Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Sindrom Orang Beken

Posted in Moral dan Budaya by udiot on November 23rd, 2007

cek-ricek.jpgBeberapa minggu belakangan saya sibuk berkelana dan men-charge jiwa saya sehingga tidak dapat mengikuti perkembangan dan berita gosip yang biasanya hampir setiap pagi selalu saya tonton. Kalau tidak mengikuti gosip tentang selebritis Indonesia bisa dibilang gak keren dan kurang beken.

Ketika saya kembali menonton gosip pagi, saya melihat berita tentang Maia Ahmad yang membuat pernyataan menghebohkan: Suaminya Ahmad Dhani dituduh telah melakukan eksploitasi anak. Mendengar tuduhan sang istri, Dhani kebakaran jenggot dan balik menuduh kalau Maia telah memfitnah dirinya dan ini merupakan penghinaan besar bagi dirinya. Menanggapi berita tersebut, seorang teman saya dengan santai hanya berkata, “Biasalah, ini sindrom orang beken.” “Apaan tuh bro, gue gak paham,” tanya saya. “Masa lu gak paham ama yang begituan?” Jawabnya.

Menurut teman saya, sindrom orang beken adalah sesuatu yang lagi happening. Semua orang berusaha tampil untuk menjadi beken dan menjadi banci kamera, membuat berita jika tidak ada berita dan menjemput wartawan ketika tidak ada wartawan. Sindrom ini telah merusak banyak orang, bukan saja yang menjadi subjek sindrom tetapi si objek sindrom juga bisa terkena efeknya. Tidak hanya orang dewasa, anak kecil pun telah terjangkit sindrom orang beken ini. Menurut teman saya, ada berbagai urutan sikap manusia dan hubungannya dengan sindrom orang beken: Baca Terus!

Surat dari Selong

Posted in Moral dan Budaya, Pendidikan, Surat dari Selong by udiot on November 8th, 2007

sdselong.jpg

Perkenalkan, nama saya Rusdi Indradewa dan saya adalah Ketua komunitas Jakarta Butuh Revolusi Budaya.

Pada tanggal 27 Oktober 2007 yang lalu saya datang ke SDN Selong 01 Senopati Pagi Kebayoran Baru untuk bertemu dengan Kepala Sekolah Ibu Sri Subarni.

Selain membicarakan tentang kegiatan Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) saya berniat untuk melakukan silahturahmi dengan Beliau berhubung hari raya Idul Fitri baru saja berlalu. Saya mengemukakan satu kendala utama yang kami hadapi dalam menjalankan bimbingan belajar (bimbel) gratis, yaitu kurangnya jumlah tenaga pengajar.

Sebenarnya, JBRB sudah memiliki jumlah tenaga pengajar yang cukup namun sayangnya kebanyakan dari pengajar adalah mahasiswa yang sekarang sedang sibuk mengurus skripsi atau mengikuti praktek kerja lapangan sehingga saat ini JBRB mengalami sedikit kesulitan untuk menjalankan program bimbel tersebut. Selain masalah bimbel, saya juga melontarkan wacana Rumah Cerdas yang selama ini ada di pikiran para anggota JBRB.

Rumah Cerdas dimaksudkan untuk meningkatkan minat baca para murid SDN Selong 01 yang selama ini tidak memiliki perpustakaan untuk memperoleh ilmu tambahan di luar kelas. Saya menjelaskan kepada Ibu Sri bahwa bahwa Rumah Cerdas nantinya tidak dibangun atas bantuan JBRB atau pihak sekolah tapi melalui sumbangan swadaya para orang tua murid sehingga para murid memiliki sense of belonging yang tinggi.

Saya menutup pertemuan pada hari itu dengan memberi kabar bahwa tim JBRB di Amerika Serikat sedang menggodok sebuah program yang dinamakan “Berburu!” dan akan menjadikan SDN Selong 01 sebagai sekolah percobaan untuk program tersebut, seketika rona wajah Ibu Sri berseri-seri. Ibu Sri kemudian berjanji akan membicarakan hasil pertemuan tadi dengan para guru dan komite sekolah. Baca Surat Seluruhnya

Sayangnya, Abang None Cuma Pajangan

Posted in Jakarta Punya Cerita, Pemikiran by udiot on October 9th, 2007

p6260083.jpgSetiap tahun Dinas Pariwisata Propinsi DKI Jakarta menyelenggarakan Pemilihan Abang-None Jakarta, dan setiap tahun itu pula muncul pertanyaan dari masyarakat, “Apa sih tujuan dari acara ini?”

Mencoba mengingatkan, pada tahun 2005 Walikotamadya Jakarta Selatan Drs. Dadang Kafrawi M.Si mengatakan ajang pemilihan Abang None (Abnon) merupakan atraksi wisata yang bertujuan melestarikan budaya Betawi sekaligus sarana pengembangan potensi bakat, kreatifitas, kecerdasan para generasi muda, serta menghilangkan image sebagai pelengkap kegiatan atau pajangan saja.

Ajang pemilihan Abnon harus dapat memberikan citra kebudayaan serta kepariwisataan bukan sekedar pelengkap kegiatan atau pajangan saja. Walikota berharap, melalui ajang ini para finalis dapat memiliki disiplin, dedikasi, dan tanggung jawab yang tinggi untuk membantu Pemerintah Daerah, khususnya Jakarta Selatan, dalam mendorong laju industri pariwisata di Jakarta. Beliau juga berharap, pemilihan Abnon dapat menghasilkan duta wisata yang mampu mempromosikan dunia wisata Jakarta Selatan dan sekaligus membantu Pemda mengajak warga untuk menjaga budaya bersih, indah, dan tertib yang akhirnya menghasilkan masyarakat yang bersih, bermoral, serta bermental baik. Penasaran donk? Klik sini

Dasar Muka Duit!

Posted in Opini Publik, Pemikiran by udiot on August 15th, 2007

ged-dpr.jpgBerkunjung ke Gedung DPR beberapa waktu lalu menyisakan berbagai macam pertanyaan dan kebencian di dalam hati. Melihat lalu lalang mobil-mobil mewah yang dimiliki si “pemilik-gedung,” tawa canda serta berbagai macam atribut kesombongan yang dibanggakan mereka semakin membuat dada ini sesak. Beberapa saat saya diam sejenak melihat tingkah laku beberapa orang dari mereka, tiba-tiba beberapa teman saya datang untuk menemui salah seorang anggota DPR untuk memberikan sebuah surat permohonan melakukan audiensi.

Sesampainya di sebuah ruangan milik salah seorang anggota DPR yang dituju, kami memberikan surat kepada sekretarisnya, karena sang anggota sedang berlibur, dengan nada sedikit menyentil saya bertanya “Hah, libur? Yang bener Pak?” “Iya libur kan sekarang lagi reses?” Jawab sekretaris tersebut. “Berapa lama Pak liburnya,” tanya saya penasaran. “Yah, palingan 10 hari.”

“Hah, 10 hari?!” Dengan penuh kebencian di dalam hati saya berteriak, “Are you F***ing crazy?” “Seenaknya lu reses, dasar kampret, yang bayar lu tuh rakyat. Emang korban Lapindo ada reses, orang miskin ga bisa Sekolah ada reses, orang miskin mati karena ga bisa bayar pengobatan ada reses? GILA BANGET LU YAH!” (more…)

CARA ORANG PINTAR PILIH GUBERNUR

Posted in Jakarta Punya Cerita, Pemikiran by udiot on July 20th, 2007

Banyak cara untuk menilai calon Gubernur (Cagub) mana yang layak menjadi poemimpin DKI berikutnya. Berbagai macam “kecap” dijual kepada masyarakat untuk menjual popularitas masing-masing Cagub. Namun mari kita coba juga melihat dari sisi-sisi yang mungkin selama ini kurang diperhatikan oleh masyarakat Jakarta.

1. Kata Kerja VS Kata Keterangan

Seperti kita sama-sama ketahui, kedua calon memasang tagline untuk kampanye mereka. Pasangan Adang-Dani memakai “AYO BENAHI JAKARTA” dan pasangan Fauzi-Priyanto memakai “JAKARTA UNTUK SEMUA.” Mungkin masyarakat tidak terlalu memikirkan makna dari tagline tersebut, padahal tagline merupakan gambaran singkat tentang karakter dari pemilik tagline tersebut, contohnya : Nokia dengan tagline “Connecting People” nya menunjukan Bahwa HP Nokia mudah untuk digunakan (user friendly).

Nah, bagaimana dengan tagline kedua pasangan Cagub ini? (more…)

Rejuvenasi Pancasila

Posted in Pemikiran by udiot on May 22nd, 2007

Dalam sebuah artikel di blog Paramadina, saya menemukan apa yang saya cari selama ini, sebuah esensi dari Revolusi Budaya! Menurut artikel tersebut Revolusi Budaya adalah sebuah Rejuvenasi Pancasila, yaitu semangat untuk mengembalikan Pancasila seperti apa yang dicita-citakan oleh para Founding Fathers, Pancasila tidak lagi dijadikan sebagai alat politik tetapi Pancasila ditujukan untuk mencapai masyarakat yang mempunyai budaya harmonis, bermartabat dan mempunyai visi yang luas. (more…)

Tagged with: ,

Hadapi Kenyataan!

Posted in Moral dan Budaya, Pemikiran by udiot on May 20th, 2007

Menghadapi kenyataan, inilah yang seharusnya selalu ada dalam pikiran setiap insan manusia warga kota Jakarta. Dengan kondisi carut marut seperti ini Jakarta seakan tidak pernah bangun dari tidur panjangnya. Macet, banjir, kriminalitas tinggi, dan prostitusi adalah hal-hal yang biasa di kota Jakarta. Tetapi yang menarik untuk saya adalah sebuah kenyataan bahwa warga kota Jakarta semakin menunjukan siapa dirinya. KAMI adalah orang yang tidak berbudaya. Bukan sekedar sebuah retori yang menggumam di kepala tetapi sebuah pemikiran yang seakan tidak pernah berhenti bertanya, apakah ada bangsa di dunia yang setiap harinya hanya mencela dan tertawa? Apakah ada bangsa di dunia yang melecehkan pemimpinnya sendiri? Bangsa ini memang sudah kelewatan !! (more…)

Djokosantoso Moeljono: Bapak Revolusi Budaya Modern Indonesia

Posted in Moral dan Budaya, Pemikiran, Pendidikan, Surat dari Selong, Tokoh Kita by udiot on May 1st, 2007

Matang, tegas, dan bijaksana. Inilah kesan pertama saya ketika pertama kali bertemu dengannya. Beliau adalah Dr. Djokosantoso Moeljono, mantan Direktur Utama Bank BRI, yang mulai tahun 1993 menggantikan Iwan Prawiranata sampai dengan Agustus tahun 2000. Dengan berbagai pengalamannya menjabat sebagai komisaris, dirut, dewan pembina, dan dosen beliau berhasil mencurahkan pengalaman praktiknya ke dalam beberapa buku karangannya yang kesemuanya menekankan pada “Budaya.” (more…)

Culture Matters: How Values Shape Human Progress

Posted in Moral dan Budaya, Pemikiran, Pendidikan by udiot on May 1st, 2007

Judul artikel diatas adalah judul dari buku karya Lawrance E. Harrison dan Samuel P. Huntington (2000) yang di dalamnya menyimak temuan dari sebuah riset global yang disponsori oleh Harvard Academy for International and Area Studies di akhir tahun 1990-an. Riset tersebut melibatkan 25 ilmuwan sosial paling senior, mulai dari Michael E. Porter (pakar kedayasaingan), Seymour Martin Lipsett (ilmuwan politik), sampai dengan Francis Fukuyama (filsuf modern) yang menghasilkan temuan yang kuat bahwa “Budaya menentukan kemajuan dari setiap masyarakat, negara, dan bangsa di seluruh dunia, baik ditinjau dari sisi politik, sosial, maupun ekonomi. Tanpa kecuali.”

Budaya
Ada begitu banyak definisi tentang budaya, tetapi secara singkat, budaya adalah cara manusia memberikan respons kepada lingkungannya agar bisa bertahan (surviving) dan menang (winning). Makna ini pula yang diangkat dalam seminar yang diadakan oleh Harvard Academy for International and Area Studies di tahun 1990-an yang mengangkat topik “Culture Matters” (Samuel P. Huntington, 2000). Seminar tersebut mencatat bahwa culture counts: pada tahun 1960-an kondisi perekonomian di Ghana dan Korea Selatan adalah sama. Tapi di tahun 1990-an kita semua tahu perbedaan dari kedua negara tersebut. Ghana pada tahun 1990-an tetaplah seperti Ghana di tahun 1960-an sementara Korea Selatan adalah sebuah kekuatan ekonomi Asia yang menggetarkan dunia. Mengapa? karena Budaya Menentukan Kemajuan Manusia! Baca Terus!

Revolusi Budaya ESQ!

Posted in Pemikiran by udiot on April 21st, 2007

“ESQ adalah Ultimate Intelligence (puncak kecerdasan) dan dengan itu seorang insan kamil mampu bekerja secara cerdas dan penuh keikhlasan dalam memberikan pelayan terbaik, demi tercapainya tujuan perusahaan. Saya selalu mengajak teman-teman kami untuk membaca dan mendalami ESQ beserta Trainingnya.”

–Indra Setiawan mantan Dirut PT. Garuda Indonesia yang menjadi tersangka dalam kasus kematian pejuang HAM Munir–

Dalam artikel ini saya tidak ingin membahas mengenai Indra Setiawan dalam kaitannya dengan pembunuhan Munir dan saya juga tidak mengajak Anda mendalami lebih jauh mengenai ESQ tetapi saya ingin mengajak anda melihat fenomena ESQ dalam melakukan REVOLUSI BUDAYA!. (more…)