Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Banality and Compassion

Posted in Articles in English, Moral, Moral dan Budaya, Pemikiran, Surat dari Amerika by jenniesbev on June 20th, 2008

Tear on a lotus leaf

This article is dedicated to all victims and survivors of crimes against humanity whoever and wherever they are in the world. We are born as human beings with good balance of mind and heart elements, but for some reasons we have grown apart from our compassionate heart. It’s time to return and ponder upon what we have done to make the world a more compassionate place to live.

Artikel ini didedikasikan bagi semua korban dan survivors kriminalitas atas kemanusiaan siapa pun dan di mana pun mereka berada di seluruh dunia. Kita semua dilahirkan sebagai makhluk berbudi dengan unsur-unsur intelek dan afektif yang seimbang. Namun, karena realitas kehidupan, kita sudah mulai melupakan hati yang berbudi dan berakhlak tinggi. Sudah waktunya untuk kembali ke hati yang murni dan mengambil kembali dunia yang sudah semakin jauh dari perikemanusiaan ini. Sekarang, saat ini juga.

Banality and Compassion
by Jennie S. Bev, San Francisco
Also published on AsiaBlogging.com

Modern lifestyle is known to be quite monotonous and routine. Many people work, live, and even breathe on cruise-control auto-pilot mode. Those who follow the rules are oftentimes stamped as “good gatekeepers” and those who despise and challenge the rules are known as “rebels” and “dissidents.” Just like a driving recommendation by California State’s Department of Motor Vehicle (DMV), in which a driver must follow the current freeway traffic speed to avoid accidents regardless of the official speed limit, living has been more or less quite like that.

Living a drone-like existence might not be inevitable, but human beings are, by nature, restless creatures, who would need to find a balance between mind and heart, between righteousness and wickedness, between banality and pertinence, and between savagery and compassion. When it is time to choose, oftentimes theology comes into play. Without a balanced perspective between intellect and affection in understanding theology, which is oftentimes regarded as the “divine voices”, many people have been victimized by dogmatic elements, leaving helplessness and restlessness to widespread even deeper. Read the Full Article!

The Burden that Every Young Indonesian Has to Carry

Posted in Moral dan Budaya, Pemikiran, Surat dari Amerika by guebukanmonyet on May 19th, 2008

This article was published by The Jakarta Post on May 19, 2008 as part of a special report celebrating Indonesia’s 100th Year of National Awakening. Read the article on The Jakarta Post, here.

It’s not easy to be a young Indonesian. The challenges are great and tough. Some of you might wish that you had been born in an advanced country like America or Japan so that you wouldn’t have to witness the poor crying for food every single day.

It’s the burden that I have to carry. A burden that you, your friends, and any other young Indonesian have to carry. It’s the burden that our founding fathers wanted us to carry.

It’s what young Indonesians have been pressured to do: To make a big change to our society.

Some say that a country’s greatness depends on its young people. Some say that it’s always the young people who make the great changes to one society. They say that the young people are the ones with a great motivation and energy. They are the brave and the optimistic ones. They’re the ones who dare to fight against injustice.

In 1908, young Indonesian intellectuals who had lived and were still living in The Netherlands established the first Indonesian political organization called Budi Utomo. This organization was probably the first group of young Indonesians who felt the urgency to spread the spirit of nationalism throughout the country. Their efforts proved to be revolutionary.

Ninety years later it was the young Indonesians who fought and stood up against the dictatorship. The 1998 movement resulted one word that would be part of our daily conversation and lives for the next several years, and that word was reformasi. The young Indonesians were praised at that time for their courage.

But ten years after reformasi and a hundred years after Budi Utomo, it is sad to know that I see more pessimism than optimism among the young Indonesians. Everywhere I go I meet young Indonesians who think that there’s nothing we can do to Indonesia. They simply say, “It’s Indonesia, what can you expect?” Read the Full Article!

A Little Bit of America in All of Us

Posted in Moral dan Budaya, Pemikiran, Surat dari Amerika by guebukanmonyet on May 14th, 2008

This article was published by The Jakarta Post on May 12, 2008. Read the article on The Jakarta Post, here.
Yes we hate America. We hate their stupid culture and we condemn their arrogance. George W. Bush is the worst American president and it’s so exciting that even most Americans think that way too. We curse at them when we see news on TV about Afghanistan and Iraq.

We feel offended when they call our Muslim brothers and sisters terrorists. Thus, some of us even praise Osama bin Laden for his notorious success in making America look like a fool.

We support every demonstration in front of the U.S. Embassy and burning their flag is fine because it’s a representation of our solidarity to those who are oppressed and poor.

And we wish someday we could have a president like Sukarno again who bravely said to America, “Go to hell with your aid!”

But shamefully, the reality is we actually love America so badly. We have to admit this fact.

Of course we do, that’s why there’s a McDonald’s on every corner in Jakarta. Of course we do, that’s why Starbucks is the coolest place to hang out for young Indonesians in Jakarta. And of course we do, that’s why more and more young Indonesians in small cities dress themselves like Brad Pitt and Angelina Jolie.

Who doesn’t love American movies? At least I do. I love Al Pacino and Robert De Niro. I love Steven Spielberg and Martin Scorsese. In my opinion, Hollywood movies are the greatest heritage of American pop culture.

Let’s face it, we can’t avoid America. Especially the young ones. Everywhere we go and everytime we breath we see America with all its products and values.

Some of us can’t live without a computer and internet connection. We worship Bill Gates for inventing softwares that enable us to live so much easier. Read the Full Article!

Jakarta MEMANG Butuh Revolusi Budaya

Posted in Moral dan Budaya, Pemikiran, Pendidikan, Surat dari Amerika by iskandar2358 on April 29th, 2008

Jakarta MEMANG butuh revolusi budaya. Saya tertarik bergabung ajakan Kang Tasa dan anak-anak muda di Washington DC ini karena misi dan visi organisasi yang 110% kebetulan klop dengan cita-cita yang selama ini saya dambakan, meski umur sudah tidak 19-25 tahun lagi. Satu dekade lalu, ketika krisis ekonomi menghantam negeri kita, yang kelimpungan ternyata bukan hanya ekonomi, tetapi juga politik, sosial, budaya dan seluruh aspek kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Kita tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah, mana yang tepat mana yang tidak tepat. Bangsa Indonesia seperti abis kena diare berkepanjangan, lalu dehidrasi dan pikirannya banyak yang terganggu. Tidak kurang kita saksikan berbagai konflik terjadi karena hal yang sangat sepele. Sisi positifnya ada juga, masyarakat menikmati banyak sekali acara dagelan yang ditampilkan oleh para politikus, pengamat, pejabat pemerintah, dan public figure lainnya, di berbagai media massa.

Ketika itu, saya membantu WANGO (World Association of NGO) menyelenggarakan workshop nasional mengenai “universal values” yaitu nilai-nilai luhur yang dianut oleh berbagai kelompok masyarakat di dunia dengan latar belakang ras, agama, nasionalisme, atau bahasa yang berbeda. Contohnya, nilai luhur semangat kepahlawanan — seluruh lapisan masyarakat dunia menjunjung tinggi nilai itu. Workshop dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat Indonesia yang mewakili organisasi keagamaan, masyarakat, budaya, politik, dan komunitas pendidik. Melalui diskusi dan presentasi, para toma dan toga menyatakan kekhawatirannya akan keadaan yang sedang terjadi yang akan menggerus nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Apa itu nilai-nilai luhur bangsa Indonesia? Jawabannya ada di kepala setiap orang. Baca Terus!

Kemiskinan dan Permukiman Kumuh di Perkotaan

Posted in Pemikiran, Pendidikan, Surat dari Amerika by Deden Rukmana on April 14th, 2008

slumKita semua menyadari bahwa kemiskinan merupakan salah satu masalah sosial di Indonesia yang tidak mudah untuk diatasi. Beragam upaya dan program dilakukan untuk mengatasinya tetapi masih banyak kita temui permukiman masyarakat miskin hampir setiap sudut kota. Keluhan yang paling sering disampaikan mengenai permukiman masyarakat miskin tersebut adalah rendahnya kualitas lingkungan yang dianggap sebagai bagian kota yang mesti disingkirkan.

Tulisan ini mencoba untuk memberikan penjelasan tentang upaya untuk mengatasi kemiskinan di perkotaan sekaligus pula untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman masyarakat miskin.

Peremajaan Kota

Pendekatan konvensional yang paling populer adalah menggusur permukiman kumuh dan kemudian diganti oleh kegiatan perkotaan lainnya yang dianggap lebih bermartabat. Cara seperti ini yang sering disebut pula sebagai peremajaan kota bukanlah cara yang berkelanjutan untuk menghilangkan kemiskinan dari perkotaan.

Kemiskinan dan kualitas lingkungan yang rendah adalah hal yang mesti dihilangkan tetapi tidak dengan menggusur masyarakat telah bermukim lama di lokasi tersebut. Menggusur adalah hanya sekedar memindahkan kemiskinan dari lokasi lama ke lokasi baru dan kemiskinan tidak berkurang. Bagi orang yang tergusur malahan penggusuran ini akan semakin menyulitkan kehidupan mereka karena mereka mesti beradaptasi dengan lokasi permukimannya yang baru. Baca Terus!

Pengembangan Perbukuan

Posted in Pemikiran, Pendidikan, Surat dari Amerika by iskandar2358 on April 13th, 2008

Krisis perbukuan seperti yang terjadi di tanah air hampir tidak pernah terdengar di persekolahan Amerika. Siswa-siswa sangat dimanjakan oleh sistem perbukuan Amerika. Buku-buku teks, buku pendukung, buku pengayaan, dan referensi, semuanya tersedia di perpustakaan sekolah. Setiap siswa mendapat pinjaman buku teks untuk setiap mata pelajaran. Siswa juga dapat meminjam buku apa saja sesuai dengan minatnya, melalui perpustakaan sekolah, perpustakaan masyarakat, atau fasilitas peminjaman antar perpustakaan. Setiap siswa diharapkan memelihara buku teks dengan baik. Setelah naik kelas, buku teks dikembalikan ke sekolah untuk digunakan kembali oleh adik kelasnya. Begitulah seterusnya. Sekolah, distrik, atau negara bagian baru akan memperbaharui dan mengganti buku teks di sekolah setiap enam tahun sekali.

Musim pengadaan buku teks dimulai pada bulan April. Ada dua proses pengadaan buku teks di AS; adopsi formal buku teks dan pasar bebas. Yang diincar oleh penerbit adalah proses adopsi formal buku teks yang berlaku di 22 negara bagian, terutama Texas, California, dan Florida. Di kelompok negara bagian ini, buku teks yang akan digunakan oleh sekolah terlebih dahulu diuji kualitasnya oleh tim evaluasi yang dibentuk oleh pemerintah negara bagian. Hanya buku-buku yang telah lulus evaluasi yang akhirnya akan dibeli oleh pemerintah negara bagian. ”The Big Three” negara bagian Texas, California, dan Florida senantiasa selalu menjadi perhatian utama para penerbit. Ke tiga negara bagian ini mempunyai populasi siswa SD-SMA sekitar 13 juta, sedang 19 negara bagian lainnya hanya 12,7 juta siswa. Meskipun jumlah siswa di ketiga negara bagian ini berbeda-beda; California lebih dari 6 juta siswa, Texas lebih 4 juta siswa, dan Florida sekitar 3 juta siswa, tetapi anggaran pengadaan buku teks mereka hampir sama. Pada tahun anggaran 2003/04, sebagai contoh, ke tiga negara bagian ini membelanjakan $900 juta untuk bahan instruksional termasuk buku teks. Meski unit cost berbeda untuk pembelian barang yang hampir sama, masyarakat tidak ribut karena lelang dilaksanakan secara fair, kompetitif, dan terbuka, dan dilaksanakan oleh sebuah unit khusus pengadaan yang sangat profesional. Baca Terus!

It’s Time To Be Green

Posted in Articles in English, Moral dan Budaya, Pemikiran, Surat dari Amerika by guebukanmonyet on April 8th, 2008

Thanks to Al Gore and other environmentalists the concern of global warming is rapidly growing throughout the world, mostly in the West. In America, for example, people talk this issue every day. At bookstores people are reading books and magazines giving them instructions how to be green and be part of a global movement to save the earth.

As a response to public awareness, industries are helping their customers to become greener and greener. Supermarkets are stocking their shelves with organic and eco-friendly products. Whole Foods Market, the world’s leading retailer of natural and organic food, is growing fast by giving its customers a promise that the food they buy will help saving the earth.

Despite the fact that U.S. government is still unwilling to sign the Kyoto Protocol, every day new organic products are filling supermarkets’ stock lists in America. Now they have organic apple, organic bread, organic burgers, organic lipstick, and a bunch of other organic products.

Someone once told me that organic chicken tastes better than the regular chicken. I got confused and complained, “How could that be?” She explained that an organic chicken is fed only with organic grains, never given any antibiotics and hormones, and raised in a stress-free environment. Now I know that a happy chicken tastes better. I later added, “We have that kind of chicken in our country too, it’s called ayam kampung.” Keep Reading and Let’s Save the Earth!

Standardisasi dan Sertifikasi Guru

Posted in Pemikiran, Pendidikan, Surat dari Amerika by iskandar2358 on April 4th, 2008

“A Nation Prepared: Teachers for the 21st Century”

cover.jpgSetelah Laporan the President’s Commission on Excellence in Education, “A Nation At Risk: The Imperative for Education Reform” pada tahun 1983, gelombang reformasi pendidikan di AS terus bergulir. The Carnegie Task Force on Teaching as a Profession menerbitkan laporan “A Nation Prepared: Teachers for the 21st Century” pada 6 Mei, 1986. Intinya, laporan itu menekankan bahwa menghadapi abad mendatang perlu dikembangkan sebuah profesi yang bertanggungjawab merancang ulang sekolah dan mempersiapkan anak-anak untuk kehidupan yang akan datang. Task Force mengusulkan segera dikembangkan standardisasi dan sertifikasi profesi guru dan dibentuknya National Board for Professional Teaching Standards (NBPTS). Dengan dukungan penuh dari semua pihak, NBPTS akhirnya terbentuk pada tahun 1987.

NBPTS bukan organisasi pemerintah, bersifat non-profit, independen, nonpartisan, dan dikelola oleh dewan direktur yang berasal dari praktisi. Mayoritas yang duduk dalam dewan direktur adalah guru kelas. Misi NBPTS antara lain memelihara standar tinggi dan rigor tentang apa yang harus diketahui dan apa yang dapat dilakukan oleh guru, menawarkan sistem sertifikasi secara sukarela kepada guru yang memenuhi standar profesi, dan mengadvokasi reformasi pendidikan dengan mengintegrasikan National Board Certificate (NBC) dalam sistem pendidikan Amerika, serta mengoptimalkan peran guru yang telah mendapat sertifikat profesi.

Implementasi sertifikasi baru dimulai pada tahun 1992. Untuk pertama kali NBPTS menawarkan jasa sertifikasi hanya untuk dua bidang keahlian. Sejak saat itu, sistem sertifikasi NBC terus berkembang, melayani sekitar 2,5 juta orang guru, 14.000 school districts, ribuan sekolah swasta, 50 negara bagian dan 1.200 fakultas pendidikan. NBC dikembangkan oleh guru, dari guru, dan untuk guru sebagai simbol profesionalisme mengajar. Ditawarkan secara sukarela, dan berlaku selama 10 tahun. NBC merupakan komplemen, bukan menggantikan, lisensi mengajar yang dikeluarkan oleh negara bagian. NBC merupakan lanjutan dari lisensi dan sertifikasi negara bagian. Lisensi negara bagian, kabupaten (school district), atau yang dikembangkan pada tingkat sekolah pada intinya merupakan persyaratan minimal menjadi seorang guru.

Dalam lima tahun pertama, NBPTS konsentrasi pada riset untuk meletakkan dasar-dasar pengembangan standar profesi guru. Dasar pengembangan standar profesi guru adalah; ”Apa yang harus diketahui dan harus dapat dilakukan oleh guru?” Dari pertanyaan dasar itu dirumuskan lima proposisi. Dari lima proposisi di bawah ini lalu dikembangkan berbagai standar profesi guru untuk berbagai kelompok umur siswa dan berbagai disiplin ilmu. Baca Terus

Pedagang Kakilima Dan Informalitas Perkotaan

Posted in Pemikiran, Pendidikan, Surat dari Amerika, Tata Kota by Deden Rukmana on April 3rd, 2008

mie_ayam.jpgSeringkali kita jumpai masalah-masalah yang terkait dengan pedagang kakilima (PKL) di perkotaan Indonesia. Mereka berjualan di trotoar jalan, di taman-taman kota, di jembatan penyebrangan, bahkan di badan jalan. Pemerintah kota berulangkali menertibkan mereka yang ditengarai menjadi penyebab kemacetan lalu lintas ataupun merusak keindahan kota. Upaya penertiban ini kadangkala melalui bentrokan dan perlawanan fisik dari PKL. Bersama dengan komponen masyarakat lainnya, tidak jarang para PKL pun melakukan unjuk rasa. Pemerintah pun dihujatnya dan masalah PKL ini disebutkan sebagai bentuk kegagalan pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja untuk kaum miskin.

Benarkah fenomena PKL ini sebagai wujud kurangnya lapangan kerja bagi penduduk miskin? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya akan kemukakan konsep informalitas perkotaan (urban informality) sebagai kerangka pikir untuk memahami fenomena PKL yang terjadi di kawasan perkotaan.

Informalitas Perkotaan

Konsep informalitas perkotaan ini tidak terlepas dari dikotomi sektor formal dan sektor informal yang mulai dibicarakan pada awal tahun 1970-an. Fenomena sektor informal merupakan fenomena yang sangat umum terjadi di negara-negara berkembang. Persentase sektor informal di negara-negara Dunia Ketiga seperti di Amerika Latin, Sub-sahara Afrika, Timur Tengah dan Afrika Utara dan Asia Selatan berkisar antara 30-70 persen dari total tenaga kerja. Di Indonesia, menurut data Indikator Ketenagakerjaan dari Badan Pusat Statistik (BPS), November 2003, 64,4 persen penduduk bekerja di sektor informal. Di pedesaan, sektor informal didominasi oleh sektor pertanian (80,6 persen), sementara di perkotaan didominasi oleh sektor perdagangan (41,4 persen). Baca Terus

Berburu Menuju 100 Sekolah

ikon-terakhir.jpg
Pada tanggal 30 Juni 2008 nanti usia Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) akan genap setahun. Sebagai sebuah organisasi JBRB masih balita. Kalau untuk ukuran manusia, usia satu tahun belum ada apa-apanya. Ia masih merangkak dan selalu menangis. Begitu pula JBRB, masih muda dan belum banyak pengalaman. Tapi bukan berarti JBRB tidak boleh dan tidak bisa bermimpi.

Mimpi itu milik siapa saja.

Bagi sebagian orang mimpi itu lebih dari sekedar sebuah kata. Mimpi bagi mereka bukan saja sebuah nasehat dari orang tua tentang kehidupan. Mimpi bagi mereka adalah sebuah way of life atau jalan hidup. Bagi mereka mimpi itu bagaikan darah yang mengalir di sekujur tubuh dan membasahi setiap urat nadi. Mimpi adalah apa yang mereka pikirkan setiap detik dan setiap menit. Mimpi adalah nyawa.

Setelah berhasil menancapkan eksistensinya, JBRB akan mengejar mimpi-mimpi yang lebih besar di masa depan. Apabila di tahun pertama JBRB bermimpi untuk dapat diterima dengan baik oleh publik di Jakarta maka di tahun kedua nanti JBRB bermimpi untuk menggebrak publik Jakarta dengan dua kata: REVOLUSI BUDAYA!

Mimpi terjadinya sebuah Revolusi Budaya akan direalisasikan melalui program Berbudaya Itu Seru (Berburu) di 100 sekolah dasar di Jakarta dalam tiga tahun ke depan. Bukan satu, bukan dua, dan bukan juga tiga. Tapi 100 (SERATUS) sekolah.

Apabila generasi tua sudah lambat dan mulai keropos maka sudah saatnya generasi muda mengambil alih. Sudah saatnya yang muda dan yang bersemangat mengambil alih dan membentangkan layar selebar-lebarnya. Sudah saatnya kita berdiri tegak dan menatap ke depan! Mari kita melakukannya bukan melalui darah dan pemberontakan tapi melalui REVOLUSI BUDAYA.

JBRB akan menghitung mundur mulai hari ini hingga 30 Juni 2008: Mimpi menjalankan Berburu di 100 sekolah secara resmi berlaku. Sudah saatnya kita berhenti memaki dan mulai bermimpi!

Salam REVOLUSI BUDAYA,

Jakarta Butuh Revolusi Budaya
Team Washington, D.C.-Team Jakarta-Team Sydney
revolusibudaya@gmail.com
www.JakartaButuhRevolusiBudaya.com