BLT, solusi miskin untuk rakyat miskin

Langkah pemerintah Indonesia dalam menaikan harga BBM dikarenakan tingginya harga minyak dunia melebihi APBN 2008 menimbulkan pro serta kontra di antara masyarakat. Beberapa pihak yang sejalan dengan pemikiran pemerintah menganggap langkah yang diambil sudah merupakan keputusan terbaik untuk saat ini, mengingat efek jangka panjang atas pemberian subsidi BBM akan memperkeruh kondisi perekonomian bangsa.
Namun tidak begitu dengan pihak yang menolak kenaikan BBM. Mereka menganggap seharusnya pemerintah bisa melihat kondisi rakyat yang terhimpit dengan kemiskinan yang akan semakin menderita atas dampak kenaikan BBM tersebut. Alhasil tak dapat dihindari berbagai aksi terjadi di dalam negeri. Mulai dari mahasiswa yang berdemo menolak kenaikan BBM, pengemudi angkutan umum yang mogok, hingga naiknya harga-harga kebutuhan pokok.
Demi meredam dampak kenaikan harga-harga tersebut, pemerintah mengeluarkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) secara bertahap. Kebijakan ini menurut saya adalah solusi yang miskin makna untuk rakyat miskin. Pembgia BLT sebagai pengalihan kenaian BBM dapat digambarkan bagaikan menuangkan air kedalam plastik yang bolong. Walaupun dapat dibilang uang sebesar Rp 300,000 sangat bermakna bagi rakyat miskin namun hal ini melupakan efek buruk yaitu terciptanya mental pengemis bagi masyarakat bangsa ini.
Mungkin pengalihan subsidi tersebut akan lebih bermakna dalam jangka panjang apabila secara deklamasi pemerintah menunjukan komitmennya dengan meningkatkan peluang usaha bagi rakyat miskin, diantaranya dengan pemberdayaan sumber daya dari kalangan menengah ke bawah. Hal ini harus didukung dengan menurunkan harga pada sektor-sektor strategis seperti biaya pendidikan disertai perangkat pendukungnya, meningkatkan kualitas transportasi publik, meningkatkan pemberadaan rumah murah bagi rakyat miskin yang tepat tujuan, dan keseriusan dalam mengembangkan produk dalam negeri demi mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan yang saat ini sudah terlupakan.
Sehingga bangsa ini lebih kaya solusi dalam mengambil keputusan.
Foto diambil dari sini.
Banality and Compassion
This article is dedicated to all victims and survivors of crimes against humanity whoever and wherever they are in the world. We are born as human beings with good balance of mind and heart elements, but for some reasons we have grown apart from our compassionate heart. It’s time to return and ponder upon what we have done to make the world a more compassionate place to live.
Artikel ini didedikasikan bagi semua korban dan survivors kriminalitas atas kemanusiaan siapa pun dan di mana pun mereka berada di seluruh dunia. Kita semua dilahirkan sebagai makhluk berbudi dengan unsur-unsur intelek dan afektif yang seimbang. Namun, karena realitas kehidupan, kita sudah mulai melupakan hati yang berbudi dan berakhlak tinggi. Sudah waktunya untuk kembali ke hati yang murni dan mengambil kembali dunia yang sudah semakin jauh dari perikemanusiaan ini. Sekarang, saat ini juga.
Banality and Compassion
by Jennie S. Bev, San Francisco
Also published on AsiaBlogging.com
Modern lifestyle is known to be quite monotonous and routine. Many people work, live, and even breathe on cruise-control auto-pilot mode. Those who follow the rules are oftentimes stamped as “good gatekeepers” and those who despise and challenge the rules are known as “rebels” and “dissidents.” Just like a driving recommendation by California State’s Department of Motor Vehicle (DMV), in which a driver must follow the current freeway traffic speed to avoid accidents regardless of the official speed limit, living has been more or less quite like that.
Living a drone-like existence might not be inevitable, but human beings are, by nature, restless creatures, who would need to find a balance between mind and heart, between righteousness and wickedness, between banality and pertinence, and between savagery and compassion. When it is time to choose, oftentimes theology comes into play. Without a balanced perspective between intellect and affection in understanding theology, which is oftentimes regarded as the “divine voices”, many people have been victimized by dogmatic elements, leaving helplessness and restlessness to widespread even deeper. Read the Full Article!
Ayo Kita Berubah

Berapa banyak hal yang kita tahu tentang Jakarta? Sebuah kota yang telah melahirkan begitu banyak sejarah perdaban masa lalu. Kota yang telah melahirkan banyak seniman handal seperti Benyamin Suaeb dan pelukis hebat seperti Henk Ngantung dan Afandi. Kota yang sebenarnya begitu diharapkan untuk menjadi sebuah contoh bagi kota-kota lain.
Tapi, lihatlah apa yang ada pada pandangan mata kita saat ini. Yang ada adalah kota yang begitu terlihat semrawut, kotor, dan jorok. Daerah kumuh ada di setiap sisi kota. Satu kata yang dapat menggambarkan kondisi tersebut, menyedihkan.
Sangat berbeda jika membandingkan Jakarta dengan ibu kota negara lainnya. Dari tata kotanya, Jakarta hanya terlihat rapi di daerah-daerah pusat. Misalnya, kawasan Medan Merdeka Utara di Jakarta Pusat. Di sana berdiri Istana Negara dan Istana Merdeka di dalam satu komplek. Istana Merdeka berdiri menghadap ke arah Monas yang merupakan simbol kota Jakarta. Siapa yang tidak tahu Monas? Lihatlah kawasan tersebut ketika kita sedang melintas. Terlihat bersih dan rapi bukan? Baca Terus!
The Burden that Every Young Indonesian Has to Carry

This article was published by The Jakarta Post on May 19, 2008 as part of a special report celebrating Indonesia’s 100th Year of National Awakening. Read the article on The Jakarta Post, here.
It’s not easy to be a young Indonesian. The challenges are great and tough. Some of you might wish that you had been born in an advanced country like America or Japan so that you wouldn’t have to witness the poor crying for food every single day.
It’s the burden that I have to carry. A burden that you, your friends, and any other young Indonesian have to carry. It’s the burden that our founding fathers wanted us to carry.
It’s what young Indonesians have been pressured to do: To make a big change to our society.
Some say that a country’s greatness depends on its young people. Some say that it’s always the young people who make the great changes to one society. They say that the young people are the ones with a great motivation and energy. They are the brave and the optimistic ones. They’re the ones who dare to fight against injustice.
In 1908, young Indonesian intellectuals who had lived and were still living in The Netherlands established the first Indonesian political organization called Budi Utomo. This organization was probably the first group of young Indonesians who felt the urgency to spread the spirit of nationalism throughout the country. Their efforts proved to be revolutionary.
Ninety years later it was the young Indonesians who fought and stood up against the dictatorship. The 1998 movement resulted one word that would be part of our daily conversation and lives for the next several years, and that word was reformasi. The young Indonesians were praised at that time for their courage.
But ten years after reformasi and a hundred years after Budi Utomo, it is sad to know that I see more pessimism than optimism among the young Indonesians. Everywhere I go I meet young Indonesians who think that there’s nothing we can do to Indonesia. They simply say, “It’s Indonesia, what can you expect?” Read the Full Article!
A Little Bit of America in All of Us

This article was published by The Jakarta Post on May 12, 2008. Read the article on The Jakarta Post, here.
Yes we hate America. We hate their stupid culture and we condemn their arrogance. George W. Bush is the worst American president and it’s so exciting that even most Americans think that way too. We curse at them when we see news on TV about Afghanistan and Iraq.
We feel offended when they call our Muslim brothers and sisters terrorists. Thus, some of us even praise Osama bin Laden for his notorious success in making America look like a fool.
We support every demonstration in front of the U.S. Embassy and burning their flag is fine because it’s a representation of our solidarity to those who are oppressed and poor.
And we wish someday we could have a president like Sukarno again who bravely said to America, “Go to hell with your aid!”
But shamefully, the reality is we actually love America so badly. We have to admit this fact.
Of course we do, that’s why there’s a McDonald’s on every corner in Jakarta. Of course we do, that’s why Starbucks is the coolest place to hang out for young Indonesians in Jakarta. And of course we do, that’s why more and more young Indonesians in small cities dress themselves like Brad Pitt and Angelina Jolie.
Who doesn’t love American movies? At least I do. I love Al Pacino and Robert De Niro. I love Steven Spielberg and Martin Scorsese. In my opinion, Hollywood movies are the greatest heritage of American pop culture.
Let’s face it, we can’t avoid America. Especially the young ones. Everywhere we go and everytime we breath we see America with all its products and values.
Some of us can’t live without a computer and internet connection. We worship Bill Gates for inventing softwares that enable us to live so much easier. Read the Full Article!
Jakarta MEMANG Butuh Revolusi Budaya
Jakarta MEMANG butuh revolusi budaya. Saya tertarik bergabung ajakan Kang Tasa dan anak-anak muda di Washington DC ini karena misi dan visi organisasi yang 110% kebetulan klop dengan cita-cita yang selama ini saya dambakan, meski umur sudah tidak 19-25 tahun lagi. Satu dekade lalu, ketika krisis ekonomi menghantam negeri kita, yang kelimpungan ternyata bukan hanya ekonomi, tetapi juga politik, sosial, budaya dan seluruh aspek kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Kita tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah, mana yang tepat mana yang tidak tepat. Bangsa Indonesia seperti abis kena diare berkepanjangan, lalu dehidrasi dan pikirannya banyak yang terganggu. Tidak kurang kita saksikan berbagai konflik terjadi karena hal yang sangat sepele. Sisi positifnya ada juga, masyarakat menikmati banyak sekali acara dagelan yang ditampilkan oleh para politikus, pengamat, pejabat pemerintah, dan public figure lainnya, di berbagai media massa.
Ketika itu, saya membantu WANGO (World Association of NGO) menyelenggarakan workshop nasional mengenai “universal values” yaitu nilai-nilai luhur yang dianut oleh berbagai kelompok masyarakat di dunia dengan latar belakang ras, agama, nasionalisme, atau bahasa yang berbeda. Contohnya, nilai luhur semangat kepahlawanan — seluruh lapisan masyarakat dunia menjunjung tinggi nilai itu. Workshop dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat Indonesia yang mewakili organisasi keagamaan, masyarakat, budaya, politik, dan komunitas pendidik. Melalui diskusi dan presentasi, para toma dan toga menyatakan kekhawatirannya akan keadaan yang sedang terjadi yang akan menggerus nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.
Apa itu nilai-nilai luhur bangsa Indonesia? Jawabannya ada di kepala setiap orang. Baca Terus!
Kemiskinan dan Permukiman Kumuh di Perkotaan
Kita semua menyadari bahwa kemiskinan merupakan salah satu masalah sosial di Indonesia yang tidak mudah untuk diatasi. Beragam upaya dan program dilakukan untuk mengatasinya tetapi masih banyak kita temui permukiman masyarakat miskin hampir setiap sudut kota. Keluhan yang paling sering disampaikan mengenai permukiman masyarakat miskin tersebut adalah rendahnya kualitas lingkungan yang dianggap sebagai bagian kota yang mesti disingkirkan.
Tulisan ini mencoba untuk memberikan penjelasan tentang upaya untuk mengatasi kemiskinan di perkotaan sekaligus pula untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman masyarakat miskin.
Peremajaan Kota
Pendekatan konvensional yang paling populer adalah menggusur permukiman kumuh dan kemudian diganti oleh kegiatan perkotaan lainnya yang dianggap lebih bermartabat. Cara seperti ini yang sering disebut pula sebagai peremajaan kota bukanlah cara yang berkelanjutan untuk menghilangkan kemiskinan dari perkotaan.
Kemiskinan dan kualitas lingkungan yang rendah adalah hal yang mesti dihilangkan tetapi tidak dengan menggusur masyarakat telah bermukim lama di lokasi tersebut. Menggusur adalah hanya sekedar memindahkan kemiskinan dari lokasi lama ke lokasi baru dan kemiskinan tidak berkurang. Bagi orang yang tergusur malahan penggusuran ini akan semakin menyulitkan kehidupan mereka karena mereka mesti beradaptasi dengan lokasi permukimannya yang baru. Baca Terus!
Pengembangan Perbukuan
Krisis perbukuan seperti yang terjadi di tanah air hampir tidak pernah terdengar di persekolahan Amerika. Siswa-siswa sangat dimanjakan oleh sistem perbukuan Amerika. Buku-buku teks, buku pendukung, buku pengayaan, dan referensi, semuanya tersedia di perpustakaan sekolah. Setiap siswa mendapat pinjaman buku teks untuk setiap mata pelajaran. Siswa juga dapat meminjam buku apa saja sesuai dengan minatnya, melalui perpustakaan sekolah, perpustakaan masyarakat, atau fasilitas peminjaman antar perpustakaan. Setiap siswa diharapkan memelihara buku teks dengan baik. Setelah naik kelas, buku teks dikembalikan ke sekolah untuk digunakan kembali oleh adik kelasnya. Begitulah seterusnya. Sekolah, distrik, atau negara bagian baru akan memperbaharui dan mengganti buku teks di sekolah setiap enam tahun sekali.
Musim pengadaan buku teks dimulai pada bulan April. Ada dua proses pengadaan buku teks di AS; adopsi formal buku teks dan pasar bebas. Yang diincar oleh penerbit adalah proses adopsi formal buku teks yang berlaku di 22 negara bagian, terutama Texas, California, dan Florida. Di kelompok negara bagian ini, buku teks yang akan digunakan oleh sekolah terlebih dahulu diuji kualitasnya oleh tim evaluasi yang dibentuk oleh pemerintah negara bagian. Hanya buku-buku yang telah lulus evaluasi yang akhirnya akan dibeli oleh pemerintah negara bagian. ”The Big Three” negara bagian Texas, California, dan Florida senantiasa selalu menjadi perhatian utama para penerbit. Ke tiga negara bagian ini mempunyai populasi siswa SD-SMA sekitar 13 juta, sedang 19 negara bagian lainnya hanya 12,7 juta siswa. Meskipun jumlah siswa di ketiga negara bagian ini berbeda-beda; California lebih dari 6 juta siswa, Texas lebih 4 juta siswa, dan Florida sekitar 3 juta siswa, tetapi anggaran pengadaan buku teks mereka hampir sama. Pada tahun anggaran 2003/04, sebagai contoh, ke tiga negara bagian ini membelanjakan $900 juta untuk bahan instruksional termasuk buku teks. Meski unit cost berbeda untuk pembelian barang yang hampir sama, masyarakat tidak ribut karena lelang dilaksanakan secara fair, kompetitif, dan terbuka, dan dilaksanakan oleh sebuah unit khusus pengadaan yang sangat profesional. Baca Terus!
Education for Everyone
For many of us, June and July were the most favorite months during our childhood. It was when we had a long holiday. Some of you went to your grandparents’ house, went abroad or out of town, joined a short course, or just stayed at home and enjoyed the holiday. We had so much pleasure buying new books, uniforms, shoes, bags, and other school needs to start another new education year.
That is a sweet memory we never forget. At that time, we did not know and never thought how much money that our parents spent for our school fees and other things we needed for school. As time goes by, we can now see the reality of life which is not always as easy as our childhood.
A period of education year has ended and the new education year will start soon. Ideally, this is the chance for all people to improve their knowledge. However, das sein and das sollen not identical for all times. In fact, many people could not have the benefit of this. Until now, a big number of Indonesian citizens are uneducated not only in remote areas but also in big cities like Jakarta and Bandung.
In 2003, 6.025.940 people in Central Java, more than 20 percent of total population, did not finish their primary school. In Banjar, Ciamis, West Java, in the year 2004, more than 50 percent only finished their primary school. This is the truth that we can’t deny and should be our concern.
There are a lot of reasons behind this problem. High cost of education becomes the main reason. Nowadays, there are programs of free school in some areas in Indonesia. In West Jakarta, a primary school already has this program. Some schools in Surabaya and other areas in Indonesia also have this program. Unfortunately, that’s not enough to fulfill the needs of education for all Indonesian citizens. Read the Full Article!
It’s Time To Be Green
Thanks to Al Gore and other environmentalists the concern of global warming is rapidly growing throughout the world, mostly in the West. In America, for example, people talk this issue every day. At bookstores people are reading books and magazines giving them instructions how to be green and be part of a global movement to save the earth.
As a response to public awareness, industries are helping their customers to become greener and greener. Supermarkets are stocking their shelves with organic and eco-friendly products. Whole Foods Market, the world’s leading retailer of natural and organic food, is growing fast by giving its customers a promise that the food they buy will help saving the earth.
Despite the fact that U.S. government is still unwilling to sign the Kyoto Protocol, every day new organic products are filling supermarkets’ stock lists in America. Now they have organic apple, organic bread, organic burgers, organic lipstick, and a bunch of other organic products.
Someone once told me that organic chicken tastes better than the regular chicken. I got confused and complained, “How could that be?” She explained that an organic chicken is fed only with organic grains, never given any antibiotics and hormones, and raised in a stress-free environment. Now I know that a happy chicken tastes better. I later added, “We have that kind of chicken in our country too, it’s called ayam kampung.” Keep Reading and Let’s Save the Earth!




