Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Icon

Bukan Sekedar Advokasi, Kami Berkontribusi

Should we love dangdut too?

This article was published by The Jakarta Post on October 27, 2008. Read the article on The Jakarta Post, here.

Don’t forget to join the “What do you think of dangdut?” poll below.

It may sound funny but I do have a theory that one of the reasons why our young people are losing their national identity is because they hate dangdut.

It’s so obvious, no young and educated Indonesians like dangdut. And I’m not just pointing my finger at my fellow young Indonesians, I have to admit I don’t like it too.

We young Indonesians don’t like it so much that we have been making it as one of the best laughable topics for so many years.

We feel sorry for people who actually dance to the rhythm of dangdut; we feel sorry for people who like Rhoma Irama. We laugh at them so happily knowing that their music is so kampungan and our music is so much cooler.

We can sing any famous American singer’s song perfectly and we know the lyrics by heart.

Modern music concerts are common in this country, and it seems to me that every single one of them can easily attract a large number of young and educated Indonesians.

The Java Jazz Festival, for example, has always been packed with young and educated Indonesians for 4 years although when the festival was first introduced many people thought the ticket prices were unreasonable; but young Indonesians came anyway.

The same organizer just conducted an R&B festival called Soulnation which was successful in drawing a lot of young Indonesians; they paid tickets worth at least Rp 200,000 and didn’t complain. They came in dressing up themselves with the latest R&B outfits copying their idols like Akon and Ashanti.

What’s wrong with not liking dangdut one may ask. Well, it’s not wrong as one of my best friends pointed it out to me that you can’t blame someone for liking one type of music as you can’t blame someone for liking nasi goreng.

But what we don’t realize is that dangdut is our national treasure; It’s part of our national heritage. What we don’t realize is that dangdut is the music of our country; just like Project Pop said through their song “Dangdut is the music of my country” a few years ago.

What we don’t realize is that when we laugh at dangdut thinking that it’s a stupid music, it’s like laughing at keroncong or any other Indonesia’s traditional music genre.

Sometimes I wonder why we can’t fall in love with dangdut while young African Americans can be so proud of their R&B and rap music.

One of the reasons may lie on the fact that we are too arrogant to like the same kind of music that low-income Indonesians like; that we don’t want to put ourselves on the same level with mas-mas and mba-mba.

If that is the kind of mentality that we all share, then I think we should feel sorry for ourselves for thinking that dangdut is so kampungan and that those people who like it just don’t have taste in music. We should feel sorry for ourselves for not realizing how music, like language, could be a very effective medium to unite us all.

Imagine if all young Indonesians, whether poor or rich, could at least agree that dangdut is something we all could enjoy together. We would be more united.

Apparently it’s the responsibility for anyone working in the dangdut industry to find a way to make the music more attractive to young and educated Indonesians, such as my friends and myself.

At the end, I’m not encouraging you to like dangdut. Music is about one’s personal preference, after all. But what I’d like to encourage us all is that instead of mocking those who like dangdut, we all should respect them for being able to express their “Indonesianity” a little bit more than we can.

Picture above taken from here.

Filed under: Articles in English, Moral dan Budaya, Pemikiran, Pendidikan, Surat dari Amerika , , , , , ,

16 Responses

  1. yonna says:

    Shoule we love dangdut too? Shoule? Sule maksudnya? :mrgreen:

  2. yonna says:

    Genre dangdut bukan asli budaya Indonesia, asimilasi dari budaya India CMIIW.

    Pun keroncong juga serapan dari Portugal, yang terkenal dan melegenda sampe sekarang adalah Keroncong Tugu.

    Meski gak demen dangdut, keroncong, lagu daerah karena mereka semua bikin gue merinding dari kaki ampe kepala, tapi gue masih suka ma Batik, Dagadu Jogja, Joger Bali, Songket Minang, masakan2 khas Indonesia, ukiran kayu jati Jepara dll termasuk pria-pria Indonesia. Artinya meski gak suka dangdut dkk tapi bukan berarti gue benci budaya dan produk Indonesia sama sekali.

    I’m Indonesian by birth, by resident, by blood and by physical appearance (meski kata orang2 gue ini mirip Cina, mirip Oshin dan tinggi gue 172 cm yang termasuk tinggi buat orang Indonesia dan kulit gue putih di mana rata2 orang Indonesia kulitnya sawo matang, tapi kok mereka gak bilang gue ini cantik yah??? hehe) jadi mesti bersyukur :)

    Tuh kan gue ngomong ngaco aja diapprove ma wordpress palagi ngomong serius. Emang blog JBRB ce-es ma gue :P

  3. Affan says:

    Dangdut. Saya suka nyanyi dangdut, terutama dengar cengkoknya yang menantang itu. Tapi entah kenapa, saya tidak suka mendengar MUSIK dangdut maupun video klipnya yang kebanyakan tidak nyeni.

  4. Djawier says:

    Dangdut….? No, ga ada pintu dech wat itu..! Kita ga mw kan anak cucu generasi kita joget2 separo telanjang di depan orang2, jgn dech bro n sis..

  5. tbelfield says:

    Here is the deal. Jakarta, especially Jakarta is a local city, a regional city, a national city, and a global city all rolled up into one big city. Ya? I like dangdut because it is a product of the local city. It represents a social creativity that is not all homogenized and flattened by the global city. I like dangdut because it pokes its finger in the eye of folks who are just a bit too conservative for me. There is nothing like a banci singing dangdut and doing a crazy drill dance. Maybe its kampungan but nothing wrong in that. Jakarta is, after all, a city of villages.

  6. oky pemburu says:

    Dangdutan boleh2 aja asal gak ada tarian2 erotisnya, walaupun kebanyakan yang nonton juga pria2 dewasa yang kebanyakan justru menginginkan tarian erotis disuguhkan oleh para biduanita. Namun seharusnya panitia dangdutan harus memakai logikanya karena acara dangdutan yang mereka suguhkan kebanyakan berlokasi ditempat umum dan tidak sedikit anak2 yang berumur dibawah 13 tahun juga ikut menontonnya. Sayangnya kebanyakan dangdutan yang saya liat ditempat2 umum memang menyuguhkan tarian2 erotis dan tidak sedikit anak2 yang ikut menontonnya.

  7. yonna says:

    @Oky
    kalo gitu mending cari penyanyi dangdut yang aksi panggungnya sopan dan biasa menyanyikan lagu dangdut yang lirik dan alunan nadanya tidak mengundang goyangan erotis seperti misalnya….siapa ya? ada yang tau contoh relevannya?

  8. Nadya says:

    @Yonna
    wah kalo aksinya panggungnya sopan justru ga laku mba.. orkes dangdutnya bakalan ga dpt job! karir penyanyinya pada tamat, ga ada harapan buat mengikuti jejak inul Daratista..

    Tapi bagi gw yg ga suka dangdut tapi tetep mencintai Indonesia, menurut gw mending ga usah ada Inul Daratista kedua deh.. goyangannya merusak moral bangsa, bukannya mengangkat martabat bangsa, malah sebaliknya.. Lagu2nya skr juga parah..

    sebenernya gw it’s okay kalo lagu n goyangannya tdk erotis, tapi berapa banyak siy dangdut yg begitu??
    mungkin dangdut juga salah satu aspek yg harus di revolusi budaya..

  9. oky pemburu says:

    @nadya dan Yonna : gak usah pesimislah kalau dangdutan yang tidak erotis itu tidak akan laku, banyak kok pedangdut2 lain yang tampil dengan aksi panggung tidak erotis tapi tetap laku dipasaran, bahkan sekarang2 ini justru dangdutan2 yang erotis itu yang banyak ditolak oleh sejumlah masyarakat.

  10. Nadya says:

    @oki
    Yg ditolak masyarakat kebanyakan untuk acara TV.
    Tapi coba de liat yg di kampung2..
    makin hari bajunya penyanyinya makin ketat, rok makin pendek..

    Maunya juga optimis ki, goyangan makin sopan bukan makin erotis.
    Tapi ko semakin tidak tertolong ya???

  11. andien says:

    @Nadya
    Bener banget, tuh. Justru dangdut2 yang membahayakan merajalela di kampung2, tanpa sensor pula! Udah gitu, anak kecil nontonnya sampe mangap2 di pinggir panggung. Waduh…gimana gak merusak moral, tuh! Dari kecil udah dicekokin yang begituan.

    Menurut gue, di sinilah pentingnya peranan orangtua dalam mendidik dan membesarkan anaknya. Jika orangtua ingin si anak nantinya berbudaya positif, sejak kecil harus benar2 ditanamkan budaya positif di lingkungan keluarga. Orangtua pun harus memberikan contoh dengan berbudaya positif pula. Teladan yang baik sangat efektif dalam menanamkan budaya positif. Menjadi orangtua memang gak mudah!

  12. deniar says:

    Dangdut okelah…. (walau gak suka juga).

    Tapi coba direduksi atau dihilangkan unsur erotisnya.

  13. ian says:

    Should we love dangdut, too? The answer is: Yes, we should!
    Why? because it’s part of us. It is not India, nor Portuguese. It’s Indonesia.

    Masalahnya bukan apakah lantas kita mesti membenci dangdut bila dangdut begitu kampungan (menurut kita). Dangdut adalah bagian dari budaya kita. Kita menyukainya atau tidak, dangdut akan tetap ada. Kalau kita peduli, kita tidak akan menbencinya. Justru merangkulnya.

    Because it’s a part of us, we should embrace it and make it better. We, everybody who thinks dangdut is “musik ndeso” that is way uncomparable to Jason Mraz yet do nothing but grumbling and blaming it, are miserable.

    Kitalah yang bisa membuat dangdut menjadi apa yang kita anggap lebih baik. Dangdut adalah produk Indonesia yang bisa membuat nama bangsa ini besar bila dipaket dengan benar. It’s Branding, Positioning, and Differentiation, right?

    Lantas mengapa dangdut yang jadi pertanyaan? Why not, “Should we love Dji Sam Soe?” or “Should we love night club?” or “Should we love sinetron?”

    Dangdut bisa menjadi daya tarik bangsa ini, seperti halnya Bollywood dari India. Kenapa mesti kita tidak mencintai dangdut? Kalau kita menjauhinya, tak akan ada yang bisa kita dapatkan. Mengecam bukan lagi hal yang produktif. Ini bukan birokrasi, tapi budaya. Melawan budaya tidak bisa dengan besi.

    Hal kan tidak beda dengan merubah budaya orang Indonesia yang suka buang sampah sembarangan, tida mau antri, dll seperti misi JBRB?
    Should we love ‘buang sampah tidak pada tempatnya’? Tidak kan? Tapi kita bukan malah membenci dan menjauhinya kan? Justru kita mendekatinya agar tidak buang sampah sembarangan lagi.

    So, should we love dangdut, too? Yes, we should. If you don’t, ask why? Do something and you can make it better!

  14. ian says:

    “Apparently it’s the responsibility for anyone working in the dangdut industry to find a way to make the music more attractive to young and educated Indonesians, such as my friends and myself.”

    Tambahan untuk pernyataan di atas.

    It’s not THEIR responsibility. It’s ours!
    Why, they and we are different in vision. Mereka cari uang. Dan pasar musik dangdut, menengah ke bawah dengan pendapatan dan tingkat pendidikan rendah, masih sangat banyak.

    We think they’ll care? Nope! Think about it! As long as they can sell what they make, it’s fine with them.
    So, we are the one who should come up with something that will largely employ dangdut. Once we seize the market, we can reshape it.

    We, not the dangdut producers, need to act!

  15. Liang says:

    Dangdut??? no way!
    Gw ga menghina dangdut, cuma ga demen ajah ampe ubun2 ga demen gw. Gw cinta produk dalam negri, gw suka gamelan, kroncong it’s ok la, ga peduli mo serapan dari negara mana yg penting itu budaya indonesia. Dan menurut gw kita ga musti demen dangdut bwat nunjukin klo kita cinta indonesia. Ga semua budaya asli indonesia itu kampungan, bahkan bisa di rombak jadi elegan, tergantung bagaimana cara kita generasi muda dalam membawa “aset” negara kita tsb.

  16. Nia says:

    dangdut no.
    keroncong, oke.
    tanjidor & cokek…yesss!!!

Leave a Reply