awal tahun 1990-an kota-kota di Amerika Serikat lebih banyak melibatkan masyarakat miskin dalam pembangunan perkotaannya dan tidak lagi menggusur mereka untuk menghilangkan kemiskinan di perkotaan.

Aktivitas Hijau oleh Masyarakat Miskin

Paling sedikit saya menemukan dua masyarakat miskin di Jakarta yang melakukan aktivitas hijau untuk meningkatkan kualitas lingkungan sembari menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat miskin. Seperti dapat ditemui di Indonesia’s Urban Studies, masyarakat di Penjaringan, Jakarta Utara dan masyarakat kampung Toplang di Jakarta Barat mereka mengelola sampah untuk dijadikan kompos dan memilah sampah nonorganik untuk dijual.

Aktivitas hijau di Penjaringan, Jakarta Utara dilakukan melalui program Lingkungan Sehat Masyarakat Mandiri yang diprakarsai oleh Mercy Corps Indonesia. Masyarakat miskin di Penjaringan terlibat aktif tanpa terlalu banyak intervensi dari Mercy Corps Indonesia. Program berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan kualitas lingkungan kumuh di Penjaringan. Masyarakat di Penjaringan sangat antusias untuk melakukan kegiatan ini dan mereka yakin untu mampu mendaurlang sampah di lingkungannya dan menjadikannya sebagai lapangan pekerjaan yang juga akan berkontribusi untuk mengentaskan kemiskinan di lingkungannya.

Sementara itu aktivitas hijau di kampung Toplang, Jakarta Barat diprakarsai oleh dua orang pemuda kampung tersebut yang juga adalah aktivis Urban Poor Consortium dan mengetahui bisnis pendaurulangan sampah. Kedua orang ini mampu meyakinkan rekan-rekan di kampungnya untuk melakukan kegiatan daur ulang sampah. Seperti yang terjadi di Penjaringan, masyarakat kampung Toplang mendukung penuh dan antusias terhadap bisnis pendaurulangan sampah ini. Malahan mereka optimis bahwa kegiatan mereka juga dapat mendaurulang sampah dari luar kampung mereka dan menciptakan lebih banyak pendapatan bagi masyarakat kampung Toplang.

Kedua aktivitas hijau tersebut adalah wujud pemberdayaan masyarakat miskin untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman dan sekaligus mengentaskan kemiskinan. Peranan Mercy Corps Indonesia yang memprakarsai program Lingkungan Sehat Masyarakat Mandiri di Penjaringan, Jakarta Utara dan dua orang aktivis pemuda asal kampung Toplang yang memprakarsai aktivitas hijau di kampung Toplang adalah sangat vital dalam upaya pemberdayaan masyarakat ini. Tanpa inisiatif mereka, pemberdayaan masyarakat miskin tidak akan terjadi dan kemiskinan tetaplah menjadi masalah di kedua permukiman kumuh tersebut.

Penutup

Cara untuk mengatasi kemiskinan dan rendahnya kualitas lingkungan permukiman masyarakat miskin adalah tidak dengan menggusurnya. Penggusuran hanyalah menciptakan masalah sosial perkotaan yang semakin akut dan pelik. Penggusuran atau sering diistilahkan sebagai peremajaan kota adalah cara yang tidak berkelanjutan dalam mengatasi kemiskinan.

Aktivitas hijau seperti yang dilakukan oleh masyarakat Penjaringan dan Kampung Toplang merupakan bukti kuat bahwa masyarakat miskin mampu meningkatkan kualitas lingkungan permukiman dan juga mengentaskan kemiskinan. Masyarakat miskin adalah salah satu komponen dalam komunitas perkotaan yang mesti diberdayakan dan bukannya digusur. Solusi yang berkelanjutan untuk mengatasi kemiskinan dan permukiman kumuh di perkotaan adalah pemberdayaan masyarakat miskin dan bukanlah penggusuran.

Picture is used from here.

11 Responses to 'Kemiskinan dan Permukiman Kumuh di Perkotaan'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Kemiskinan dan Permukiman Kumuh di Perkotaan'.

  1. Gilang said, on April 15th, 2008 at 4:18 pm

    Luar biasa, perlu dijadikan contoh untuk pemukiman2 lain yang ada di jakarta, mudah2an pemerintah bisa ambil bagian untuk mendukung kegiatan seperti ini, dengan ada nya inisiatif dari warga dan kontribusi masyarakat secara keseluruhan, setidaknya pemukiman kumuh bisa menjadi pemukiman yang asri dan nyaman.

  2. ingki said, on April 17th, 2008 at 10:10 pm

    tentu, hal penting yang juga mesti dilakukan adalah keberanian untuk memindahkan “segala pusat” yang selama ini seperti menumpuk begitu rupa pada kota-kota di pulau jawa. atau bahkan, segalanya kini seperti berpusat di jakarta. membuat jakarta seperti lampu besar yang pendarnya makin kelam tertutup laron yang datang tanpa henti dan silih berganti. kasihan laron-laron yang tak bertenaga dan mesti mati muda. kasihan jakarta, yang makin lama makin suram. makin tertutup oleh kebesarannya sendiri. selama keberanian itu belum ada, tidak dilakukan, maka segala upaya pemanis bibir seperti penggusuran dan operasi yustisi hanyalah sekedar pertunjukan belaka. menunjukkan bahwa, pemerintah masih ada.

  3. ulan said, on April 23rd, 2008 at 6:03 pm

    woooo coool… semoga berjalan seperti yang di harapkan,
    kadang berbicara dengan orang yang tidak se-visi itu memang susah, tapi perlu di coba kan..

    *sok tau mode on never off*

  4. mustika arum said, on April 24th, 2008 at 8:46 pm

    intinya jangan merendahkan motivasi dan kepedulian dari masyarakat miskin kota dalam mengelola lingkungannya. diperlukan upaya2 fasilitasi dari berbagai pihak [mungkin LSM dan MAsyarakat Madani lainnya) untuk bersama-sama membantu masyarakat miskin kota dari jerat kemiskinannya. ciptakan ‘champion-champion’ dalam masyarakat agar mereka dapat mendobrak garis kemiskinan dengan usahanya sendiri. Bravo

  5. guebukanmonyet said, on April 29th, 2008 at 8:24 am

    sangat setuju dengan pendapat penulis. Menggusur masyarakat miskin jelas tidak menghilangkan kemiskinan tapi hanya memindahkannya. Kemiskinan dapat dikurangi dengan membangun sebuah masyarakat yang kreatif seperti yang ditunjukkan oleh masyarakat di Penjaringan dan Kampung Toplang. Mungkin masyarakat mampu dan berpendidikan justru harus belajar dari mereka dalam melestarikan lingkungan.

  6. yonna said, on April 30th, 2008 at 2:37 pm

    Halo Pak, artikelnya bagus-bagus nih :)

    Sebentar, saya ingin meraba-raba jawaban dari masalah dalam topik ini, tolong jangan disalahartikan ya?! :)

    Untuk menggusur perumahan liar masyarakat miskin, saya setuju. Setuju untuk mengganti rumah liar dan tidak layak tersebut dengan rumah dan lingkungan baru yang lebih sehat dan lebih layak, jadi masyarakat miskin yang harus tergusur hanyalah tergusur sementara, setelah semua selesai maka mereka bisa kembali lagi ke tempat lama. Sementara dalam pengungsian, mereka tinggal di tempat yang telah disediakan dan resmi serta terpadu, dalam pengungsian tersebut mereka diberikan penyuluhan tentang cara hidup sehat, diberikan kesadaran tentang pentingnya pendidikan karena dengan pendidikan mereka bisa mencapai hidup yang lebih baik dan hal-hal lain yang bisa bermanfaat bagi mereka. Setelah mereka kembali dan terkejut melihat rumah lama mereka berubah menjadi baru dan bagus, mereka tetap dipantau perkembangannya apakah mereka paham dan mengamalkan segala penyuluhan yang telah diberikan sewaktu di tempat pengungsian tersebut, jika mereka ingin hidup yang lebih baik maka kita pastikan mereka sendiri telah menjadi individu yang lebih baik, atau minimal terus berusaha menjadi lebih baik dengan suatu paradigma yang lebih terarah, terencana dan terkonsep. Pemantauan ini mungkin akan makan waktu lama, tapi jika berhasil, maka bisa dijadikan pilot project bagi pemukiman masyarakat miskin lainnya.

    Memperbaiki rumah dan lingkungan tempat tinggal mereka, mendidik dan memberi penyuluhan tentang pentingnya kesehatan, pendidikan, dll sehingga mereka diberikan bantuan nyata sekaligus diajarkan untuk menjadi masyarakat yang lebih mandiri. Misalnya masyarakat kaum miskin di Penjaringan berubah menjadi masyarakat menengah di Penjaringan atau masyarakat berkembang di Penjaringan.

    Pun jika mereka masih menggeluti bidang pekerjaan yang sama seperti memulung, mendaur ulang sampah, membuat kerajinan dll itu tidak apa tapi diajarkan pula caranya mencari uang dengan cara yang lebih cerdas dari sekedar memungut dan memisahkan barang bekas dari sampah saja, toh pasti mereka menginginkan pekerjaan lebih baik dari yang sekarang. Diberi modal seperti program Grameen Bank dan sejenisnya.

    Jadi memang kemiskinan harus digusur, tapi digusur bukan untuk menyingkirkan selamanya, menzalimi kaum lemah, tapi membantu mereka mencapai kehidupan yang lebih baik.

    Pastinya, biaya dan lain-lain ditanggung dari pajak dan APBD. Kalau mau revolusi budaya, jangan tanggung-tanggung kayanya.

    Tapi lebih mirip khayalan daripada analisis deh, hehehe, maaf udah cukup panjang nih artikelnya, kangen juga nulis artikel di blog JBRB, sorry ya Tasa, thanks :)

  7. Izmi said, on May 6th, 2008 at 4:35 pm

    Hmm … Nice I think … :)

    Berarti masyarakat miskin daerah Penjaringan Jakarta Utara tidak ikut miskin pikirannya hanya karena mereka hidup miskin dan tinggal di daerah yang sebenarnya kurang layak huni. Hal tersebut bisa dijadikan contoh dan motivasi bagi masyarakat Jakarta di daerah lainnya agar lingkungan tempat mereka tinggal menjadi lebih baik dan layak huni …

    Dukung terus kegiatan seperti yang tertulis di atas …

    Let’s go Green !!! ;)

  8. Hasna said, on May 8th, 2008 at 8:34 pm

    Artikel yang bagus:). Saya baru tahu ada sebagian masyarakat kumuh Jakarta yang dapat berpikir semaju mereka. Satu hal yang harus kita ingat adalah semaju apapun mereka saat ini, mereka tetap butuh pantauan dan bimbingan dari orang yang lebih berkompetensi.
    Dikhawatirkan apabila mereka tidak terus dibimbing, suatu saat mereka akan bosan karena apa yang dicapai oleh mereka tidak bisa berkembang dan mereka tidak mempunyai jalan keluar untuk menyelesaikan masalah tersebut disebabkan keterbatasan ilmu.
    Hal yang bisa kita bantu misalnya memperluas pasar penjualan produk daur ulang mereka ataupun memberikan pengarahan menajemen usaha produksi yang ideal. Sehingga diharapkan mereka bisa terus berkembang, tidak hanya sekarang tapi hingga 10 thn ke depan.

  9. itsme231019 said, on May 9th, 2008 at 5:15 am

    salam.
    harapan saya mudah-mudahan semangat yang sama juga terjadi di daerah yang lain, dimana kemiskinan semestinya membuat mereka kreatif mengolah alam lingkungannya. pendidikan dan pendampingan serta bimbingan buat mereka harus tetap dijalankan secara berkesinambungan. dan kerja keras serta mengolah lingkungannya dengan baik adalah ibadah, ibadah sosial.
    itu saja dari sya.
    ahmad

  10. Zahra said, on May 14th, 2008 at 9:53 am

    betul sekali…penggusuran itu nggak menyelesaikan masalah. dan sebenarnya, saat orang sudah tinggal di suatu tempat untuk beberapa lama (lupa berapa lama), dia udah punya hak untuk tinggal disitu. Jadi sebenernya dalam kasus penggusuran yang orangnya udah tinggal sampe punya anak bahkan cucu, yang salah yang punya tanah. salah sendiri ga dijaga. but that’s another story.

    sepertinya mulai banyak ya kegiatan kaya gini, karna kalo nggak salah PT. Astra juga community developmentnya kaya gini. Masyarakat sekitarnya diajarin untuk bikin kompos, terus nanti komposnya dibeli sama perusahaan. Mudah-mudahan banyak ya kegiatan kaya gini yang bisa nambah skill masyarakat.

    Mbak Yonna : sebenernya itu bukan khayalan lohh…hehe. Tadinya mau komen kaya mbak yonna tadinya. Saya ada mata kuliah namanya pengembangan lahan, disitu juga ngebahas soal lahan di perkotaan yang mahal, tapi sayangnya dipake buat perumahan kumuh. Ga efektif jadinya. Solusinya ya itu, dibangun perumahan untuk masyarakatnya, tapi ada bagian lahan yang dijadikan area komersil. dan biasanya pengembangan lahan kaya gini juga melibatkan masyarakatnya, jadi kaya ada LSM gitu yang jadi perantara. Juga follow up mereka untuk beradaptasi. Termasuk ngajarin gimana hidup sehat. Tapi kayanya emang belum ada di Indonesia…hehe.

  11. kevlannietzsche said, on May 15th, 2008 at 7:12 pm

    artkel bagus,,, mudah-mudahan kemiskinan dan pemiskinan di Indonesia segera hilang…….

Leave a Reply