Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

The Burden that Every Young Indonesian Has to Carry

Posted in Moral dan Budaya, Pemikiran, Surat dari Amerika by guebukanmonyet on May 19th, 2008

This article was published by The Jakarta Post on May 19, 2008 as part of a special report celebrating Indonesia’s 100th Year of National Awakening. Read the article on The Jakarta Post, here.

It’s not easy to be a young Indonesian. The challenges are great and tough. Some of you might wish that you had been born in an advanced country like America or Japan so that you wouldn’t have to witness the poor crying for food every single day.

It’s the burden that I have to carry. A burden that you, your friends, and any other young Indonesian have to carry. It’s the burden that our founding fathers wanted us to carry.

It’s what young Indonesians have been pressured to do: To make a big change to our society.

Some say that a country’s greatness depends on its young people. Some say that it’s always the young people who make the great changes to one society. They say that the young people are the ones with a great motivation and energy. They are the brave and the optimistic ones. They’re the ones who dare to fight against injustice.

In 1908, young Indonesian intellectuals who had lived and were still living in The Netherlands established the first Indonesian political organization called Budi Utomo. This organization was probably the first group of young Indonesians who felt the urgency to spread the spirit of nationalism throughout the country. Their efforts proved to be revolutionary.

Ninety years later it was the young Indonesians who fought and stood up against the dictatorship. The 1998 movement resulted one word that would be part of our daily conversation and lives for the next several years, and that word was reformasi. The young Indonesians were praised at that time for their courage.

But ten years after reformasi and a hundred years after Budi Utomo, it is sad to know that I see more pessimism than optimism among the young Indonesians. Everywhere I go I meet young Indonesians who think that there’s nothing we can do to Indonesia. They simply say, “It’s Indonesia, what can you expect?” Read the Full Article!

A Little Bit of America in All of Us

Posted in Moral dan Budaya, Pemikiran, Surat dari Amerika by guebukanmonyet on May 14th, 2008

This article was published by The Jakarta Post on May 12, 2008. Read the article on The Jakarta Post, here.
Yes we hate America. We hate their stupid culture and we condemn their arrogance. George W. Bush is the worst American president and it’s so exciting that even most Americans think that way too. We curse at them when we see news on TV about Afghanistan and Iraq.

We feel offended when they call our Muslim brothers and sisters terrorists. Thus, some of us even praise Osama bin Laden for his notorious success in making America look like a fool.

We support every demonstration in front of the U.S. Embassy and burning their flag is fine because it’s a representation of our solidarity to those who are oppressed and poor.

And we wish someday we could have a president like Sukarno again who bravely said to America, “Go to hell with your aid!”

But shamefully, the reality is we actually love America so badly. We have to admit this fact.

Of course we do, that’s why there’s a McDonald’s on every corner in Jakarta. Of course we do, that’s why Starbucks is the coolest place to hang out for young Indonesians in Jakarta. And of course we do, that’s why more and more young Indonesians in small cities dress themselves like Brad Pitt and Angelina Jolie.

Who doesn’t love American movies? At least I do. I love Al Pacino and Robert De Niro. I love Steven Spielberg and Martin Scorsese. In my opinion, Hollywood movies are the greatest heritage of American pop culture.

Let’s face it, we can’t avoid America. Especially the young ones. Everywhere we go and everytime we breath we see America with all its products and values.

Some of us can’t live without a computer and internet connection. We worship Bill Gates for inventing softwares that enable us to live so much easier. Read the Full Article!

It’s Time To Be Green

Posted in Articles in English, Moral dan Budaya, Pemikiran, Surat dari Amerika by guebukanmonyet on April 8th, 2008

Thanks to Al Gore and other environmentalists the concern of global warming is rapidly growing throughout the world, mostly in the West. In America, for example, people talk this issue every day. At bookstores people are reading books and magazines giving them instructions how to be green and be part of a global movement to save the earth.

As a response to public awareness, industries are helping their customers to become greener and greener. Supermarkets are stocking their shelves with organic and eco-friendly products. Whole Foods Market, the world’s leading retailer of natural and organic food, is growing fast by giving its customers a promise that the food they buy will help saving the earth.

Despite the fact that U.S. government is still unwilling to sign the Kyoto Protocol, every day new organic products are filling supermarkets’ stock lists in America. Now they have organic apple, organic bread, organic burgers, organic lipstick, and a bunch of other organic products.

Someone once told me that organic chicken tastes better than the regular chicken. I got confused and complained, “How could that be?” She explained that an organic chicken is fed only with organic grains, never given any antibiotics and hormones, and raised in a stress-free environment. Now I know that a happy chicken tastes better. I later added, “We have that kind of chicken in our country too, it’s called ayam kampung.” Keep Reading and Let’s Save the Earth!

Mengacu Pada Washington

Posted in On The Headlines by guebukanmonyet on April 2nd, 2008

tempo-koran.gifArtikel ini dimuat oleh Koran Tempo pada Sabtu, 22 Maret, 2008 dan ditulis oleh Muhammad Nur Rochmi.

Mengadopsi dari luar negeri. Itulah yang dilakukan Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) dalam kegiatannya. Program Berburu (Berbudaya Itu Seru), misalnya, digarap dengan merujuk pada budaya masyarakat Washington, DC, Amerika Serikat. “Yang baik saja yang kami ambil,” kata Rusdi Indradewa, Ketua JBRB.

Dalam program Berburu, anak-anak bimbingan komunitas diajak antre dan membuang sampah pada tempatnya. Gerakan seperti ini juga dilakukan sebagian warga Washington, DC.

Di ibu kota Amerika Serikat itu, kata Tasa Nugraza Barley, salah seorang penggagas JBRB, setiap taman tampak begitu bersih. “Padahal petugas kebersihan sangat minim,” tulisnya dalam surat elektronik kepada Tempo. Warga di sana, dia menambahkan, tidak akan membuang sampah seenaknya. Jika tidak menemukan tempat sampah, mereka akan membuangnya di rumah.

Warga di Washington, kata Tasa, juga tertib dan rela antre. Suatu saat, pada 2006, Tasa menumpang bus ke luar kota. Sesampai di kota tujuan, rupanya tidak tersedia halte khusus bus. Bus hanya akan berhenti di pinggir trotoar. Hebatnya, calon-calon penumpang otomatis membentuk baris antrean. Padahal tidak ada petugas bus yang memberikan instruksi.

Coba bandingkan dengan kondisi di Jakarta. “Alamak,” kata Tasa, “Bikin antrean tanpa bantuan petugas jelas sangat sulit terjadi.”

Ayo, Jakarta Butuh Revolusi Budaya

Posted in On The Headlines, Surat dari Selong by guebukanmonyet on April 2nd, 2008

tempo-koran.gifArtikel ini dimuat oleh Koran Tempo pada Sabtu, 22 Maret, 2008 dan ditulis oleh Muhammad Nur Rochmi.

tong2.jpgSudah enam bulan terakhir Arief Prasetyo menekuni bahasa Inggris. Dia, yang sebelumnya cuma paham thank you dan hello, kini telah menguasai sejumlah kata dalam bahasa asing itu. Si buyung 7 tahun itu sekarang fasih melantunkan lagu Brother John. “Saya suka belajar bahasa Inggris,” ujar siswa kelas II Sekolah Dasar Negeri Selong 01, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu.

Bersama puluhan teman sekolahnya, Arief menggeluti bahasa Inggris setiap akhir pekan. Mereka dibimbing sekelompok anak muda dari komunitas Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB), sebuah perkumpulan yang lahir karena keprihatinan atas kondisi Jakarta yang centang-perenang.

Komunitas ini bermula dari More Power Indonesia. Ini kelompok anak kampus dari berbagai daerah yang bertujuan saling menganjurkan kebiasaan positif, seperti tertib lalu lintas dan membuang sampah pada tempatnya. Namun, perkumpulan yang didirikan pada 2005 itu kurang berkembang. Hingga dua tahun setelah kelahirannya, kebiasaan positif yang mereka dengungkan tak bisa memberi pengaruh terhadap lingkungan sekitar. “Kami membaik, tapi lingkungan sekitar tak berubah,” kata Rusdi Indradewa, Ketua JBRB.

Pada 30 Juni 2007 mereka memutuskan mengubah More Power Indonesia menjadi Jakarta Butuh Revolusi Budaya. Tujuannya, memberikan kontribusi positif kepada lingkungan sekitar. “Prinsipnya, mulai dari kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang,” kata Rusdi. Baca Terus!

Berburu Menuju 100 Sekolah

ikon-terakhir.jpg
Pada tanggal 30 Juni 2008 nanti usia Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) akan genap setahun. Sebagai sebuah organisasi JBRB masih balita. Kalau untuk ukuran manusia, usia satu tahun belum ada apa-apanya. Ia masih merangkak dan selalu menangis. Begitu pula JBRB, masih muda dan belum banyak pengalaman. Tapi bukan berarti JBRB tidak boleh dan tidak bisa bermimpi.

Mimpi itu milik siapa saja.

Bagi sebagian orang mimpi itu lebih dari sekedar sebuah kata. Mimpi bagi mereka bukan saja sebuah nasehat dari orang tua tentang kehidupan. Mimpi bagi mereka adalah sebuah way of life atau jalan hidup. Bagi mereka mimpi itu bagaikan darah yang mengalir di sekujur tubuh dan membasahi setiap urat nadi. Mimpi adalah apa yang mereka pikirkan setiap detik dan setiap menit. Mimpi adalah nyawa.

Setelah berhasil menancapkan eksistensinya, JBRB akan mengejar mimpi-mimpi yang lebih besar di masa depan. Apabila di tahun pertama JBRB bermimpi untuk dapat diterima dengan baik oleh publik di Jakarta maka di tahun kedua nanti JBRB bermimpi untuk menggebrak publik Jakarta dengan dua kata: REVOLUSI BUDAYA!

Mimpi terjadinya sebuah Revolusi Budaya akan direalisasikan melalui program Berbudaya Itu Seru (Berburu) di 100 sekolah dasar di Jakarta dalam tiga tahun ke depan. Bukan satu, bukan dua, dan bukan juga tiga. Tapi 100 (SERATUS) sekolah.

Apabila generasi tua sudah lambat dan mulai keropos maka sudah saatnya generasi muda mengambil alih. Sudah saatnya yang muda dan yang bersemangat mengambil alih dan membentangkan layar selebar-lebarnya. Sudah saatnya kita berdiri tegak dan menatap ke depan! Mari kita melakukannya bukan melalui darah dan pemberontakan tapi melalui REVOLUSI BUDAYA.

JBRB akan menghitung mundur mulai hari ini hingga 30 Juni 2008: Mimpi menjalankan Berburu di 100 sekolah secara resmi berlaku. Sudah saatnya kita berhenti memaki dan mulai bermimpi!

Salam REVOLUSI BUDAYA,

Jakarta Butuh Revolusi Budaya
Team Washington, D.C.-Team Jakarta-Team Sydney
revolusibudaya@gmail.com
www.JakartaButuhRevolusiBudaya.com

The Indonesian Factor in Our Blood

Posted in Articles in English, Moral dan Budaya, Pemikiran, Surat dari Amerika by guebukanmonyet on March 9th, 2008

This article was published by The Jakarta Post on March 5, 2008. Read the article on The Jakarta Post, here.

borobudur 2This is the country where I was born. This is the land where I spent most of my childhood and early adult life. This is the place where I first learned how to cry and this is also the place where I learned how beautiful it was to laugh. This is God’s beautiful paradise and it is called Indonesia.

I’m not sure if I have the right to claim myself an Indonesian. What are the qualifications to be called Indonesian? I don’t live in Indonesia at the moment, does that fact make me unqualified for such title? Look at my proud name, it doesn’t sound like an Indonesian name. But, I do speak Bahasa fluently. I do love to eat rendang and sop buntut. I do have Indonesian friends who shared the pain and joy in my past. So, can I call myself an Indonesian?

But if an Indonesian is simply someone who lives in Indonesia then I should be called more than just a regular Indonesian because I have lived in various places in the country. I was born in Jakarta but soon my family moved to Cirebon. After that, I had the opportunity to live in more cities like Dumai in Riau, Malang in East Java, Cimahi in West Java, Semarang in Central Java, and Kebumen in Central Java. In Malang I first learned how to speak Bahasa Jawa, an ability that so I’m proud of. And after spending three years abroad I came back to Indonesia and spent six years in Jakarta.

Now, I have been living in Washington, D.C. for more than 16 months. And if you ask me whether or not I enyoy living in this country with no doubt I will say that I have so much fun. What’s better than living in America in this 21st century? What’s better than living in a country where you don’t have to worry to find a tukang ojek or warung rokok every time you try to locate an address? Just go to Google Map or Map Quest on the internet and get the exact directions of the place that you want to go to. And if you are too lazy to do that you can get yourself a GPS for less than $500 that you can put on your car dashboard and it will tell you when to turn right or left. I mean, what’s better than living in a country where ordering a pizza can be done on the screen of your computer? Read the full article

Berbudaya Itu Seru!

Posted in Moral dan Budaya, Pendidikan, Surat dari Selong by guebukanmonyet on February 28th, 2008

sampah.jpgAndai saja semua orang di Jakarta tahu kalau berbudaya itu seru. Sudah pasti Jakarta akan menjadi sebuah kota yang begitu indah dan nyaman untuk ditinggali. Tidak ada lagi orang yang main serobot dan tidak ada lagi orang yang membuang sampah sembarangan. Semua orang saling menghargai, semua orang rajin membaca buku, dan mencintai budaya Indonesia. Mungkinkah?

Kenapa tidak? Coba datang ke SDN Selong 01 Kebayoran Baru setiap Sabtu pagi dan bukitkan bahwa berbudaya itu memang seru. Tidak saja seru tapi berbudaya ternyata sangat mudah dan menyenangkan. Nah, kalau para murid SD saja bisa berbudaya kenapa kita tidak bisa?

Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) baru saja meluncurkan sebuah program baru yang dinamakan Berbudaya Itu Seru atau Berburu. Program baru yang dirumuskan oleh tim JBRB di Washington, D.C. ini merupakan sebuah training singkat bagi para murid SD yang mengajarkan betapa pentingnya nilai-nilai budaya yang positif dan maju. JBRB percaya bahwa apabila nilai-nilai budaya yang positif dan maju diajarkan sedini mungkin kepada anak maka mereka akan tumbuh menjadi manusia yang berbudaya.

Tidak seperti program pendidikan lain yang justru membuat murid tertekan, Berburu merupakan sebuah program pendidikan alternatif yang penuh tawa dan canda. Setiap murid diwajibkan untuk belajar sembari bermain. Ada lima tema yang diberikan kepada para murid, yaitu: Berbudaya tertib, mencintai lingkungan, menghargai sesama, rajin membaca, dan mencintai budaya Indonesia. Dan setiap tema diberikan melalui diskusi, simulasi, nyanyian, dan pastinya permainan. Seru bukan?

Bukan para murid saja loch yang tertawa dan bermain sepanjang mengikuti Berburu tapi para kakak pengajar pun mendapatkan kesenangan yang sama. Para pengajar yang kebanyakan adalah anggota baru JBRB tampak begitu bersemangat dalam memberikan materi kepada para murid. Mereka selalu tertawa dan bermain bersama para murid sepanjang program Berburu yang pada Sabtu tanggal 23 Februari kemarin diluncurkan untuk pertama kalinya. Sekarang saja mereka sudah tidak sabar untuk menjalankan Berburu berikutnya.

Kedepannya, JBRB berharap Berburu dapat dijalankan di banyak sekolah di Jakarta agar pesan akan pentingnya berbudaya dapat semakin disebarluaskan. JBRB membuka kesempatan sebesar-besarnya bagi siapa saja yang ingin tergabung di dalam gerakan ini dan bersama-sama mewujudkan sebuah Revolusi Budaya bagi Jakarta dan Indonesia. Anda tertarik? Hubungi JBRB di 0856 92010666.

Salam Revolusi Budaya!

Lihat foto-foto Berburu di sini.

Kuncinya Ada di Pendidikan

Posted in Surat dari Selong by guebukanmonyet on February 18th, 2008

Republika menulis laporan mengenai JBRB pada edisi Sabtu, 16 Februari yang lalu. Sebelumnya, JBRB juga dimuat oleh Indo Pos dan sempat masuk di dalam tayangan VOA yang disiarkan oleh JakTV. Berikut adalah salah satu artikel yang ditulis oleh Republika tentang JBRB:

Kuncinya Ada di Pendidikan

Novi mulai tidak sabar. Perutnya sudah lapar. Setengah jam sudah siswi kelas lima SD Negeri 01 Pagi Selong itu menanti. Kakinya digoyang-goyangkan. Akhirnya dia bersuara juga. ”Kak, ayo Kak, mulai,” katanya seraya merengek.

Siang itu seharusnya Novi mendapat bimbingan belajar dari para kakak yang tergabung dalam Jakarta Butuh Revolusi Budaya. Sedianya pelajaran tambahan bahasa Inggris diberikan setiap pukul 12.30 WIB seusai pelajaran wajib berakhir di hari Sabtu. Meski pelajaran akhirnya baru mulai selepas pukul 13.00, Novi tidak keberatan. Dia dan beberapa teman lainnya cuma harus mengisi perut dulu dan menunaikan shalat Dzuhur.

Begitu tiga kakak perempuan memberikan bimbingan pelajaran bahasa Inggris, keresahan hilang. Semuanya sibuk menjawab pertanyaan. ”Umbrella,” jawab mereka serempak saat ditanya apa bahasa Inggris payung. Tidak mau kalah, mereka balik bertanya pada sang kakak. ”Kalau kepiting, itu tuh kayak di kartun Spongebob, bahasa Inggrisnya apa, Kak,” tanya salah satu murid. Yang lain menimpali, ”Kita gambar aja, Kak. Terus kita suruh sebut bahasa Inggrisnya bagian gambar itu apa.”

Jakarta Butuh Revolusi Budaya sudah enam bulan terakhir ini mengajarkan pelajaran tambahan bahasa Inggris kepada murid-murid SD Negeri 01 Pagi Selong, di Jl Senopati, Jakarta Selatan. Di aula sekolah yang terbuka seperti pendopo mereka meresap bahasa asing yang sehari-hari didengar di televisi. Kata demi kata meluncur dari bibir kecil sembari memandang bangunan tinggi yang terlihat di balik atap sekolah. Sebut saja mal teranyar Jakarta, One Pacific Place, sampai pusat perputaran uang Indonesia, gedung Bursa Efek.

Sekolah Novi cuma berjarak satu kilometer dari Sudirman Central Bussiness District. Sedang murid kelas lima di situ baru sebatas menghafalkan bahasa Inggris dari kata payung, kepiting, kupu-kupu. Ilmu yang sudah dikuasai murid TK swasta tak jauh dari SD Selong. Baca Terus!

Yang Muda Yang Berbudaya

Posted in Surat dari Selong by guebukanmonyet on February 18th, 2008

Republika menulis laporan mengenai JBRB pada edisi Sabtu, 16 Februari yang lalu. Sebelumnya, JBRB juga dimuat oleh Indo Pos dan sempat masuk di dalam tayangan VOA yang disiarkan oleh JakTV. Berikut adalah salah satu artikel yang ditulis oleh Republika tentang JBRB:

Yang Muda Yang Berbudaya

Banyak orang buang sampah sembarangan. Tak mau antre. Parkir mobil di trotoar. Menyerobot lampu merah. Sekelompok anak muda ingin membenahinya.

Seorang perempuan mengaduh. Kakinya terinjak. Punggungnya didorong dari belakang. Dia dipaksa masuk ke dalam bus Transjakarta. Sesampainya di dalam kendaraan besar itu penderitaannya belum berakhir. Tidak ada tempat duduk.

Terpaksalah ia berdiri. Dalam himpitan penumpang bus lain tubuhnya terdorong ke depan ke belakang. Pegangan tangannya hampir terlepas. Penumpang yang berdesak-desakan menopang tubuhnya hingga ia tidak sempat jatuh. ”Aduh ini mah brutalway, bukan busway ya,” keluhnya.

Padahal keberadaan bus Transjakarta yang memiliki jalur khusus (busway) adalah simbol kemodernan Jakarta. Tapi, perilaku penumpangnya ternyata belum memadai untuk ukuran masyarakat modern. Siapa saja yang pernah berjuang naik bus Transjakarta pada jam sibuk paham betapa kejamnya dunia menumpang bus dengan jalur khusus tersebut. Calon penumpang banyak berlomba masuk lebih dulu. Tak memakai aturan mendulukan penumpang keluar baru calon penumpang masuk bus.

Di sudut Jakarta lain, mata Dhany Ryandi membelalak. Pria berambut ikal itu tidak habis pikir bagaimana anak-anak sekolah dasar bisa sampai membuka situs khusus pria dewasa di internet. Dhany pun bangkit dari tempat duduknya. Tanpa pikir panjang ditegurnya anak-anak itu. ”Saya suruh mereka pulang,” kata dia. ”Bayangkan, anak SD udah bisa buka gambar porno di warnet,” ujarnya lagi.

Apa mau dikata. Zaman telah berubah. Bukan cuma anak yang makin rentan terpapar perilaku kurang baik. Anggota masyarakat yang lebih dewasa juga tidak kalah dalam hal terpengaruh budaya buruk. Maka, banyak orang emosi di jalan. Sama dengan bertambahnya tetangga yang tidak mengenal satu sama lain. Tindakan Dhany mungkin saja tidak berani dilakukan orang lain. Mereka bisa saja memilih menutup mata. Alasannya, ”Bukan urusan gue.” Baca Terus