Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

BLT, solusi miskin untuk rakyat miskin

Posted in Pemikiran, Surat dari Australia by Gilang on June 20th, 2008

antri BBM

Langkah pemerintah Indonesia dalam menaikan harga BBM dikarenakan tingginya harga minyak dunia melebihi APBN 2008 menimbulkan pro serta kontra di antara masyarakat. Beberapa pihak yang sejalan dengan pemikiran pemerintah menganggap langkah yang diambil sudah merupakan keputusan terbaik untuk saat ini, mengingat efek jangka panjang atas pemberian subsidi BBM akan memperkeruh kondisi perekonomian bangsa.

Namun tidak begitu dengan pihak yang menolak kenaikan BBM. Mereka menganggap seharusnya pemerintah bisa melihat kondisi rakyat yang terhimpit dengan kemiskinan yang akan semakin menderita atas dampak kenaikan BBM tersebut. Alhasil tak dapat dihindari berbagai aksi terjadi di dalam negeri. Mulai dari mahasiswa yang berdemo menolak kenaikan BBM, pengemudi angkutan umum yang mogok, hingga naiknya harga-harga kebutuhan pokok.

Demi meredam dampak kenaikan harga-harga tersebut, pemerintah mengeluarkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) secara bertahap. Kebijakan ini menurut saya adalah solusi yang miskin makna untuk rakyat miskin. Pembgia BLT sebagai pengalihan kenaian BBM dapat digambarkan bagaikan menuangkan air kedalam plastik yang bolong. Walaupun dapat dibilang uang sebesar Rp 300,000 sangat bermakna bagi rakyat miskin namun hal ini melupakan efek buruk yaitu terciptanya mental pengemis bagi masyarakat bangsa ini.

Mungkin pengalihan subsidi tersebut akan lebih bermakna dalam jangka panjang apabila secara deklamasi pemerintah menunjukan komitmennya dengan meningkatkan peluang usaha bagi rakyat miskin, diantaranya dengan pemberdayaan sumber daya dari kalangan menengah ke bawah. Hal ini harus didukung dengan menurunkan harga pada sektor-sektor strategis seperti biaya pendidikan disertai perangkat pendukungnya, meningkatkan kualitas transportasi publik, meningkatkan pemberadaan rumah murah bagi rakyat miskin yang tepat tujuan, dan keseriusan dalam mengembangkan produk dalam negeri demi mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan yang saat ini sudah terlupakan.

Sehingga bangsa ini lebih kaya solusi dalam mengambil keputusan.

Foto diambil dari sini.

Berburu Menuju 100 Sekolah

ikon-terakhir.jpg
Pada tanggal 30 Juni 2008 nanti usia Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) akan genap setahun. Sebagai sebuah organisasi JBRB masih balita. Kalau untuk ukuran manusia, usia satu tahun belum ada apa-apanya. Ia masih merangkak dan selalu menangis. Begitu pula JBRB, masih muda dan belum banyak pengalaman. Tapi bukan berarti JBRB tidak boleh dan tidak bisa bermimpi.

Mimpi itu milik siapa saja.

Bagi sebagian orang mimpi itu lebih dari sekedar sebuah kata. Mimpi bagi mereka bukan saja sebuah nasehat dari orang tua tentang kehidupan. Mimpi bagi mereka adalah sebuah way of life atau jalan hidup. Bagi mereka mimpi itu bagaikan darah yang mengalir di sekujur tubuh dan membasahi setiap urat nadi. Mimpi adalah apa yang mereka pikirkan setiap detik dan setiap menit. Mimpi adalah nyawa.

Setelah berhasil menancapkan eksistensinya, JBRB akan mengejar mimpi-mimpi yang lebih besar di masa depan. Apabila di tahun pertama JBRB bermimpi untuk dapat diterima dengan baik oleh publik di Jakarta maka di tahun kedua nanti JBRB bermimpi untuk menggebrak publik Jakarta dengan dua kata: REVOLUSI BUDAYA!

Mimpi terjadinya sebuah Revolusi Budaya akan direalisasikan melalui program Berbudaya Itu Seru (Berburu) di 100 sekolah dasar di Jakarta dalam tiga tahun ke depan. Bukan satu, bukan dua, dan bukan juga tiga. Tapi 100 (SERATUS) sekolah.

Apabila generasi tua sudah lambat dan mulai keropos maka sudah saatnya generasi muda mengambil alih. Sudah saatnya yang muda dan yang bersemangat mengambil alih dan membentangkan layar selebar-lebarnya. Sudah saatnya kita berdiri tegak dan menatap ke depan! Mari kita melakukannya bukan melalui darah dan pemberontakan tapi melalui REVOLUSI BUDAYA.

JBRB akan menghitung mundur mulai hari ini hingga 30 Juni 2008: Mimpi menjalankan Berburu di 100 sekolah secara resmi berlaku. Sudah saatnya kita berhenti memaki dan mulai bermimpi!

Salam REVOLUSI BUDAYA,

Jakarta Butuh Revolusi Budaya
Team Washington, D.C.-Team Jakarta-Team Sydney
revolusibudaya@gmail.com
www.JakartaButuhRevolusiBudaya.com

Tanpa Kompromi, Ini Harga Mati

Posted in Jakarta Punya Cerita, Moral dan Budaya, Pemikiran, Surat dari Australia by Gilang on November 20th, 2007

Kepadatan

Tiga ciri utama warga jakarta di masa mendatang: Yang pertama adalah suka mengalami sesak napas. Hal ini dikarenakan ruang gerak yang semakin terbatas sementara jumlah penduduk semakin meningkat. Hal ini secara statistik bisa dibuktikan dari penduduk Jakarta yang berjumlah sekitar 8,5 juta orang di malam hari dan 10 juta di siang hari pada tahun 2003. Jumlah tersebut mengalami peningkatan 41.18% hanya dalam dua tahun, hanya dalam dua tahun angka itu meningkat menjadi 12 juta jiwa (data Pemda DKI Jakarta) pada malam hari dan 15 juta jiwa pada siang hari, karena arus penduduk ditambah dari area BoDeTaBek. Bayangkan angka yang terjadi dalam kurun waktu 10 tahun kedepan, kurang lebih 95 juta jiwa penduduk. Langkah yang diperlukan untuk bisa mengatasi masalah ini adalah menciptakan peluang kerja dan pembangunan yang merata di kota-kota pendukung di luar Jakarta secara bertahap karena dengan demikian arus dan trans lintas penduduk bisa berkurang secara domisional, tanpa kompromi ini harga mati. Baca lanjutannya, karena Ini Harga Mati Bung!

Tagged with: ,

Tidak Ada Orang Miskin di Jakarta Tahun 2050

Posted in Pemikiran, Surat dari Australia by Gilang on September 30th, 2007

The Seemingly Impossible is Possible, optimisme itulah yang diucapkan berkali-kali oleh Hans Rosling, seorang peneliti dalam bidang kemiskinan dan perkembangan global, dalam presentasinya di TED bulan Maret lalu di Monterey California. Menggunakan software statistik yang sangat canggih Hans Rosling mengungkapkan bahwa data statistik yang dikeluarkan oleh PBB tentang peningkatan kualitas hidup di negara-negara dunia menunjukkan bahwa negara-negara berkembang di Asia dan Afrika mengalami peningkatan ekonomi yang cukup signifikan dalam beberapa puluh tahun terakhir sehingga beberapa mampu menyamai kesejahteraan negara-negara maju di Barat. Ia menyimpulkan berdasarkan data tersebut bahwa tidak akan ada lagi kemiskinan di dunia pada tahun 2050. (more…)