Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Ayo Kita Berubah

Posted in Jakarta Punya Cerita, Moral dan Budaya, Pemikiran, Surat dari Selong by Izmi on June 19th, 2008

beautiful view

Berapa banyak hal yang kita tahu tentang Jakarta? Sebuah kota yang telah melahirkan begitu banyak sejarah perdaban masa lalu. Kota yang telah melahirkan banyak seniman handal seperti Benyamin Suaeb dan pelukis hebat seperti Henk Ngantung dan Afandi. Kota yang sebenarnya begitu diharapkan untuk menjadi sebuah contoh bagi kota-kota lain.

Tapi, lihatlah apa yang ada pada pandangan mata kita saat ini. Yang ada adalah kota yang begitu terlihat semrawut, kotor, dan jorok. Daerah kumuh ada di setiap sisi kota. Satu kata yang dapat menggambarkan kondisi tersebut, menyedihkan.

Sangat berbeda jika membandingkan Jakarta dengan ibu kota negara lainnya. Dari tata kotanya, Jakarta hanya terlihat rapi di daerah-daerah pusat. Misalnya, kawasan Medan Merdeka Utara di Jakarta Pusat. Di sana berdiri Istana Negara dan Istana Merdeka di dalam satu komplek. Istana Merdeka berdiri menghadap ke arah Monas yang merupakan simbol kota Jakarta. Siapa yang tidak tahu Monas? Lihatlah kawasan tersebut ketika kita sedang melintas. Terlihat bersih dan rapi bukan? Baca Terus!

Education for Everyone

Posted in Articles in English, Moral dan Budaya, Pemikiran, Pendidikan, Surat dari Selong by noanggie on April 11th, 2008

For many of us, June and July were the most favorite months during our childhood. It was when we had a long holiday. Some of you went to your grandparents’ house, went abroad or out of town, joined a short course, or just stayed at home and enjoyed the holiday. We had so much pleasure buying new books, uniforms, shoes, bags, and other school needs to start another new education year.

That is a sweet memory we never forget. At that time, we did not know and never thought how much money that our parents spent for our school fees and other things we needed for school. As time goes by, we can now see the reality of life which is not always as easy as our childhood.

A period of education year has ended and the new education year will start soon. Ideally, this is the chance for all people to improve their knowledge. However, das sein and das sollen not identical for all times. In fact, many people could not have the benefit of this. Until now, a big number of Indonesian citizens are uneducated not only in remote areas but also in big cities like Jakarta and Bandung.

In 2003, 6.025.940 people in Central Java, more than 20 percent of total population, did not finish their primary school. In Banjar, Ciamis, West Java, in the year 2004, more than 50 percent only finished their primary school. This is the truth that we can’t deny and should be our concern.

There are a lot of reasons behind this problem. High cost of education becomes the main reason. Nowadays, there are programs of free school in some areas in Indonesia. In West Jakarta, a primary school already has this program. Some schools in Surabaya and other areas in Indonesia also have this program. Unfortunately, that’s not enough to fulfill the needs of education for all Indonesian citizens. Read the Full Article!

Ayo, Jakarta Butuh Revolusi Budaya

Posted in On The Headlines, Surat dari Selong by guebukanmonyet on April 2nd, 2008

tempo-koran.gifArtikel ini dimuat oleh Koran Tempo pada Sabtu, 22 Maret, 2008 dan ditulis oleh Muhammad Nur Rochmi.

tong2.jpgSudah enam bulan terakhir Arief Prasetyo menekuni bahasa Inggris. Dia, yang sebelumnya cuma paham thank you dan hello, kini telah menguasai sejumlah kata dalam bahasa asing itu. Si buyung 7 tahun itu sekarang fasih melantunkan lagu Brother John. “Saya suka belajar bahasa Inggris,” ujar siswa kelas II Sekolah Dasar Negeri Selong 01, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu.

Bersama puluhan teman sekolahnya, Arief menggeluti bahasa Inggris setiap akhir pekan. Mereka dibimbing sekelompok anak muda dari komunitas Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB), sebuah perkumpulan yang lahir karena keprihatinan atas kondisi Jakarta yang centang-perenang.

Komunitas ini bermula dari More Power Indonesia. Ini kelompok anak kampus dari berbagai daerah yang bertujuan saling menganjurkan kebiasaan positif, seperti tertib lalu lintas dan membuang sampah pada tempatnya. Namun, perkumpulan yang didirikan pada 2005 itu kurang berkembang. Hingga dua tahun setelah kelahirannya, kebiasaan positif yang mereka dengungkan tak bisa memberi pengaruh terhadap lingkungan sekitar. “Kami membaik, tapi lingkungan sekitar tak berubah,” kata Rusdi Indradewa, Ketua JBRB.

Pada 30 Juni 2007 mereka memutuskan mengubah More Power Indonesia menjadi Jakarta Butuh Revolusi Budaya. Tujuannya, memberikan kontribusi positif kepada lingkungan sekitar. “Prinsipnya, mulai dari kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang,” kata Rusdi. Baca Terus!

Berburu Menuju 100 Sekolah

ikon-terakhir.jpg
Pada tanggal 30 Juni 2008 nanti usia Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) akan genap setahun. Sebagai sebuah organisasi JBRB masih balita. Kalau untuk ukuran manusia, usia satu tahun belum ada apa-apanya. Ia masih merangkak dan selalu menangis. Begitu pula JBRB, masih muda dan belum banyak pengalaman. Tapi bukan berarti JBRB tidak boleh dan tidak bisa bermimpi.

Mimpi itu milik siapa saja.

Bagi sebagian orang mimpi itu lebih dari sekedar sebuah kata. Mimpi bagi mereka bukan saja sebuah nasehat dari orang tua tentang kehidupan. Mimpi bagi mereka adalah sebuah way of life atau jalan hidup. Bagi mereka mimpi itu bagaikan darah yang mengalir di sekujur tubuh dan membasahi setiap urat nadi. Mimpi adalah apa yang mereka pikirkan setiap detik dan setiap menit. Mimpi adalah nyawa.

Setelah berhasil menancapkan eksistensinya, JBRB akan mengejar mimpi-mimpi yang lebih besar di masa depan. Apabila di tahun pertama JBRB bermimpi untuk dapat diterima dengan baik oleh publik di Jakarta maka di tahun kedua nanti JBRB bermimpi untuk menggebrak publik Jakarta dengan dua kata: REVOLUSI BUDAYA!

Mimpi terjadinya sebuah Revolusi Budaya akan direalisasikan melalui program Berbudaya Itu Seru (Berburu) di 100 sekolah dasar di Jakarta dalam tiga tahun ke depan. Bukan satu, bukan dua, dan bukan juga tiga. Tapi 100 (SERATUS) sekolah.

Apabila generasi tua sudah lambat dan mulai keropos maka sudah saatnya generasi muda mengambil alih. Sudah saatnya yang muda dan yang bersemangat mengambil alih dan membentangkan layar selebar-lebarnya. Sudah saatnya kita berdiri tegak dan menatap ke depan! Mari kita melakukannya bukan melalui darah dan pemberontakan tapi melalui REVOLUSI BUDAYA.

JBRB akan menghitung mundur mulai hari ini hingga 30 Juni 2008: Mimpi menjalankan Berburu di 100 sekolah secara resmi berlaku. Sudah saatnya kita berhenti memaki dan mulai bermimpi!

Salam REVOLUSI BUDAYA,

Jakarta Butuh Revolusi Budaya
Team Washington, D.C.-Team Jakarta-Team Sydney
revolusibudaya@gmail.com
www.JakartaButuhRevolusiBudaya.com

Berbudaya Itu Seru!

Posted in Moral dan Budaya, Pendidikan, Surat dari Selong by guebukanmonyet on February 28th, 2008

sampah.jpgAndai saja semua orang di Jakarta tahu kalau berbudaya itu seru. Sudah pasti Jakarta akan menjadi sebuah kota yang begitu indah dan nyaman untuk ditinggali. Tidak ada lagi orang yang main serobot dan tidak ada lagi orang yang membuang sampah sembarangan. Semua orang saling menghargai, semua orang rajin membaca buku, dan mencintai budaya Indonesia. Mungkinkah?

Kenapa tidak? Coba datang ke SDN Selong 01 Kebayoran Baru setiap Sabtu pagi dan bukitkan bahwa berbudaya itu memang seru. Tidak saja seru tapi berbudaya ternyata sangat mudah dan menyenangkan. Nah, kalau para murid SD saja bisa berbudaya kenapa kita tidak bisa?

Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) baru saja meluncurkan sebuah program baru yang dinamakan Berbudaya Itu Seru atau Berburu. Program baru yang dirumuskan oleh tim JBRB di Washington, D.C. ini merupakan sebuah training singkat bagi para murid SD yang mengajarkan betapa pentingnya nilai-nilai budaya yang positif dan maju. JBRB percaya bahwa apabila nilai-nilai budaya yang positif dan maju diajarkan sedini mungkin kepada anak maka mereka akan tumbuh menjadi manusia yang berbudaya.

Tidak seperti program pendidikan lain yang justru membuat murid tertekan, Berburu merupakan sebuah program pendidikan alternatif yang penuh tawa dan canda. Setiap murid diwajibkan untuk belajar sembari bermain. Ada lima tema yang diberikan kepada para murid, yaitu: Berbudaya tertib, mencintai lingkungan, menghargai sesama, rajin membaca, dan mencintai budaya Indonesia. Dan setiap tema diberikan melalui diskusi, simulasi, nyanyian, dan pastinya permainan. Seru bukan?

Bukan para murid saja loch yang tertawa dan bermain sepanjang mengikuti Berburu tapi para kakak pengajar pun mendapatkan kesenangan yang sama. Para pengajar yang kebanyakan adalah anggota baru JBRB tampak begitu bersemangat dalam memberikan materi kepada para murid. Mereka selalu tertawa dan bermain bersama para murid sepanjang program Berburu yang pada Sabtu tanggal 23 Februari kemarin diluncurkan untuk pertama kalinya. Sekarang saja mereka sudah tidak sabar untuk menjalankan Berburu berikutnya.

Kedepannya, JBRB berharap Berburu dapat dijalankan di banyak sekolah di Jakarta agar pesan akan pentingnya berbudaya dapat semakin disebarluaskan. JBRB membuka kesempatan sebesar-besarnya bagi siapa saja yang ingin tergabung di dalam gerakan ini dan bersama-sama mewujudkan sebuah Revolusi Budaya bagi Jakarta dan Indonesia. Anda tertarik? Hubungi JBRB di 0856 92010666.

Salam Revolusi Budaya!

Lihat foto-foto Berburu di sini.

Kuncinya Ada di Pendidikan

Posted in Surat dari Selong by guebukanmonyet on February 18th, 2008

Republika menulis laporan mengenai JBRB pada edisi Sabtu, 16 Februari yang lalu. Sebelumnya, JBRB juga dimuat oleh Indo Pos dan sempat masuk di dalam tayangan VOA yang disiarkan oleh JakTV. Berikut adalah salah satu artikel yang ditulis oleh Republika tentang JBRB:

Kuncinya Ada di Pendidikan

Novi mulai tidak sabar. Perutnya sudah lapar. Setengah jam sudah siswi kelas lima SD Negeri 01 Pagi Selong itu menanti. Kakinya digoyang-goyangkan. Akhirnya dia bersuara juga. ”Kak, ayo Kak, mulai,” katanya seraya merengek.

Siang itu seharusnya Novi mendapat bimbingan belajar dari para kakak yang tergabung dalam Jakarta Butuh Revolusi Budaya. Sedianya pelajaran tambahan bahasa Inggris diberikan setiap pukul 12.30 WIB seusai pelajaran wajib berakhir di hari Sabtu. Meski pelajaran akhirnya baru mulai selepas pukul 13.00, Novi tidak keberatan. Dia dan beberapa teman lainnya cuma harus mengisi perut dulu dan menunaikan shalat Dzuhur.

Begitu tiga kakak perempuan memberikan bimbingan pelajaran bahasa Inggris, keresahan hilang. Semuanya sibuk menjawab pertanyaan. ”Umbrella,” jawab mereka serempak saat ditanya apa bahasa Inggris payung. Tidak mau kalah, mereka balik bertanya pada sang kakak. ”Kalau kepiting, itu tuh kayak di kartun Spongebob, bahasa Inggrisnya apa, Kak,” tanya salah satu murid. Yang lain menimpali, ”Kita gambar aja, Kak. Terus kita suruh sebut bahasa Inggrisnya bagian gambar itu apa.”

Jakarta Butuh Revolusi Budaya sudah enam bulan terakhir ini mengajarkan pelajaran tambahan bahasa Inggris kepada murid-murid SD Negeri 01 Pagi Selong, di Jl Senopati, Jakarta Selatan. Di aula sekolah yang terbuka seperti pendopo mereka meresap bahasa asing yang sehari-hari didengar di televisi. Kata demi kata meluncur dari bibir kecil sembari memandang bangunan tinggi yang terlihat di balik atap sekolah. Sebut saja mal teranyar Jakarta, One Pacific Place, sampai pusat perputaran uang Indonesia, gedung Bursa Efek.

Sekolah Novi cuma berjarak satu kilometer dari Sudirman Central Bussiness District. Sedang murid kelas lima di situ baru sebatas menghafalkan bahasa Inggris dari kata payung, kepiting, kupu-kupu. Ilmu yang sudah dikuasai murid TK swasta tak jauh dari SD Selong. Baca Terus!

Yang Muda Yang Berbudaya

Posted in Surat dari Selong by guebukanmonyet on February 18th, 2008

Republika menulis laporan mengenai JBRB pada edisi Sabtu, 16 Februari yang lalu. Sebelumnya, JBRB juga dimuat oleh Indo Pos dan sempat masuk di dalam tayangan VOA yang disiarkan oleh JakTV. Berikut adalah salah satu artikel yang ditulis oleh Republika tentang JBRB:

Yang Muda Yang Berbudaya

Banyak orang buang sampah sembarangan. Tak mau antre. Parkir mobil di trotoar. Menyerobot lampu merah. Sekelompok anak muda ingin membenahinya.

Seorang perempuan mengaduh. Kakinya terinjak. Punggungnya didorong dari belakang. Dia dipaksa masuk ke dalam bus Transjakarta. Sesampainya di dalam kendaraan besar itu penderitaannya belum berakhir. Tidak ada tempat duduk.

Terpaksalah ia berdiri. Dalam himpitan penumpang bus lain tubuhnya terdorong ke depan ke belakang. Pegangan tangannya hampir terlepas. Penumpang yang berdesak-desakan menopang tubuhnya hingga ia tidak sempat jatuh. ”Aduh ini mah brutalway, bukan busway ya,” keluhnya.

Padahal keberadaan bus Transjakarta yang memiliki jalur khusus (busway) adalah simbol kemodernan Jakarta. Tapi, perilaku penumpangnya ternyata belum memadai untuk ukuran masyarakat modern. Siapa saja yang pernah berjuang naik bus Transjakarta pada jam sibuk paham betapa kejamnya dunia menumpang bus dengan jalur khusus tersebut. Calon penumpang banyak berlomba masuk lebih dulu. Tak memakai aturan mendulukan penumpang keluar baru calon penumpang masuk bus.

Di sudut Jakarta lain, mata Dhany Ryandi membelalak. Pria berambut ikal itu tidak habis pikir bagaimana anak-anak sekolah dasar bisa sampai membuka situs khusus pria dewasa di internet. Dhany pun bangkit dari tempat duduknya. Tanpa pikir panjang ditegurnya anak-anak itu. ”Saya suruh mereka pulang,” kata dia. ”Bayangkan, anak SD udah bisa buka gambar porno di warnet,” ujarnya lagi.

Apa mau dikata. Zaman telah berubah. Bukan cuma anak yang makin rentan terpapar perilaku kurang baik. Anggota masyarakat yang lebih dewasa juga tidak kalah dalam hal terpengaruh budaya buruk. Maka, banyak orang emosi di jalan. Sama dengan bertambahnya tetangga yang tidak mengenal satu sama lain. Tindakan Dhany mungkin saja tidak berani dilakukan orang lain. Mereka bisa saja memilih menutup mata. Alasannya, ”Bukan urusan gue.” Baca Terus

Surat dari Selong

Posted in Moral dan Budaya, Pendidikan, Surat dari Selong by udiot on November 8th, 2007

sdselong.jpg

Perkenalkan, nama saya Rusdi Indradewa dan saya adalah Ketua komunitas Jakarta Butuh Revolusi Budaya.

Pada tanggal 27 Oktober 2007 yang lalu saya datang ke SDN Selong 01 Senopati Pagi Kebayoran Baru untuk bertemu dengan Kepala Sekolah Ibu Sri Subarni.

Selain membicarakan tentang kegiatan Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) saya berniat untuk melakukan silahturahmi dengan Beliau berhubung hari raya Idul Fitri baru saja berlalu. Saya mengemukakan satu kendala utama yang kami hadapi dalam menjalankan bimbingan belajar (bimbel) gratis, yaitu kurangnya jumlah tenaga pengajar.

Sebenarnya, JBRB sudah memiliki jumlah tenaga pengajar yang cukup namun sayangnya kebanyakan dari pengajar adalah mahasiswa yang sekarang sedang sibuk mengurus skripsi atau mengikuti praktek kerja lapangan sehingga saat ini JBRB mengalami sedikit kesulitan untuk menjalankan program bimbel tersebut. Selain masalah bimbel, saya juga melontarkan wacana Rumah Cerdas yang selama ini ada di pikiran para anggota JBRB.

Rumah Cerdas dimaksudkan untuk meningkatkan minat baca para murid SDN Selong 01 yang selama ini tidak memiliki perpustakaan untuk memperoleh ilmu tambahan di luar kelas. Saya menjelaskan kepada Ibu Sri bahwa bahwa Rumah Cerdas nantinya tidak dibangun atas bantuan JBRB atau pihak sekolah tapi melalui sumbangan swadaya para orang tua murid sehingga para murid memiliki sense of belonging yang tinggi.

Saya menutup pertemuan pada hari itu dengan memberi kabar bahwa tim JBRB di Amerika Serikat sedang menggodok sebuah program yang dinamakan “Berburu!” dan akan menjadikan SDN Selong 01 sebagai sekolah percobaan untuk program tersebut, seketika rona wajah Ibu Sri berseri-seri. Ibu Sri kemudian berjanji akan membicarakan hasil pertemuan tadi dengan para guru dan komite sekolah. Baca Surat Seluruhnya

Djokosantoso Moeljono: Bapak Revolusi Budaya Modern Indonesia

Posted in Moral dan Budaya, Pemikiran, Pendidikan, Surat dari Selong, Tokoh Kita by udiot on May 1st, 2007

Matang, tegas, dan bijaksana. Inilah kesan pertama saya ketika pertama kali bertemu dengannya. Beliau adalah Dr. Djokosantoso Moeljono, mantan Direktur Utama Bank BRI, yang mulai tahun 1993 menggantikan Iwan Prawiranata sampai dengan Agustus tahun 2000. Dengan berbagai pengalamannya menjabat sebagai komisaris, dirut, dewan pembina, dan dosen beliau berhasil mencurahkan pengalaman praktiknya ke dalam beberapa buku karangannya yang kesemuanya menekankan pada “Budaya.” (more…)