Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Kuncinya Ada di Pendidikan

Posted in Surat dari Selong by guebukanmonyet on February 18th, 2008

Republika menulis laporan mengenai JBRB pada edisi Sabtu, 16 Februari yang lalu. Sebelumnya, JBRB juga dimuat oleh Indo Pos dan sempat masuk di dalam tayangan VOA yang disiarkan oleh JakTV. Berikut adalah salah satu artikel yang ditulis oleh Republika tentang JBRB:

Kuncinya Ada di Pendidikan

Novi mulai tidak sabar. Perutnya sudah lapar. Setengah jam sudah siswi kelas lima SD Negeri 01 Pagi Selong itu menanti. Kakinya digoyang-goyangkan. Akhirnya dia bersuara juga. ”Kak, ayo Kak, mulai,” katanya seraya merengek.

Siang itu seharusnya Novi mendapat bimbingan belajar dari para kakak yang tergabung dalam Jakarta Butuh Revolusi Budaya. Sedianya pelajaran tambahan bahasa Inggris diberikan setiap pukul 12.30 WIB seusai pelajaran wajib berakhir di hari Sabtu. Meski pelajaran akhirnya baru mulai selepas pukul 13.00, Novi tidak keberatan. Dia dan beberapa teman lainnya cuma harus mengisi perut dulu dan menunaikan shalat Dzuhur.

Begitu tiga kakak perempuan memberikan bimbingan pelajaran bahasa Inggris, keresahan hilang. Semuanya sibuk menjawab pertanyaan. ”Umbrella,” jawab mereka serempak saat ditanya apa bahasa Inggris payung. Tidak mau kalah, mereka balik bertanya pada sang kakak. ”Kalau kepiting, itu tuh kayak di kartun Spongebob, bahasa Inggrisnya apa, Kak,” tanya salah satu murid. Yang lain menimpali, ”Kita gambar aja, Kak. Terus kita suruh sebut bahasa Inggrisnya bagian gambar itu apa.”

Jakarta Butuh Revolusi Budaya sudah enam bulan terakhir ini mengajarkan pelajaran tambahan bahasa Inggris kepada murid-murid SD Negeri 01 Pagi Selong, di Jl Senopati, Jakarta Selatan. Di aula sekolah yang terbuka seperti pendopo mereka meresap bahasa asing yang sehari-hari didengar di televisi. Kata demi kata meluncur dari bibir kecil sembari memandang bangunan tinggi yang terlihat di balik atap sekolah. Sebut saja mal teranyar Jakarta, One Pacific Place, sampai pusat perputaran uang Indonesia, gedung Bursa Efek.

Sekolah Novi cuma berjarak satu kilometer dari Sudirman Central Bussiness District. Sedang murid kelas lima di situ baru sebatas menghafalkan bahasa Inggris dari kata payung, kepiting, kupu-kupu. Ilmu yang sudah dikuasai murid TK swasta tak jauh dari SD Selong. Baca Terus!

Yang Muda Yang Berbudaya

Posted in Surat dari Selong by guebukanmonyet on February 18th, 2008

Republika menulis laporan mengenai JBRB pada edisi Sabtu, 16 Februari yang lalu. Sebelumnya, JBRB juga dimuat oleh Indo Pos dan sempat masuk di dalam tayangan VOA yang disiarkan oleh JakTV. Berikut adalah salah satu artikel yang ditulis oleh Republika tentang JBRB:

Yang Muda Yang Berbudaya

Banyak orang buang sampah sembarangan. Tak mau antre. Parkir mobil di trotoar. Menyerobot lampu merah. Sekelompok anak muda ingin membenahinya.

Seorang perempuan mengaduh. Kakinya terinjak. Punggungnya didorong dari belakang. Dia dipaksa masuk ke dalam bus Transjakarta. Sesampainya di dalam kendaraan besar itu penderitaannya belum berakhir. Tidak ada tempat duduk.

Terpaksalah ia berdiri. Dalam himpitan penumpang bus lain tubuhnya terdorong ke depan ke belakang. Pegangan tangannya hampir terlepas. Penumpang yang berdesak-desakan menopang tubuhnya hingga ia tidak sempat jatuh. ”Aduh ini mah brutalway, bukan busway ya,” keluhnya.

Padahal keberadaan bus Transjakarta yang memiliki jalur khusus (busway) adalah simbol kemodernan Jakarta. Tapi, perilaku penumpangnya ternyata belum memadai untuk ukuran masyarakat modern. Siapa saja yang pernah berjuang naik bus Transjakarta pada jam sibuk paham betapa kejamnya dunia menumpang bus dengan jalur khusus tersebut. Calon penumpang banyak berlomba masuk lebih dulu. Tak memakai aturan mendulukan penumpang keluar baru calon penumpang masuk bus.

Di sudut Jakarta lain, mata Dhany Ryandi membelalak. Pria berambut ikal itu tidak habis pikir bagaimana anak-anak sekolah dasar bisa sampai membuka situs khusus pria dewasa di internet. Dhany pun bangkit dari tempat duduknya. Tanpa pikir panjang ditegurnya anak-anak itu. ”Saya suruh mereka pulang,” kata dia. ”Bayangkan, anak SD udah bisa buka gambar porno di warnet,” ujarnya lagi.

Apa mau dikata. Zaman telah berubah. Bukan cuma anak yang makin rentan terpapar perilaku kurang baik. Anggota masyarakat yang lebih dewasa juga tidak kalah dalam hal terpengaruh budaya buruk. Maka, banyak orang emosi di jalan. Sama dengan bertambahnya tetangga yang tidak mengenal satu sama lain. Tindakan Dhany mungkin saja tidak berani dilakukan orang lain. Mereka bisa saja memilih menutup mata. Alasannya, ”Bukan urusan gue.” Baca Terus

Banjir Lagi Banjir Lagi

Posted in Jakarta Punya Cerita, Moral dan Budaya, Opini Publik, Surat dari Hongaria by sherwintobing on February 6th, 2008

Prahara itu datang lagi. Hujan deras yang mengguyur kota Jakarta dan sekitarnya mulai dari 31 Januari 2008 sampai 1 Januari 2008 kembali menyebabkan bencana banjir yang praktis melumpuhkan segala aktivitas di ibu kota Indonesia ini. Penduduk setempat hanya bisa menghela napas melihat air yang menggenangi rumah mereka, jalan-jalan besar, hingga bandara internasional Soekarno Hatta. Air dengan cepat menggenangi beberapa jalanan utama ibukota, mulai dari MH Thamrin, Sudirman, RE Martadinata, DI Panjaitan hingga Gatot Subroto. Lalu lintas ibu kota mati total. Pohon-pohon bertumbangan, lampu lalu lintas pun mati dengan “manisnya.” Kemacetan yang sebenarnya sudah merupakan santapan sehari-hari warga Jakarta semakin menjadi-jadi di saat banjir seperti ini. Bus TransJakarta yang diharapkan sebagai alternatif demi menghindari kemacetan pun tidak bisa beroperasi. Kebanyakan dari bus-bus ini harus berhenti di depan terminal Sarinah dan mengakibatkan TransJakarta menderita kerugian ratusan juta rupiah. Sementara kereta api sebagai alternatif terakhir pun tidak bisa digunakan karena relnya sendiri sudah tertutup air.

Penduduk di daerah yang langganan banjir seperti kawasan Petamburan, Kelapa Gading, dan Kampung Melayu pun mengeluarkan keluh kesah mereka lewat radio dan televisi karena merasa Pemprov DKI lambat dalam melakukan usaha penyelamatan warga yang rumahnya terendam banjir dan pendistribusian makanan ke korban-korban banjir. Keadaan diperparah dengan dimatikannya 999 gardu listrik secara sengaja oleh PLN demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dan hal ini berujung pada kerugian milyaran rupiah bagi PLN. Sebagai bonus untuk melengkapi paket kombo ini, daerah penopang Jakarta, seperti Bekasi, Depok, dan Tangerang pun turut terendam banjir.

Daerah yang paling parah terendam adalah jalan tol menuju bandara Soekarno Hatta, dimana air mencapat ketinggian lebih dari satu meter. Jalan tol pun ditutup, banyak sekali penumpang yang bahkan harus menginap di mobilnya karena mobil mereka tidak mampu lagi melaju ke arah bandara maupun untuk memutar balik. Kondisi di bandara Soekarno Hatta sendiri setali tiga uang, lapangan lepas landas pun terendam air, jarak pandang sangat minim, sehingga 233 penerbangan domestik maupun internasional dibatalkan yang berujung pada penumpukan calon penumpang yang marah di terminal-terminal bandara. Baca Terus!

Asyik, Jakarta Banjir Lagi!

Posted in Jakarta Punya Cerita, Pemikiran, Surat dari Amerika by guebukanmonyet on February 5th, 2008

bajaj23.jpgSungguh apes nasib masyarakat Jakarta. Setiap hujan turun hati mereka tidak pernah tenang. Mereka memikirkan nasib rumah dan kendaraan mereka, mereka memikirkan bagaimana anak-anak mereka dapat pulang dari sekolah, dan mereka memikirkan bagaimana caranya dapat pulang tepat waktu padahal lalu lintas pasti akan sangat macet di saat hujan turun. Sungguh apes nasib masyarakat Jakarta. Hujan yang seharusnya menjadi sebuah hiburan gratis dari Tuhan justru menjadi momok yang amat menakutkan bagi mereka. Setiap hujan turun, hati mereka menjadi gelisah tidak karuan. Sungguh menyedihkan. Kondisi ini sungguh ironis karena di berbagai tempat lain di dunia hujan justru menjadi simbol romantisme dan waktunya bermesra-mesraan. Sementara hujan di Jakarta, justru dicaci dan dimaki.

Sungguh apes nasib masyarakat Jakarta. Mereka tidak punya kekuatan untuk melawan Pemerintah DKI Jakarta dan berteriak, “Kami sudah bosan dengan banjir.” Yang ada, masyarakat Jakarta hanya bisa diam dan termenung menatapi rumahnya terendam air. Mereka hanya bisa tersenyum kecut menyaksikan hasil kerja keras mereka selama bertahun-tahun harus rusak dan tidak tersisa akibat kekuatan alam yang tidak terbendung. Raut wajah mereka yang selama ini jarang ceria karena harus melawan kerasnya kehidupan di Jakarta untuk sekian kalinya harus muram dan sedih sambil menatap kosong ke depan. Memang sungguh berat untuk bisa menjadi bagian dari masyarakat Jakarta, rasanya satu nyawa saja tidak pernah cukup. Baca Terus!

Perubahan Lanskap Bisnis (2): Pendidikan dan Bahasa Inggris

Posted in Obrolan Santai, Pemikiran, Surat dari Amerika by ian on January 10th, 2008

Sebenarnya saya masih ingin membahas Korean Pop industry sebagai lanjutan posting Perubahan Lanskap Bisnis (1): Kpop. Tapi kebetulan saya mendapati sebuah video dokumenter yang menarik tentang fenomena lain namun masih seputar Negeri Ginseng. Kali ini berkaitan dengan pendidikan, kasus khususnya bidang bahasa Inggris.

Dengan kasat mata pun kita bisa melihat bahwa Korea telah mencpai tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi. Kok bisa, ya?

Happy New Fear 2008!

Posted in Obrolan Santai, Surat dari Amerika by ian on December 21st, 2007

Happy New Year Fear 2008!

Dalam 10 hari 45 menit satu angka terakhir tahun di pojok kanan bawah layar komputer kita akan berubah dari “7″ menjadi “8.” Ya, tidak terasa sudah berganti tahun lagi. Wooo, tapi tunggu dulu, apa memang benar tidak terasa? Kalau sampai tidak terasa berarti tahun 2007 ini sia-sia, donk?

Dan semakin saya meneruskan tulisan ini, hitungan mundurnya semakin kecil, dari tepatnya 10 hari 45 menit mungkin sekarang tinggal 10 hari 41 menit.

Anyway, mungkin banyak dari kita yang akan mempersiapkan Resolusi 2008. Semoga harapan teraih dan impian jadi kenyataan, tapi jangan lupa usahanya!
Buat saya, masih sebagai sekuel dari tahun- tahun sebelumnya, satu tema di tahun ini: Apa itu?

I Wish This was Jakarta

Posted in Obrolan Santai, Surat dari Amerika by guebukanmonyet on December 19th, 2007

baltimore1.jpg

Last week I had the chance to visit Baltimore with a friend. I hadn’t been there since last summer and the memory of the beautiful harbor and the old buildings had been haunting my mind for months and I just couldn’t wait to go there again. This time I decided to spend my time not at the harbor but instead I chose to explore another part of the downtown which was just a few blocks away from the harbor where they have antique stores and old restaurants. My one-and-a-half-hour drive was so worth it.

When my friend and I finally arrived it was raining pretty hard and the weather was very cold. When I got off the car, my fingers started to shake as I could feel the freezing weather struck my very deepest bones. I quickly wear my gloves so that my fingers could feel a little bit warmer. Do you have the same wish?

Perubahan Lanskap Bisnis (1): Kpop

Posted in Obrolan Santai, Pemikiran, Surat dari Amerika by ian on December 7th, 2007

Peringatan: Posting cukup panjang

Jaman sekarang hampir semua hal sudah diharapkan untuk dapat diintegrasikan satu sama lain. Alat komunikasi bukan lagi telpon engkol milik Bung Karno dulu. Bukan juga sebatas handphone Nokia 3310. Everything is beyond imagination. Sebuah handphone sekarang sudah dilengkapi kemampuan seperti sebuah digital camera, MP3 player, digital organizer, bahkan semakin mendekati sebuah portable computer. Lanskap bisnisnya telah berubah dari hanya bisnis alat komunikasi menjadi bisnis perangkat elektronik pribadi terintegrasi. Tapi bukan itu yang ingin saya sentuh di posting ini, melainkan bisnis hiburan.

Ya, bisnis hiburan dan tepatnya Korean showbiz industry. (more…)

Cepat Bilang “I Love You” kepada Orang Tua Anda

Posted in Moral dan Budaya, Obrolan Santai, Surat dari Hongaria by sherwintobing on November 26th, 2007

bebek23.jpgArtikel ini sedikit berkaitan dengan membahagiakan orang tua. Sebagai manusia yang normal tentu orang tua kita ingin memiliki kebahagiaan dan indahnya perasaan dicintai. Fokus pembahasan sengaja ditujukan ke orang tua karena beberapa hal tertentu yang akan dibahas di bagian akhir artikel ini. Lantas, apa yang dimaksud dengan membahagiakan orang tua? Apa pula pentingnya membahagiakan orang tua?

Kita dapat membagi cara membahagiakan orang tua menjadi dua cara:

1. Melalui Tindakan Konkrit

Membahagiakan orang tua tidak semata-mata berarti kita harus membelikan mereka hadiah atau semacamnya. Kita bisa memulai dengan hal-hal sederhana seperti berprestasi di sekolah atau universitas yang jelas akan membuat mereka merasa bangga, memberikan perhatian lebih, menunjukkan sikap hormat, mendoakan mereka, dan sebagainya. Say, I Love You

Sindrom Orang Beken

Posted in Moral dan Budaya by udiot on November 23rd, 2007

cek-ricek.jpgBeberapa minggu belakangan saya sibuk berkelana dan men-charge jiwa saya sehingga tidak dapat mengikuti perkembangan dan berita gosip yang biasanya hampir setiap pagi selalu saya tonton. Kalau tidak mengikuti gosip tentang selebritis Indonesia bisa dibilang gak keren dan kurang beken.

Ketika saya kembali menonton gosip pagi, saya melihat berita tentang Maia Ahmad yang membuat pernyataan menghebohkan: Suaminya Ahmad Dhani dituduh telah melakukan eksploitasi anak. Mendengar tuduhan sang istri, Dhani kebakaran jenggot dan balik menuduh kalau Maia telah memfitnah dirinya dan ini merupakan penghinaan besar bagi dirinya. Menanggapi berita tersebut, seorang teman saya dengan santai hanya berkata, “Biasalah, ini sindrom orang beken.” “Apaan tuh bro, gue gak paham,” tanya saya. “Masa lu gak paham ama yang begituan?” Jawabnya.

Menurut teman saya, sindrom orang beken adalah sesuatu yang lagi happening. Semua orang berusaha tampil untuk menjadi beken dan menjadi banci kamera, membuat berita jika tidak ada berita dan menjemput wartawan ketika tidak ada wartawan. Sindrom ini telah merusak banyak orang, bukan saja yang menjadi subjek sindrom tetapi si objek sindrom juga bisa terkena efeknya. Tidak hanya orang dewasa, anak kecil pun telah terjangkit sindrom orang beken ini. Menurut teman saya, ada berbagai urutan sikap manusia dan hubungannya dengan sindrom orang beken: Baca Terus!